Laguna Segara Anakan

Tadinya, gak begitu terlalu kepengen ke Sempu. Memang sih, diliat dari foto-foto hasil mbah google bagus-bagus.. tapii baca catper orang juga bagus-bagus capeknya. Sebagai traveler agak manja, berpikir keras mau ke Sempu atau engga? Kalo banyak pantai bagus yang bisa di dapat dengan mudah, kenapa harus susah-susah? *termangu* Tapi, saya dan teman-teman sepakat untuk ke Sempu. Hari Sabtu itu pun cuaca cerah ceria sentosa. Langit memberikan warna biru terbaiknya. Ah, tetiba saya jadi gak sabar ke Sempu dan trekking ke Laguna Segara Anakan. You know, who can resist the combination of clear blue sky and beach?

Untuk menuju Pulau Sempu, saya harus mencapai pantai Sendang Biru yang jaraknya dari kota Malang kurang lebih 3 jam (dengan gaya supir si Bapak santai ala penganten jawa baru pulang resepsi hehe). Sukaaa banget pemandangan menuju ke Sendang Biru karena letaknya ada di belakang bukit, jadi saya harus melewati pegunungan terlebih dahulu. Perjalanan menuju Sendang Biru, sejuk!

Saya sampai di Sendang Biru pukul 10.00 siang. Wow, di luar rencana, rencananya jam 09.30 paling tidak, sudah harus nyebrang ke Sempu. Saya cuma bisa berdoa, semoga dilancarkan trekking nya dan bisa kembali dari hutan sebelum jam 4 sore, karena kalo lewat dari jam itu, konon gelap dan harus bawa senter, hiiiii… . Terlihat oh-kamu-lebay-sekali-ini-cuma-treking-sejam-bukan-treking-ke-semeru ya? πŸ˜€ *salim dgn seluruh anak gunung*

Pantai Sendang Biru

Yuk! Menuju Sempu

Sampai di Sendang Biru, sudah banyak perahu-perahu untuk menyebrang ke Sempu. Info yang saya pegang, PP ke Sempu IDR 100.000 dan harus lapor ke Perhutani dengan biaya sukarela sekitar IDR 25.000an + biara Guide seharga IDR 100.000 (kalau untuk yang baru pertama kali ke Sempu). Alih-alih nyari kantor Perhutani, saya malah nyamperin segerombolan muda-mudi yang roman-roman nya mau ke Sempu juga. Dan.. horeee! bener mereka mau ke Sempu dan ke Laguna Segara Anakan juga. Hasil dari merujuk dan merayu, akhirnya rombongan saya sebanyak 4 orang diperbolehkan join. Jadi, saya hanya bayar perahu IDR 50.000 PP sempu dan mengeliminasi biaya guide dan perhutani. Ternyata mereka sudah sering sekali trekking ke Segara Anakan untuk mancing, sekedar bakar-bakar ikan untuk makan siang, atau berkemah.

Mendarat di Sempu

Ditingggalkan untuk dijemput kembali πŸ˜›

Siap Trekking!! fufufufuh..

15 menit pertama, muke masih happih! πŸ˜€

Dari Sendang Biru menuju sempu hanya menghabiskan sekitar 15 menit. Saya mulai trekking jam 10.30. Penyiksaan pun di mulai. 15 menit pertama terasa mudah, karena masih biasa aja medan nya. Lalu 45 menit kemudian sungguh penyiksaan T_T . Ini baru hutan rada berbukit looh, bukan gunung, gimana yang pada naik gunung yaaa? Medan trekking ke Laguna Segara Anakan ini, kadang datar, kadang naik-naik dengan selingan manjat akar-akar pohon atau masuk ke kolong akar pohon yang besar-besar. Rombongan yang kami ikuti terlihat semangat sekali karena sudah terbiasa. Sesekali dari mereka berhenti sebentar untuk minum dan ada juga yang terlihat ngos-ngosan :p . Saya? Ngos-ngosan polll.. lengkap dengan keringet mengucur ala mba-mba spg car wash. Pilihannya jalan terus atau berhenti dan nyasar di tengah hutan tropis mini ini. Damn! -_-

10 menit terakhir bener-bener penyiksaan. Sandal saya putus. saya ngedumel kepada akar dan pohon. Lalu pohon itu pun sekaan berbicara ” lah kamu lagian mbak nya, trekking tuh pake sendal gunung dong bukan sendal pantai..” *ngikik. Sebenernya emang gak punya sendal gunung dan males beli karena takutnya kepake cuma jarang-jarang aja. Dengan keyakinan sendal yang saya pake akan putus saya sudah siap dengan sendal cadangan hehe.

Akhirnya Laguna Segara Anakan pun mulai terlihat sedikit demi sedikit. Warna turquoise nya mengintip dari balik-balik pohon. Semakin mendekati, jalur trekking semakin menyempit dan gak jelas. Jalan tinggal setapak dan mengandalkan pegangan dengan akar-akar pohon T_T. Di jalan yang setapak itu, sempet-sempetnya muda-mudi duduk-duduk sambil minum bir sambil menatap laguna. Ada juga yang duduk duduk di tengah batang pohon yang menjuntai ke bibir pantai. Jadi kalo jatuh ya langsung ke Laguna. Sungguh asyik untuk mereka yang bernyali besar.

Keliataan laguna nya!! yayyy

Bermalam mingguan dengan ber-camping ria

Dan, penyiksaan itu pun terbayar lunas! Sah! Sah! eh, ini bukan lagi akad nikah yaa #heyaahh

Heaven!

Malu-malu ceritanya mau nyilem..

Berendam ^ ^

Di satu sisi lainnya dari Laguna

Laguna di tengah hutan tropis yang akhirnya menampakkan dirinya. Landai nya jauuuh.. sampai ke tengah masih cetek. Di bibir pantai banyak muda-mudi yang berkemah. Lengkap dengan settingan bakar-bakar ikan. Ah pengen! Tapi nanti pup nya dimana? sampah makanannya buang nya dimana? Mandi dimanaa? Nanti ada binatang buas yang turun dari hutan gaa? *mulai melebar lebay nya.

Saya langsung makan siang dengan lahap di bawah pohon di bibir pantai. Sungguh nikmat luar biasa dengan pemandangan Laguna yang cantik yang airnya memantulkan kilauan sinar matahari. Ya karena ga biasa trekking, jadi berasa kaya abis trekking selama 10 jam non stop hehe.. makan juga jadi lahap kaya abis bawa becak keliling jogja. Selanjutnya tentu saja sesi foto di berbagai tempat dan berbagai gaya. Saya juga mencoba naik lagi ke atas untuk mendapatkan view pantai, ternyata Laguna Segara Anakan ini langsung berbatasan dengan Samudra Hindia sejauh mata memandang. Lengkap dengan deburan ombak yang menyapa karang dengan liarnya. Indah!

Buih Ombaknya

View yang memanjakan mata πŸ™‚

Samudra

Meski surga dunia, kalo disuruh ke Segara Anakan lagi, agak mikir juga ya. Kecuali kalo nanti ada jasa gendong hahahahahh!

Advertisements
Categories: Malang | Tags: | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Jalan Sendiri ke Jepang

Sekali-sekali jalan gak pakai Tour - freedom adventures

tindak tanduk arsitek

Indri Juwono's thinking words. Architecture is not just building, it's about rural, urban, and herself. Universe.

Anila Tavisha

Ambivert creature who loves to postpone her stories

dininulis

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Ahmad & HR.Thabrani)

alfsukatmo.wordpress.com/

A place where my soul rest

Wee Line

There's always an open door for them who wanna try

Esti Murdiastuti

Melihat dunia, merenung, intropeksi maka engkau akan menemukan Tuhan-mu

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Penyukajalanjalan

Jelajahi dunia selagi bisa

santistory

.:santiari sanctuary:.

%d bloggers like this: