Monthly Archives: March 2013

Yangon: Ramah dan Jadul

Ramah? Bagi saya iya. Iya banget. Mungkin karena masih kaget pariwisata, Yangon ini merasa antusias dengan turis. Bahkan orang-orang di hostel tidak sungkan-sungkan bertanya dan ngobrol-ngobrol lama, bertanya ini-itu tentang Negara asal turis, malah bersedia nemenin ngobrol sampe pagi. Eh? 😀 . Ada satu nih, mas-mas, doyan banget ngobrol deh, sampe saya suka pura-pura konsen makan supaya dia gak ngajak ngomong.. jahat ih mbaknyaaa :D.

???????????????????????????????

kalau malam hari, penuhh pada duduk-duduk

???????????????????????????????

Entah apa arti Mogok dalam bahasa burma. 😀

Saya dan teman-teman sampai di Yangon kembali (dari Bagan) pukul 05.30. Hari saat itu masih gelap dan (tentunya) dingin. Dengan tingkat kesadaran masih 50% dan mata belekan, saya turun Bus di terminal Aung Mingalar dan seperti biasa, saya dan teman-teman langsung dikerubuti pangeran-pangeran bersarung. Duh! Terulang lagi. Kali ini pangeran-pangerannya adalah pengemudi-pengemudi taksi. Dengan muka cengo karena baru bangun tidur dan dikerubuti, saya pun terlihat linglung. Pengen deh rasanya nyemprot make odol biar pada diem semua. Catatan buat temen-temen cewe yang mau melakukan perjalanan ke Yangon, khususnya terminal, jangan terlihat bingung ya. Paksain pasang muka lempeng dan tegas tapi jangan terlalu galak. Nah gimana deh tuh..

Berbekal feeling ala cenayang, akhirnya teman saya memutuskan untuk memilih salah satu pangeran untuk melamar. Loh. Untuk mengantar kami ke hostel Motherland Inn 2 maksudnya :D. Waktu itu deal harga dengan harga 8.000 kyat. Satu lagi yang perlu dicatat: Make sure, si pengemudi akan mengemudi taksi sendiri. Dan pastikan juga, gak akan ada orang yang naik di tengah jalan (seperti menaiki penumpang yang bertujuan sama). Tegaskan kepada mereka, kita maunya private taksi. Nah heran kan? Iyaa! Karena di Yangon, taksi itu bisa sharing kaya angkot gitu lhoo.. apalagi kalau cuma sendiri. hidiih ngeri banget, kalau pagi-pagi buta, ada yang naik ditengah jalan, bapak-bapak bersarung, lagi ngunyah sirih, pas ketawa giginya merah semua.. hiiih!

Dari sekilas cerita di atas, begitulah gambaran lelaki kebanyakan di Yangon. Sebagian besar masih memakai sarung, ke kantor atau kemanapun. Jadi ada yang atasnya kemeja, bawahnya sarung, sambil neteng koper. Lucu banget! Kalau di Jakarta, pake sarung kalau mau solat, abis sunat atau mau nge-ronda yes? Gak jarang juga masih pada ngunyah sirih dan sirih itu cemilan wajib disana, banyak banget yang jual sirih di pinggir jalan atau di kereta. Malah, sempet-sempetnya lho, pangeran bersarung supir taksi berhenti, buat beli cemilan sirih. Lucunya lagi, ini supir nyetel lagu kenceng-kenceng sambil asyik nyanyi kenceng juga 😀 .

Dari sekian banyak rencana mengunjungi ini itu di Yangon, akhirnya hanya beberapa yang saya datangi karena keterbatasan tenaga wanita-wanita turis yang malas dan keterbatasan waktu khususnya. Beneran deh, overnight bus itu, mempengaruhi stamina banget. Berasa capeek kaya udah traveling seminggu. Jadi setelah sampai di hostel, kami memutuskan santai-santai dulu lalu melanjutkan ke Botataung Pagoda dan Pasar Bogyoke. Sebenarnya saya berencana ke pasar pada hari terakhir (Senin), beruntung teman saya sempat nanya ke petugas hostel, ternyata setiap hari senin Bogyoke tutup.

