Monthly Archives: April 2012

Icip-icip Yang Bikin Bangkrut

Suasana bali yang kental akan budayanya, membuat investor asing berlomba-lomba membangun hotel-hotel mewah disana-sini, begitupun juga tempat makan yang romantis, pastinyaa berlimpah ruah disini. Kemarin pun saya mencoba beberapa tempat yang lumayan bikin dompet shock. Biasanya harga segitu, dompet rela ngeluarin jumlah rupiah untuk makan 2 minggu, eh ini untuk sekejap mata saja :p . Tapi, bagi saya, that was all worth it. And priceless. Beside, gak tiap hari juga kesana, mungkin setahun sekali? Atau mungkin cukup sekali yang penting gak penasaran hehe..

The Happening Potato Head

Happening habesss tempat ini. Entah dibangun kapan di Bali, yang jelas setiap ada yang ke Bali, pasti check in 4sq or path or instagram or facebook, pastii ada si Potato Head ini. Ada apa gerangan? Let’s try!

Saya sengaja, memilih ke tempat ini pada saat sebelum sunset. Pukul 17.00 saya masih mencari-cari letak resto ini di daerah Seminyak, tepatnya Jl. Petitanget, sampai akhirnya pukul 17.30 baru sampai di Potato Head. Terdapat juga tulisan Lilin. Ternyata ada dua resto di tempat ini dengan satu management. Bangunannya tentu sangat khas, dengan jendela-jendela tua yang usang membentuk bangunan bundar.

Dsc_0411_resize
Dsc_0420_resize
Dsc_0430_resize

Memasuki resto tersebut, bener aja kan, karena lagi hits banget tempatnya, ramenya ajaipp… pun waiting list nya panjaang..terlebih lagi waktu itu malam minggu. Jreng! Tapi saya sukaaa suasananya, seperti fine dining yang santai dan music trance masa kini yang tidak hingar bingar. Masih bisa beromantis ria dengan suasana pinggir pantai. Banyak bule-bule yang berenang di swimming pool atau ngejogrok aja gitu di rumput, sambil menikmati sunset dan beer. Beberapa saya lihat pasangan bule, asyik berdansa santai hingga sunset habis. So, romantic! *tatap kokoh -_-

Dsc_0422_resize
Dsc_0429_resiz3
Dsc_0431_resize

Ada tiga bagian pada Potato Head. Pertama, tempat makan di sebelah kanan pintu masuk, seperti layaknya restoran biasa. Kedua, sofa panjang dengan pemandangan pantai dan taman. Ketiga, sofa-sofa paling depan (paling terdekat dengan pemandangan pantai) sejajar dengan kolam renang. Untuk sofa paling depan dengan pemandangan paling ciamik, tentu saja dikenakan minimum pembelian. Saya tidak tanya jumlah pastinya waktu itu, mungkin sekitar 500.000 ya. Untuk tempat makan seperti restoran biasa, waiting listnya naudjubillah.. jadilah, yang paling cocok dengan saya, adalah sofa panjang yang per table mungkin hanya cukup dua orang. Perfecto! Tapii… ini tipe-tipe standing bar di Social House, alias siapa cepat dia dapat. Berjiwa pengalaman rebutan bus dengan ibu-ibu lainnya dan rebutan taksi dengan mba-mba sangar, saya yakin waktu itu pasti dapet duduk di sofa panjang, meski banyak saingan :p

Dsc_0443_resize
Dsc_0445
Dsc_0475_resize
Dsc_0477_resize

Tak lama, akhirnya dapeet juga duduk di sofa panjang. Bisa napas lega dan kemudian napas sesek lagi liat harga di menu hahahaha. Makan deh tu romantisme.. anyway, saya tidak merasa rugi, karena sungguh suka suasananya 🙂 . Kebanyakan yang duduk di sofa panjang, hanya pesan snack dan minuman. Saya pun memutuskan pesan minuman dan French fries. Fyi, buat yang niat kesana tapi deg-degan soal harga, ini sedikit aja gambaran sepengetahuan saya.. Iced coffe sekitar 50 ribu, French friesh 60 ribu, aneka mocktail 110 ribuan plus subcjet to tax sekitar 20%. Selamat menikmati surga dunia teman ^ ^

Ayana Rock Bar.

