Hellow Hongkong!

Sebagai traveler ndeso bin kere, pergi liburan keluar negeri bukanlah suatu aktivitas yang dadakan. Hunting tiket dari setahun sebelumnya dan menabung baru bisa jalan. Tahun lalu entah lagi mikirin apa, kenapa pilihan bisa jatuh ke Hongkong ya? To be frank, saya gak begitu kepengen ke Hongkong. Apa yang bisa dilihat selain pusat perbelanjaan dan megapolitannya itu? Culture? Saya udah pernah ke china yang budaya tradisionalnya lebih kental dibanding Hongkong. Belanja murah? Ah di Jakarta juga sering Sale. Tapi, Ya nasip, travel mate saya yang cowo-cowo itu pada gila belanja. Jadilah kami memutuskan ke Hongkong. Dengan alasan: Disana banyak peralatan kamera dan airsoft gun yang lebih murah dari pada di Jakarta -__- dan pertimbangan lain waktu itu, karena di Hongkong ada rumah kerabat travel mate saya, jadi niat numpang gituh hehe.

Tapi, kemanapun tujuannya, liburan tentu (pasti) menyenangkan. Jadi euphoria waktu merangcang itinerary sebelum berangkat, tetep ada malah cenderung lebay. Saban hariii kerjanya baca-baca tentang hongkong dan semakin baca-baca bukannya dapet pencerahan, malah dapat penggalauan. Ya gimana enggak, referensi tempat belanja nya itu booook, banyak bener!! List-to-buy pun sepanjang coki-coki. Jadi inget waktu itu pacar bilang “aduh list belanjaan sampe satu kertas folio penuh, jadi bingung” saya mikir, halah mana mungkin, gimana bawanya semua belanjaan kalo bagasi cuma dijatah 15kg? Di hari H, dia beneran ngeluarin kertas folio, eh beneran aja dooong, selembar penuh!! #duaarrr duh koh, emak-emak banget sih kamuh! Dan, saat itu, sudah tau nasip dompet saya setelah pulang dari Hongkong.

Nasip fakir cuti berimbas pada liburan yang singkat, jadi hanya begini itinerarynya:

Day 1 : Ngong Ping 360 – Giant Budha, Madame Tusauds, The Peak

Day 2 : Macau + Hongkong (Avenue of the Stars – Symphony of The Light)

Day 3 : Shopping day    

Saya sampai di Hongkong pukul 20.30 (satu jam lebih cepat dari Jakarta). Bandara Internasional Hongkong bagus dan (tentunya) canggih, mungkin karena letaknya di pinggir laut. Cuaca malam itu, gerah-gerah sejuk. Beruntung tidak hujan, karena bekal bacaan saya, Hongkong di bulan Mei adalah masa peralihan ke summer yang hujan terus. Saat itu, saya langsung menuju Stasiun Bus dan sebelumnya membeli Octopus Card terlebih dahulu, pertama kali isi dikenakan HKD 100 + HKD 50 (untuk deposit) dan bisa refund kok. Octopus card ini, sama kaya Ez Link card yang dipakai buat naik MRT di Singapore. Di HK mirip-mirip juga lah, bisa buat naik MTR (di HK disebut MTR, bukan MRT, padahal sama aja) dan bus.

Img_2734

Bus yang membawa saya ke TST, No.A21

Saya mau menuju Tsim Tsa Tsui, (TST atau di baca Chim Sa Choi), tempat saya menginap di HK. Daerah rame nih ceritanya, macam Wangfujing Street di Beijing 😛 , jadi gak sabar! Dari Stasiun Bus di HK International Airport, saya naik Bus No. A21 yang menuju TST, harga 33 HKD, gesek pake Octopus Card. Waktu perjalanan more or less 30 sampai 45 menit gak pake macet (ya emang Jakarta, di Bandara aja macet). Naik bus ke TST bawa koper? Emang gak ribet? Sekali lagi, ini bukan Jakarta hehe, dimana orang pasti ribet bawa-bawa koper naik Bus. Di HK sih nyaman banget. Bus nya pun lebih bagus dari Bus Damri. Perjalanan menuju TST malam itupun saya disuguhkan gedung-gedung bertingkat di pingir lautan. Ah, seperti miniature New York! *kaya udh pernah aja mba

Sesampainya di TST, tepatnya di Nathan Road saya disambut gerimis halus, suasana masih ramai, toko-toko kamera, hostels, hotel, outlet-outlet baju berderet sepanjang jalan. Tanpa jeda. Muda-mudi bertampang Wonder Girls lalu lalang dengan rok mini, high heels, baju tipis dan stelan ala korea-japan. Welcome to Hongkong!

Advertisements
Categories: China, Hongkong | Tags: , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Jalan Sendiri ke Jepang

Sekali-sekali jalan gak pakai Tour - freedom adventures

tindak tanduk arsitek

Indri Juwono's thinking words. Architecture is not just building, it's about rural, urban, and herself. Universe.

Anila Tavisha

Ambivert creature who loves to postpone her stories

dininulis

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Ahmad & HR.Thabrani)

alfsukatmo.wordpress.com/

A place where my soul rest

Wee Line

There's always an open door for them who wanna try

Esti Murdiastuti

Melihat dunia, merenung, intropeksi maka engkau akan menemukan Tuhan-mu

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Penyukajalanjalan

Jelajahi dunia selagi bisa

santistory

.:santiari sanctuary:.

%d bloggers like this: