Monthly Archives: October 2012

Laguna Segara Anakan

Tadinya, gak begitu terlalu kepengen ke Sempu. Memang sih, diliat dari foto-foto hasil mbah google bagus-bagus.. tapii baca catper orang juga bagus-bagus capeknya. Sebagai traveler agak manja, berpikir keras mau ke Sempu atau engga? Kalo banyak pantai bagus yang bisa di dapat dengan mudah, kenapa harus susah-susah? *termangu* Tapi, saya dan teman-teman sepakat untuk ke Sempu. Hari Sabtu itu pun cuaca cerah ceria sentosa. Langit memberikan warna biru terbaiknya. Ah, tetiba saya jadi gak sabar ke Sempu dan trekking ke Laguna Segara Anakan. You know, who can resist the combination of clear blue sky and beach?

Untuk menuju Pulau Sempu, saya harus mencapai pantai Sendang Biru yang jaraknya dari kota Malang kurang lebih 3 jam (dengan gaya supir si Bapak santai ala penganten jawa baru pulang resepsi hehe). Sukaaa banget pemandangan menuju ke Sendang Biru karena letaknya ada di belakang bukit, jadi saya harus melewati pegunungan terlebih dahulu. Perjalanan menuju Sendang Biru, sejuk!

Saya sampai di Sendang Biru pukul 10.00 siang. Wow, di luar rencana, rencananya jam 09.30 paling tidak, sudah harus nyebrang ke Sempu. Saya cuma bisa berdoa, semoga dilancarkan trekking nya dan bisa kembali dari hutan sebelum jam 4 sore, karena kalo lewat dari jam itu, konon gelap dan harus bawa senter, hiiiii… . Terlihat oh-kamu-lebay-sekali-ini-cuma-treking-sejam-bukan-treking-ke-semeru ya? πŸ˜€ *salim dgn seluruh anak gunung*

Pantai Sendang Biru

Yuk! Menuju Sempu

Sampai di Sendang Biru, sudah banyak perahu-perahu untuk menyebrang ke Sempu. Info yang saya pegang, PP ke Sempu IDR 100.000 dan harus lapor ke Perhutani dengan biaya sukarela sekitar IDR 25.000an + biara Guide seharga IDR 100.000 (kalau untuk yang baru pertama kali ke Sempu). Alih-alih nyari kantor Perhutani, saya malah nyamperin segerombolan muda-mudi yang roman-roman nya mau ke Sempu juga. Dan.. horeee! bener mereka mau ke Sempu dan ke Laguna Segara Anakan juga. Hasil dari merujuk dan merayu, akhirnya rombongan saya sebanyak 4 orang diperbolehkan join. Jadi, saya hanya bayar perahu IDR 50.000 PP sempu dan mengeliminasi biaya guide dan perhutani. Ternyata mereka sudah sering sekali trekking ke Segara Anakan untuk mancing, sekedar bakar-bakar ikan untuk makan siang, atau berkemah.

Mendarat di Sempu

Ditingggalkan untuk dijemput kembali πŸ˜›

Siap Trekking!! fufufufuh..

15 menit pertama, muke masih happih! πŸ˜€

Dari Sendang Biru menuju sempu hanya menghabiskan sekitar 15 menit. Saya mulai trekking jam 10.30. Penyiksaan pun di mulai. 15 menit pertama terasa mudah, karena masih biasa aja medan nya. Lalu 45 menit kemudian sungguh penyiksaan T_T . Ini baru hutan rada berbukit looh, bukan gunung, gimana yang pada naik gunung yaaa? Medan trekking ke Laguna Segara Anakan ini, kadang datar, kadang naik-naik dengan selingan manjat akar-akar pohon atau masuk ke kolong akar pohon yang besar-besar. Rombongan yang kami ikuti terlihat semangat sekali karena sudah terbiasa. Sesekali dari mereka berhenti sebentar untuk minum dan ada juga yang terlihat ngos-ngosan :p . Saya? Ngos-ngosan polll.. lengkap dengan keringet mengucur ala mba-mba spg car wash. Pilihannya jalan terus atau berhenti dan nyasar di tengah hutan tropis mini ini. Damn! -_-

10 menit terakhir bener-bener penyiksaan. Sandal saya putus. saya ngedumel kepada akar dan pohon. Lalu pohon itu pun sekaan berbicara ” lah kamu lagian mbak nya, trekking tuh pake sendal gunung dong bukan sendal pantai..” *ngikik. Sebenernya emang gak punya sendal gunung dan males beli karena takutnya kepake cuma jarang-jarang aja. Dengan keyakinan sendal yang saya pake akan putus saya sudah siap dengan sendal cadangan hehe.

Akhirnya Laguna Segara Anakan pun mulai terlihat sedikit demi sedikit. Warna turquoise nya mengintip dari balik-balik pohon. Semakin mendekati, jalur trekking semakin menyempit dan gak jelas. Jalan tinggal setapak dan mengandalkan pegangan dengan akar-akar pohon T_T. Di jalan yang setapak itu, sempet-sempetnya muda-mudi duduk-duduk sambil minum bir sambil menatap laguna. Ada juga yang duduk duduk di tengah batang pohon yang menjuntai ke bibir pantai. Jadi kalo jatuh ya langsung ke Laguna. Sungguh asyik untuk mereka yang bernyali besar.

Keliataan laguna nya!! yayyy

Bermalam mingguan dengan ber-camping ria

Dan, penyiksaan itu pun terbayar lunas! Sah! Sah! eh, ini bukan lagi akad nikah yaa #heyaahh

Heaven!

Malu-malu ceritanya mau nyilem..

Berendam ^ ^

Di satu sisi lainnya dari Laguna

Laguna di tengah hutan tropis yang akhirnya menampakkan dirinya. Landai nya jauuuh.. sampai ke tengah masih cetek. Di bibir pantai banyak muda-mudi yang berkemah. Lengkap dengan settingan bakar-bakar ikan. Ah pengen! Tapi nanti pup nya dimana? sampah makanannya buang nya dimana? Mandi dimanaa? Nanti ada binatang buas yang turun dari hutan gaa? *mulai melebar lebay nya.

Saya langsung makan siang dengan lahap di bawah pohon di bibir pantai. Sungguh nikmat luar biasa dengan pemandangan Laguna yang cantik yang airnya memantulkan kilauan sinar matahari. Ya karena ga biasa trekking, jadi berasa kaya abis trekking selama 10 jam non stop hehe.. makan juga jadi lahap kaya abis bawa becak keliling jogja. Selanjutnya tentu saja sesi foto di berbagai tempat dan berbagai gaya. Saya juga mencoba naik lagi ke atas untuk mendapatkan view pantai, ternyata Laguna Segara Anakan ini langsung berbatasan dengan Samudra Hindia sejauh mata memandang. Lengkap dengan deburan ombak yang menyapa karang dengan liarnya. Indah!

Buih Ombaknya

View yang memanjakan mata πŸ™‚

Samudra

Meski surga dunia, kalo disuruh ke Segara Anakan lagi, agak mikir juga ya. Kecuali kalo nanti ada jasa gendong hahahahahh!

Categories: Malang | Tags: | Leave a comment

Bromo I’m in Love

Maap kalo judulnya 4L4Y, tapi…

Finally. Ke Bromo kitaaaaaaah!

Kemarin kan saya udah share itinerary ya? hahahaha boro-boro kesampean semua. Bener-bener cuma ke Bromo sama Sempu doang. Tapi enak, jadinya gak terlalu keburu-buru ngejar targetΒ  harus kesini dan kesitu.

Saya tiba di Malang jam 12 siang, janjian sama si Bapak supir sewaan di Bandara dan langsung menuju kawasan Cemoro Lawang, tempat saya menginap. Sebenernya bisa-bisa aja naik angkot dari Probolinggo, tapi.. eng.. mikir-mikir lagi, takut kecapean di jalan, karena besok kan harus manjat tebing liat sunrise lhoo *lebay + agak manja

Malang – Cemoro Lawang menghabiskan waktu sekitar 3 jam (jalan santai, udah pake berhenti untuk makan + solat) melalui Pasuruan. Eh jangan lupa untuk berhenti makan Rawon Nguling yang terkenal itu ya, rasanya mantappp, dagingnya besar-besar, kalo di Jakarta sih, paling dagingnya seruas jari aja -_-

Desa Cemoro Lawang ini sejuk banget di sore hari, ya iyalah yaa wong di Gunung :P, sempet kepikiran, mungkin lagu “naik-naik di puncak gunung..” mungkin diciptain disini, kiri-kanan banyak pohon cemara, jalanannya naik-turun, ladang kecil, penduduk desa yang duduk-duduk di pinggir rumahnya menikmati kopi dan kabut yang bersahut-sahutan #eaaa tapi ini seriuusss, so peaceful!

Saya menginap di Cemara Indah, sebuah penginapan dengan view langsung Gunung Batok. Yay!!!! Keluar kamar langsung liat gunung.. this is my first experience nginep dengan pemandangan depannya gunung, i mean, bener-bener gunung di depan mata. Mungkin gara-gara lokasi ini penginapannya bagi saya cukup mahal. Dengan fasilitas seadanya harga dikenakan IDR 450.000/malam (standard room). Over all, cukup bersih lah.. dan yang paling penting ada air panas πŸ˜€

Img_3084

Depan Penginapan

11

Standard Room nya kak..

Img_3089

Sit and relax

10

Waiting for Sunset

Karena waktu sudah pukul 4 sore, saya gak sempet sewa motor untuk main-main di pasir berbisik, jadi santai-santai aja sambil foto-foto dan nungguin sunset. Bedanya turis lokal dan turis asing, turis lokal asik foto-foto dengan peralatan kamera seabrek-abrek, turis asing santai-santai di bibir tebing sambil minum kopi/tea dan gak ketinggalan buku Lonely Planet di genggaman. πŸ™‚

Sunset pun tiba.. saya dan teman-teman pun berburu (berburu foto siluet masing-masing) hahaha.. sampe yah diketawain bule. Ya mungkin mereka bingung, turis macam apa kita ini, bukannya foto-foto sunset – gunung, malah ganti-gantian saling motret gak lupa dengan gaya-gaya yang norak *sungkeman sama bule

1

Me Love it!

2

Can u see the beautiful ray of light?

3

dan gurat senja itu..

Hari semakin malam, semakin dingin juga.. untung persiapan perang udah siap. Jaket tebel, sarung tangan, kaos kaki, celana panjang gak lupa masker buat ke Bromo subuh-subuh + topi. Pas baru sampe penginapan, banyak sih yang nawarin jaket buat di sewa (dari penginapan), saya yakin ini salah satu cara untuk penghasilan tambahan si hotel hehe.. soalnya mereka bilang “kalau sewater saja ndak mempan mba, karena dinginnya 0 derajat sampai minus 2..” . Dalam hati saya: gak tau aja ni mas-mas, kalo saya bawanya coat winter buat ke luar negeri hahaha.. eh ini bukannya sombong, justru harusnya kasian sama saya, karena udah beli-beli coat tapi belum kesampean winter di Turki, jadinya dipake ke Bromo ajaa duluuu πŸ˜€ . Jadi, jangan takut kalau lupa bawa jaket super tebal or topi kupluk, bisa sewa disana kok πŸ™‚

Seperempat malam saya habiskan dengan duduk-duduk di pinggir tebing sembari menikmati teh tawar hangat, pisang goreng dan nanas goreng. Sesekali saya nguping turis india yang bercerita tentang keindahan Tari Tamayana di candi Prambanan kepada turis thailand dengan antusiasnya *Sejenak bangga menjadi WNI πŸ˜€ .Β  Pukul 9 malam, mulai berdatangan rombongan fotografer entah darimana, kabarnya di spot tempat saya menginap ini bisa melihat Milky Way atau Kabut Galaksi yang dikenal dengan Bima Sakti. Wow… pernah si saya lihat foto nya di google, Milky Way di Bromo. Sayangnya, kalau mau melihat Milky Way harus jam 12 – 2 malam, dimana langit sedang cerah-cerahnya.. haduh.. jam segitu sih udah ileran. Next time aja kali ya, aminnn.Tanpa melihat Milky Way pun saya sudah girang, karena langit penuh banget sama bintang.. gak heran nanti jam 12 malam akan penuh taburan bintang, jam 10 aja sudah semarak sekali di langit. Ini gak bakalan ada di Jakarta, boro-boro penuh bintang.. yang ada ketutupan asap knalpot πŸ˜›

Dan, yang ditungu-tunggu pun tiba. Dengan mata penuh belek dan iler bekerak, saya bangun jam 3 pagi demi.. demii lihat sunrise + nanjak pula hiks! Jam 4 sudah siap ketemuan sama pak supir jeep yang sudah saya booking dari Jakarta. Supir Jeep nya asyiik, namanya Bapak Egi, masih muda dan (untungnya) cocok sama saya dan temen-temen yang narsis. Gak pernah cape motoin saya dan temen-temen (ini yang terpenting dari semuanya), dan.. ini yang lebih keren, kalau saya dan temen lagi asyik foto-foto, beliau pun asyik MOTO-MOTOIN KITA DENGAN CANDID! oh inaaang.. semoga masuk surga ya Pak πŸ™‚ . Mau CP pak Egi, japri aja ke saya yah, waktu itu deal harga IDR 500.000 untuk ke Kawah, Pananjakan, Pasir Berbisik dan Savana, kalo pada kuat nawar monggo.. Sekedar tambahan info, untuk 2 tujuan (kawah + pananjakan) biasanya harga yang diberikan sekitar 275.000 s/d 375.000, selamat menawar!

Okay, coat siap. Topi kupluk,… No!. Bahwasannya Topi Kupluk itu merusak poni, sekian. *kedinginan biarin deeeh drpd poni rusyak hahahaha #digamparseluruhpembaca, Sarung tangan siap. Kamera siap. Roti dan kawan-kawan, siap. Sepatu hiking, gak siaaap. huhuhu abis ini sepatu apa sih yang saya pake, sepatu diskonan nan licin T_T

Jam 4 pas.. menuju ke Pananjakan, tempat lihat sunrise. Udah rameeee.. dari tempat pemberhentian jeep, ternyata masih harus jalan lagi untuk mencapai view point, jalan menanjak dan pasir. Sangat disarankan memakai sepatu dan masker gak boleh lupa. Karena saya lupa aja doong maskernya ketinggalan di penginapan, untung bawa shawl :D. Saya memilih naik kuda untuk mencapai view point. Aiihhh manja kali kau! iya biarin ah, daripada pingsan di tengah pasir, yakaaan.. .

Sampai pananjakan, saya memilih naik lagi ke tebing (supaya lebay jadi bilangnya tebing), jadi uhh.. *yang ini emang agak sombong πŸ˜€ * bukan yang rame-rame gitu dibawah lah yaa.. yang banyak orang di pendopo.. #lagilagidigampar tapi seriously, nanjak lagi di pasir-pasir + akar itu bener-bener perjuangan.. but it’s all worth it πŸ™‚ , di spot sunrise ini saya berhasil motret bule lagi berduaan dan sesekali ciuman, oh soo romantic *tatap nanar ke kokoh yang asik setting2 kamera –__–

18

Ternyata gak cuma di pelem-pelem loh kohhhhhhh…

4

Me. Star. Sunrise.

5

Sunrise

14

View Point di Pananjakan (yang nanjak lagi)

17

Setting kamera duluuhhh

16

Semeru and Batok in Pink. They’re soo pinky

Sunrise tibaaa.. dan saya jatuh cinta dengan kabut-kabut yang mengelilingi Bromo dan Batok. Ohh me love it! Belum lagi sesekali melihat Semeru mengeluarkan kepulan asap.. unyuuuuuu… (wanita macam apa yang melihat kepulan asap gunung merapi lalu bilang ‘unyuuuu’ ?). Di Pananjakan ini, ngiler banget ama jagung bakar tapi gak kesampean karena Pak Egi bilang, kita cepet-cepet ke bawah aja, biar masih bisa foto-foto sama kabut yang lewat di pasir berbisik dan savana.

7

Misty Miss

20

(katanya) mantan anak gunung. Tapi ngos2an juga

Pak Egi gak bohong! I’m in love with the mist, pengen meluk-melukin kabut-kabut itu wkwkwk *ciri-ciri orang ndeso* , jadi kata Pak Egi, banyak orang sering-sering ke Bromo, karena pemandangannya selalu ada yang membuat berbeda. Misal datang ke Bromo di musim hujan, savana dan bukit nya akan hijau seperti bukit-bukit teletubbies atau seperti pemandangan di New Zealand. Belum lagi, Pak Egi memperlihatkan foto di Hp nya, waktu Agustus 2012 (selama seminggu) pasir berbisik beku seperti salju.. baguusss bangett!!! Lalu kalau datang ke Bromo di musim kemarau, savana dan bukit akan berwarna kuning, macam Autumn di luar negri gituu ceritanya..

Lalu ini lah foto-foto saya dan teman-teman di Pasir Berbisik. Naris akut ya.. dududududu…

Dan inilah Savana yang super duper kereeeeeeeen! Kembali saya persembahkan foto-foto kami.. πŸ˜‰ *mules

8

The fotografer

This picture was taken by Kokoh

For you I’ll come back..

Hide and Seek

Red Jeep

how can i not love you?

udah pada eneg blom liatnya? πŸ˜€

Tujuan terakhir, saya menujuh ke kawah Bromo. Sempet udah males karena betis udah kemeng-kemeng. Tapi apalah arti perjalanan ini kalo gak sampe kawah Bromo. Kepikiran juga mau hemat, gak usah naik kuda.. tapi ngeliat bibir kawah dari tempat jeep parkir, kok orang jadi kecil banget 1/10 jari telunjuk = jauh banget jendral!!! #menurutnganaaa? akhirnya konfirm lah naik kuda pulang pergi 100.000. Bener aja deh, pas kuda parkir di pasir sebelum lanjut naik anak tangga, jalan di pasirnya aja udah sempoyongan hehe huuu dasar manula! salut ama bule-bule yang jalan dari parkiran jeep ke kawah bromo!

Lalu ini dia kawah Bromo nya πŸ™‚

Batok yang fotogenic

pffftttttt… T_T

Kawah Bromo

view from the top..

Pawang Kuda

bule = jalan kaki, domestik = naik kuda. emang manja turis domestik maah ;p

Turis-turis pemalas πŸ˜›

ceritanya ketagihan naik kuda ;D

lagi diskusi: “bagusnya difoto gaya gimanaa?”

Kalo disuruh ke Bromo lagi? Mauuuuuuuuuuuuu!!!

Categories: Malang | Tags: | 2 Comments

Blog at WordPress.com.

Jalan Sendiri ke Jepang

Sekali-sekali jalan gak pakai Tour - freedom adventures

tindak tanduk arsitek

Indri Juwono's thinking words. Architecture is not just building, it's about rural, urban, and herself. Universe.

Anila Tavisha

Ambivert creature who loves to postpone her stories

dininulis

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Ahmad & HR.Thabrani)

alfsukatmo.wordpress.com/

A place where my soul rest

Wee Line

There's always an open door for them who wanna try

Esti Murdiastuti

Melihat dunia, merenung, intropeksi maka engkau akan menemukan Tuhan-mu

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Penyukajalanjalan

Jelajahi dunia selagi bisa

santistory

.:santiari sanctuary:.