Kalau Rock Bar ini ya, saya sudah dengar namanya dari beberapa tahun lalu. Penasaran kenapa sebegitu sering disebut-sebut.. yang sudah bisa ditebak, yah pasti resto mahal di pinggir laut, dengan porsi seiprit harga selangit. Tapi mumpung deh, mumpung dibayarin maksudnya 😀 .  

Dsc_0169_resize
Dsc_0176_resize
Dsc_0184_resize

Berbeda denga Potato Head, Rock Bar adalah bagian dari Ayana Resort & Spa yang berada di pesisir Pantai Krisik, Jimbaran. Lumayan masuk ke pelosok Jimbaran untuk mencapai Ayana Resort ini, tapi saya percaya, yang susah di raih akan worth it waktu didapat :P. Untuk mencapai Ayana Resort, ambil jalan menuju arah jimbaran dan membutuhkan waktu 30 – 45 menit dari Kuta. Walaupun milik Ayana Resort, Rock Bar bisa dinikmati siapa saja, tidak hanya bagi wisatawan yang menginap di Ayana saja, tetapi siapa saja boleh bebas menikmati Rock Bar dan tidak ada harga tiket masuk.

Dsc_0187_resize
Dsc_0190_resize
Dsc_0192

Untuk menapai Rock Bar yang berada di sisi tebing, Ayana Resort menyediakan Inclinator. Saya kesana hari Jumat waktu sunset, terus kaget liat pengunjung yang antri. Rock Bar baru dibuka pukul 16.00 s/d jam 01.00. Pengunjung sudah ramai antri dengan tertib di pintu masuk depan inclinator. Sambil mengantri, sesekali saya motret sunset yang mulai menyapa. Jadi gak sabar untuk dinner cantik di bawah hehe.. ngantrinya mau tau berapa lama? Satu jam. Deg! Di jalur antrian, ada dua jalur, jalur umum dan jalur khusus tamu yang menginap. Jadi, tamu yang menginap akan didahulukan. Tapi jangan khawatir, perbandingan yang menginap di Ayana dengan wisatawan yang tidak menginap, tentu lebih banyak yang tidak menginap, jadi saya jabanin dengan sabar. Lagipula.. bisa menikmati pemandangan dari atas yang ciamik kok.

Dsc_0193
Dsc_0194_resize

Walau tidak ada harga tiket masuk, namun pengunjung diharuskan memesan makanan dan minuman. Akhirnya sampailah saya di Rock Bar. Duduk-duduk manis, menikmati sunset yang lama-lama menghilang digantikan malam (ini kok jadi puitis gini). Tempatnya emang unyuu dan suasananya lebih agak formal dan sunyi dibandingkan Potato Head, mungkin karena terbatasnya tempat duduk di sana. Tempat makan dibedakan untuk pengunjung biasa dan pengunjung yang menginap di Ayana. Tetapi, tidak ada perbedaan yang mencolok. Sepanjang pengetahuan saya, semua tempat di Rock Bar mempunyai view bagus dan romantis #cewekmelankolis. Jauh-jauh ke Rock Bar, saya pesan…. Pisang Goreng! Hahaha.. seharga 50ribu sepiring, yang isinya cuma enam potong atau harga setara dengan sepiring sushi sashimi #ngok. Tapi, tak apaaa, pisang goreng nya nikmeeehh, ala barat gitu dilengkapi dengan fla manis dan side dish gratis nya adalah….: keripik singkong hahaha… well, this is funny in a romantic ways.. minumannya pun pilih non alcohol dan non juice yang seharga 100rban (rata-rata), kenapa non juice? Karena harga juice nya: 135ribu.. ya gusti.. buahnya ngambil dari Zimbabwe kayanya, sampe lebay mahalnya.., Begitulah kira-kira yang dapat saya laporkan hehe.. but it’s worth to try, once in a lifetime, biar gak penasaran..

Dsc_0197_resize

 

Ah tapi, pengen lagi santai-santai di situ *gigit dompet*

Another Little Heaven – Klapa Resort

Karena pesawat kembali ke Jakarta di re-time oleh AA menjadi pukul 00.05, saya memilih menghabiskan Sunset di hari ketiga dengan berenang-berenang santai di Klapa Resort yang terletak di Pecatu Indah Resort, Dreamland. Lain hal nya dengan Rock Bar dan Potato Head, Klapa resto nampaknya sudah lebih senior dibanding dua resto tersebut.

Dsc_0632_resize
Dsc_0649_resize

Untuk bisa berenang di Klapa , kita diharuskan membayar 100 ribu per orang, lalu akan diberikan voucher senilai 100 ribu, dan bisa kita tukar dengan minuman dan makanan di Klapa. Fair banget ya? Jadi gak mahal juga toh? Dibandingin dua resto yang sudah saya ulas di atas, 100 ribu cuma dapet minuman aja, itu pun plus plus plus tax hehe

Sebelum duduk-duduk santai, saya sempat turun ke pantai, yaitu Dreamland. Ternyata di bawah Klapa percis tempatnya. Duh, Dreamland ini ya, banyak banget alay nya, macam abg-abg dan mas-mas gitu.. rammeee bener.. jadi harus jalan agak jauh ke ujung untuk dapet tempat yang sepi. Saya gak lama disini, karena emang maunya nikmatin sunset di swimming pool. Sejepret-dua jepret cukup, langsung naik ke atas lagi, dan harus nglewatin lagi alay-alay yang rame nian ituh –__–

Photo_4
Photo_5
Photo_6
Photo_7

Saya betah banget di Klapa. Walaupun sore itu hari minggu, tidak terlalu ramai. Kolam renang pun sepi. Saya duduk-duduk santai di infinity swimming pool dengan pemandangan sunset begitu dekat. This is heaven. Me likey so much!

Dsc_0634_resize

Ohiya, kekurangannya adalah, kamar ganti/tempat bilas di Klapa termasuk kategori kurang bersih untuk kelas resto seperti Klapa. Ditambah turis-turis jepang tuh jorok banget ya, pada muntah di lantai, iuuh.. satu yang paling bikin takjub adalah, si turis-turis jepang wanita, cuek banget jalan-jalan naked di depan saya, padahal keluar dari tempat locker itu, masih bisa dilihat sama orang-orang yang mau masuk (termasuk pria yang akan menuju ke kamar ganti pria).. idiihh sedekah badan ya buat yang kebagian liat naked 😀   

The Yummy Bubbagump Shrimp

Icip-icip kuliner selanjutnya adalah Bubbagump Shrimp yang terletak di Jl. Kartika Plaza. Resto franchise amerika ini menunya serba udang dengan mengambil konsep dekorasi restonya adalah bergaya Amerika dari film Forrest Gump. Lucu deh.. menu serba udangnya mantap.. harganya juga mantaap mahal kalau buat saya 😀

Dsc_0696

Di setiap meja ada sebuah ember berisi saos sambal. Saos tomat dan tissue. Sewaktu saya datang, pelayan bertanya, apakah saya sudah pernah makan disini sebelumnya. Setelah saya jawab belum, pelayan menjelaskan cara memesan. Unik juga, jadi di meja ada seperti 2 label (plat), plat biru bertuliskan Run Forrest Run, yang berguna untuk memanggil pelayan (untuk order sesuatu atau meminta bantuan lain), sedangkan plat merah bertuliskan Stop Forrest Stop untuk mengembalikan ke keadaan tidak membutuhkan bantuan pelayan. Jadi kalau mau order, tampilkan yang biru, sesudahnya balikkan kembali ke plat merah. Hehehe..

Dsc_0710_resize

Sewaktu saya makan disana, ada beberapa customer berulang tahun, aduh jangan sampe ulang tahun disitu, ya malu kali, dinyanyiin seluruh pelayan lengkap dengan bunyi kentongan, mukul-mukul ember kaleng, sambil nyanyi-nyanyi + tepuk tangan dan gak lupa tiup lilin on a small cake.. kalau bule sih, kayanya seneng-seneng aja hihih

Dsc_0702_resize

Saya pecinta udang. Jadi, ngiler bangett liat menu-menu di Bubbagump Shrimp. Bingung mau pesen yang mana dan bingung mau pilih yang mana yang gak terlalu mahal. Akhirnya saya memutuskan pesan platters saja yang bisa buat bareng-bareng. Platters yang saya pesan berisi empat jenis makannan, satay bake shrimp, chilli shrimp, ball shrimp, sama sejenis tempura. Disajikan di kerucut-kerucut, kirain ya, satu kerucut itu isinya penuh udang-udangan, ternyata satu kerucut paling isi 6 udang, bawahnya sayur-sayuran aja.. hhahaha bisa aja deh, menu tersebut dikenakan 250ribu #ngook.

Seperti biasa, porsi memang minim tapi memang lezatoooooo banget bumbu udangnya. Berniat ikut nyoba? 🙂

Advertisements
Categories: Bali | Tags: | Leave a comment

Green Bowl Beach. Truly Paradise

Last day, jadi labil antara Green Bowl Beach sama Karma Kandara. Dua-duanya, sama-sama nurunin ratusan anak tangga. Dua-duanya (konon) bagus seperti surga. Dua-duanya, letaknya berdekatan dan searah. Nom nom nom.. atas berbagai pertimbangan, pilihan jatuh kepada Green Bowl Beach. Nama yang unik katanya dulu karena ada perusahaan bernama PT.Green Bowl disekitar pantai itu, ada juga yang bilang karena jika dilihat dari atas bukit dan air sedang surut, karang-karang yang terlihat seperti mangkuk-mangkuk berwarna hijau. Beberapa sumber juga mengatakan pantai ini sering kali disebut Hidden Beach atau Bali Cliff. Hidden Beach karena pantainya tersembunyi dibalik tebing tinggi, sementara sebutan Bali Cliff karena ada hotel bernama Bali Cliff yang terletak tepat di atas tebing-tebing sekitar pantai ini. Namun, nama Green Bowl Beach ternyata lebih popular di kalangan turis.

Dsc_0534_resize
Dsc_0479_resize

Pantai ini terletak di Kuta Selatan, kabupaten Badung, Bali. Apabila menggunakan kendaraan pribadi, langsung saja menambil arah ke Pura Uluwatu, hingga ketemu perempatan yang menuju Pura Uluwatu dan Dreamland, ambil ke arah kiri (arah Bali Cliff Hotel), ikuti jalan sampai habis, sampai ketemu pelataran parkir Green Bowl Beach. Pada saat masuk parkir, hanya dikenakan biaya parkir saja kok.

Dsc_0492_resize
Dsc_0484_resize
Photo_1
Photo_2
Photo_3

Dari pelataran parkir, akhirnya bisa melihat keindahan Green Bowl Beach dari atas, dan.. sepi!! Hanya terdapat beberapa bule-bule yang sibuk dengan papan luncurnya. Lalu saya mulai gundah, melihat anak-anak tangga yang harus saya turuni.. huhuhu… I think it’s more than 250 anak tangga.. bukan mikirin turunnyaa, tapi naik nya emang jadi pe-er banget! Tapi pas sampai bawah, semua dibayar tunai oleh pantai nya. Baguuuss banget. Dan sepi. Mungkin saat itu cuma ada beberapa orang, tidak lebih dari 10 orang. Saya pun kemudian sibuk jepret-jepret, tanpa ribet mikirin pengunjung lain. Sisanya, hanya leha-leha nonton peselancar bergelut ombak. Pasirnya putih, tapi sayang.. saya tidak bisa bermain-main air, karena saat itu bibir pantai penuh karang-karang kecil. Mungkin seharusnya, saya agak jalan dikit untuk menemukan spot lain yang bisa buat main air. Karena sempet lihat juga beberapa pengunjung bermain air dan sebagian belajar surfing ama bule. Tapi saat itu, sudah malas cari tempat lain, karena sudah terlanjur betah hehe..

Dsc_0530_resize
Dsc_0521_resize

Di Green Bowl Beach ini terdapat juga Gua-Gua. Waktu itu saya Cuma ketemu Gua dekat saya menaruh tas-tas. Sayang gak ketemu Gua yang katanya banyak terdapat kelelawar dan bau.

Susah sekali rasanya meninggalkan tempat ini, karena…

Kudu naek tangga boooooookk!!! T_T *pelancong gak mau susye . Yah katanya Karma Kandara juga turun tangga, gapapa deh.. tetep dimasukin next destination kalau ke Bali lagi.

Tips:

  • Setelah turun dari tangga, segera cari spot yang bibir pantainya bisa untuk bermain air (cari yang tidak terlalu banyak karang-karang kecil
  • Bawa minum dan makan yaa.. kalau mau lama bermalas-malasan di bawah. Karena di bawah (pantai) tidak ada penjual sama sekali, kecuali di pelataran parkir. Hati-hati menuruni tangga. Sehabis hujan, beberapa anak tangga (walaupun sudah semen) licin dan cukup curam.  
Categories: Bali | Tags: | Leave a comment

The Museum and Camel Safari

Sepertinya, panggilan ndeso traveler ini cocok banget ya buat saya. Bagaimana tidak, di saat orang-orang bosen ke Bali (yea, at least kebanyakan teman saya begitu), saya seneng gak ketulungan. Ini kali ketiga saya ke Bali. Pertama kali, waktu dinas, dan waktu itu, boro-boro icip-icip ke pantai, Kuta doang yang rame nya kaya cendol..percaya atau tidak, ke GWK aja, sayah belomaan dooong T_T . Kedua kali, bareng temen-temen kampus, yang mana… 15 orang! Nah coba, menyamakan pendapat 15 orang waktu traveling, itu susah cuy! Rarempong lah pokoknya, jadi tujuan wisata yang saya kunjungi waktu itu yah, ikut suara terbanyak, Alhamdulillah udah sampe Bedugul *bangga 😀

Ke Bali kemarin pun akhirnya saya pergi tanpa itinerary pasti. Go show ajah. Mana yang duluan yang mau didatengin. Bangun pagi sebangunnya, gak ngotot pengen liat sunrise. Kesana kemari sesempatnya. And it was fun!

Dengan muka zombie karena flight jam 06.00, saya santai menuju Pasar Sukowati, kebetulan pasar ini searah dengan Museum Antonio Blanco, tujuan saya berikutnya. Memang gak bisa tahan belanja T_T . Beli ini-itu disana, karena sengaja bawa baju dikit aja, emang niat beli aja disini hihi.. kalau yang suka beli dress-dress pantai bahan kain yang murah-murah, beli disini aja.. karena dengan model dan bahan yang sama, kalau di pinggiran toko jl. Legian, harganya bisa dua kali lipat. (catat: dress dengan bahan murah)

Museum Antonio Blanco

Setelah mampir ke Pasar Sukowati, saya langsung cusss ke Museum Antonio Blanco. Kenapa kesitu? Ya penasaran aja. Saya penikmat fotografi, tapi tidak dengan lukisan, jadi biasa aja. Tapi karena penasaran juga sama karya-karya beliau seperti apa dan mengapa sebegitu terkenalnya beliau, jadi saya putuskan untuk menyempatkan datang. Terus, pengen foto-foto juga disitu #modus. Museum ini terletak di atas bukit di daerah Ubud, tepatnya di Gianyar. Kira-kira 1-1.5 jam dari Bandara I Gusti Ngurah Rai. Sampai di sana, saya langsung terkesima sama Gate Museum. Entahlah, sepertinya seperti kembali ke masa lampau dan saya langsung bisa merasakan jiwa seni empunya Museum ini. Untuk masuk Museum , dikenakan 30.000 (hari biasa) atau 40.000 (weekend), dengan harga tiket masuk tersebut, kita akan dapat welcome drink dan welcome flower :p .

Dsc_0089

Masuk ke halaman Museum, sungguh sejuuk! Me likey. Taman tertata rapi dan asri. Di lokasi bersebelahan dengan gedung Museum, ada rumah Mario Blanco (anak dari Antonio Blanco). Langsung mupeng pengeen punya rumah di tengah-tengah kebun rindang seperti ini. Masih di bagian taman, terdapat air mancur di tengah-tengah dan banyak burung-burung Kakak Tua atau sejenis macaw yang jinak dan pintar-pintar. Waktu itu saya diberitahu oleh salah satu penunggu Museum, kalau salah satu burung tersebut bernama Nancy, the biggest one (kirain, namanya Nancy, terus imut-imut gitu ukurannya). Bisa juga foto-foto sama burung-burung tersebut, sekaligus 6 ekor kalau kuat boleeeh, mereka jinak dan menyenangkan. Penunggu Muesum pun ramah-ramah, mereka dengan senang hati menyambut kita dan membantu kita kalau kita mau berfoto-foto sama burung-burung tersebut. I wanna house like this one! Huhuhu..

Memasuki bangunan utama (bangunan Museum), kita akan melewati tangga, dengan ukiran kiri-kanan. Sesampainya di dalam, bangunan tersebut suasana sangat sejuk, terdiri dari dua lantai dan terdapat suara musik opera klasik yang menenangkan. Pernah ke Spa? Nah mirip gitu deh suasananya, bikin pengen gelar tiker trus bobo karena ademnya hehe.. Akhirnya saya mengerti kenapa beliau terkenal, lukisannya memang indah. Beliau pengagum wanita,, kebanyakan (hampir keseluruhan) lukisan beliau memperlihatkan bentuk tubuh wanita, bertelanjang dada. Tapi bagi saya, tidak terkesan seperti pornografi. Pada salah satu sudut Museum, saya menemukan artikel yang beliau tulis berjudul Bali-A-Breast. Jadi semakin penasaran sama sejarah opa Antonio ini. Di Bagian sisi kiri Museum, terdapat pura milik pribadi tempat mereka bersembahyang.

Sungguh teduh dan sejuk museum ini, sangat pantas dijadikan salah satu objek wisata yang menarik di Bali.

Ride with me, Camel Safari!

Yasallaam.. bener aja kan, naek onta beneran hahaha.. *toyor diri sendiri . Hari kedua, bangun kesiangan. Baru bangun jam 10 aja dong! Padahal, udah booking camel safari jam 10.30.. akhirnya pasrah dan saya tetap santai. To be frank. Baru kali ini saya liburan bangun jam 10.00, biasanya jam 08.00 udah rapi jali siap ngebolang lagi.. dan ternyata, bangun siang kala liburan, damn. It feels good. So relax (mencari pembenaran).

Camel Safari ini terletak di Pantai Geger, Nusa Dua. Hihi.. sampai menuju kesana pun, saya tidak tahu pasti letak Camel Safari ini, ada yang bilang di Pantai Geger, ada yang bilang di Beach Front Hotel Nikko. Saya gak berusaha menghubungi lagi agent Camel Safari tersbut. Toh, udah telah banget ini, Dalam perjalanan, saya sempat menemukan beberapa agent travel tour lain lalu menyempatkan mampir, sekedar tanya-tanya, masih available atau tidak. And voila! Saya masih berjodoh naik onta hari itu dan bisa saat itu juga. Harga yang saya dapat 250ribu untuk satu jam atau 150ribu untuk setengah jam.

Dsc_0204
Dsc_0238

Informasi aja buat temen-temen, kalau booking camel safari via tlp, biasanya mereka menawarkan jam-jam yang available di saat-saat tertentu aja, seperti jam 09.00, 11.00, 14.00 dan terakhir jam 15.30 . Kalau mau waktu-waktu di luar itu, silahkan gambling datang ke kantor agent camel safari yang letaknya di sebelah kiri jalan (arah Hotel nikko), kira-kira 1 km sebelum Hotel Nikko. Saya rencana mau camel safari satu jam, di sore hari. Tapi apa daya, waktu saya kesana, waktu menunjukkan pukul 12.30.. hoosaaahh! Panas boi! Banget. Sangat. Langit cerah biru ceria ternyata senang dan setuju melihat saya naik onta :). Akhirnya, saya memutuskan untuk setengah jam saja. Insyaallah barokah dan memuaskan #apeu. Ternyata letak camel safari di Beach Front Hotel Nikko. Sesampai di hotel pun saya diantar guide dari travel tersebut dan Bapak inilah yang menemani saya sampai selesai. Masuk ke area Hotel Nikko, sungguh takjub deh. Disini ya tinggal orang-orang berduit.. no wonder hehe. Lobby nya ada di lantai 15. Jadi dari lantai 15, pemandangan ke bawah sungguh memanjakan mata. See the picture I took. Breathless. Garis bibir pantai yang membatasi pasir putih dan biru turquoise. Sekumpulan bulat-bulat dan oval biru itu ternyata swimming pool yang memenuhi pelataran halaman lantai 1 Hotel Nikko. Sungguh megah nan menawan. Maklumi saja ndeso ini ya.. sungguh bangga bisa liat pemandangan itu, padahal nginep disitu juga enggak. Hahaha.. laluu, beach nya Hotel Nikko, makjleb bagusnya.. *yaiyalaahh

Saya pun melanjutkan ke tempat camel safari. Ternyata naik onta ya sama aja kaya naik gajah hihi.. ngeri-ngeri gimana gitu sih pas si onta naik.. si pemandu, memandu onta-onta jalan di pesisir pantai. Bener-bener mirip padang pasir kalau cuacanya gini deh.. bedanya ada biru-birunya aja. Ternyata sering juga ada yang pre-wed dengan onta ini, kata si pemandu, kalau untuk pre-wedd, onta yang dipakai berbeda. Mereka menyediakan onta yang lebih ‘jinak’ (mau di atur-atur). Harga prewed pun berbeda, berkisar 550ribu per jam. Yang mau pre-wed pake ontaa.. mana suaranyaaaa….

Dsc_0262_resize
Dsc_0388

Camel safari pun selesai. Makasih Bapak pemandu dan mas-mas yang rela panas-panasan nemenin saya naik onta 🙂 .

Tips:

  • Mending naik camel nya pagi/ sore, tidak terlalu panas
  •  Bawa topi jangan lupaa..soalnya pake topi dari sana, umm.. agak bau-bau terasi gitu gaa… kkkkk :p
  • Cari harga paling murah (kalau masih sempat browse di internet, jangan lupa minta harga yang sudah include pajak, service + asuransi)

Categories: Bali | Tags: | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.

Jalan Sendiri ke Jepang

Sekali-sekali jalan gak pakai Tour - freedom adventures

tindak tanduk arsitek

Indri Juwono's thinking words. Architecture is not just building, it's about rural, urban, and herself. Universe.

Anila Tavisha

Ambivert creature who loves to postpone her stories

dininulis

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Ahmad & HR.Thabrani)

alfsukatmo.wordpress.com/

A place where my soul rest

Wee Line

There's always an open door for them who wanna try

Esti Murdiastuti

Melihat dunia, merenung, intropeksi maka engkau akan menemukan Tuhan-mu

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Penyukajalanjalan

Jelajahi dunia selagi bisa

santistory

.:santiari sanctuary:.