Jadi Itinerary selama dua hari di Yangon cuma ini:

Minggu : Botataung Pagoda, Bogyoke Market, Sule Pagoda

Senin: Circular Train, Kandawgyi Lake, Shwezigon Pagoda

(un) fashionable

Jadi, waktu overnight bus ke Bagan, saya disuguhkan oleh karaoke-karaoke berbahasa Burma dengan lagu-lagu top 40. Aneh banget! Bayangin deh, lagu Lady Gaga yang Paparazi dinanyiin dengan bahasa Burma! Belum lagi dengan dandanan si artis yang aneh, dengan baju-baju ala rok penari balet, kerlap kerlip disekujur baju dan gaya joget yang bener-bener gagal. Inget joget ala trio libels taun 1980an? Nah! Mirip! Dan video-video klipnya pun kebanyakan bertipe jadul ala TVRI jaman dulu. Dengan teknologi alakadarnya, kebanyakan bercerita tentang perselingkuhan, dimana si cewek kepergok sang cowo (yang sembari bernyanyi), kemudian ada adegan tampar menampar dengan gerakan (very) slow motion. #eaaa banget gak sih? Cukup membuat saya dan teman-teman saya cekikikan di dalam bus sambil kedinginan 😀

Are you moslem?

Sebenernya agak males menulis topic sensitive ini. Tapi, Myanmar tidak habis-habisnya memberikan pengalaman yang unik buat saya. Myanmar adalah negeri yang mayoritas penduduknya memeluk agama Buddha dimana muslim adalah minoritas. Di tengah ramainya topic Rohingya di Myanmar, seharusnya saya takut datang ke Myanmar. Tetapi disana ternyata sangat-sangat aman. Saya sudah cerita ya? Kalau di Yangon semuanya ramah banget sama turis, bahkan ketika mengetahui saya dan satu teman saya adalah muslim. Saya jadi ingat ketika petugas hostel yang ramah, bertanya, “are you Buddhist?, lalu ketika saya jawab “no, we’re moslem”. Mereka kaget. Kaget sekali. Waduh saya udah deg-degan kenapa ini? Lalu mereka tersenyum dan menjawab “no, I’m just surprised”. Dan saya menimpali “and she’s Christian” *sambil menunjuk teman saya yang satu*. Mereka tambah kaget dan bertanya “is it ok?”. Loh saya bingung, dan teman saya pun bingung dan bertanya balik “why, is it oke? We’re doing fine” sambil keheranan juga. “ya ya ya it’s okay” kata mereka sambil tersenyum ramah dan malu. Entah apa yang sedang ternjadi di Myanmar dan bagaimana image muslim disana, yang jelas, dengan gagap pariwisata di Yangon, mereka masih terheran-heran melihat perbedaan yang jalan beriringan (baca: saya dan teman saya yang berbeda agama, pergi traveling bareng). Begitupun jika bertemu dengan supir taksi dan penjual yang sesama muslim, mereka surprised ketemu kita. Mungkin karena terlalu minoritas disana, mereka senang dan heran karena ada turis muslim ke negaranya. Sama supir taksi bahkan kita sempat dikasih discount hehe. Ya kita sih seneng-seneng aja *muka diskon*

Apapun yang terjadi sekarang di Yangon, tentang isu-isu ras atau apapun, Yangon sangat aman. Asal jangan ngomong politik kali ya..

Kebututan tiada tara

Butut, butut, butut. Itulah pandangan saya terhadap transportasi di Yangon. Kebanyakan taksi gak pake AC, doh! Panas mamak! à mba-mba manja, dapet salam dari kopaja. Taksi yang bagus sih ada, tapi.. ya jarang banget. Suasana jadul makin terasa ketika menaiki taksi butut dan supir dengan atasan seragam supir dan bawahannya.. err.. sarung. Lebih lucunya lagi, jadi hostel tempat kita menginap menyediakan free shuttle ke/dari airport. Shuttle tau doong? Kalau di Jakarta ya, semacam minibus atau setidaknya minivan gitu kan ya. Waktu itu sih, seneng banget karena gratisan. Hingga tiba di hari terakhir, pagi-pagi setelah sarapan, saya dan teman-teman menunggu untuk menaiki shuttle. Tibalah saat-saat si petugas hotel meminta kita naik ke shuttle bus, karena akan berangkat ke airport. Dan.. inilah shuttle busnya!

wp cit 1

Di dalam shuttle. Ngeeeng…! 😀
(From Citra’s Pic)

citra

Citra with the coolest Shuttle Bus. She looks so happy 😀
(From Citra;s Pic)

Hahahaha! Antik banget yaa! Saya sih seneng-seneng aja naiknya, bule-bule juga terlihat menikmati (sambil terheran-heran juga pastinya). Apalagi pas tanjakan, bus terlihat susah payah menanjak sampai-sampai ada bule yang memperagakan gerakan mendayung. Hahaha..      

wp

di salah satu sudut kota (yang terlihat jadul)

???????????????????????????????

Menemukan banyak gerombolan Merpati dimana-mana.

Melatih kesabaran dengan Jagung

Jagung? Iya jagung. Apa hubungannya jagung dengan melatih kesabaran? Gini, kalau saya atau kebanyakan orang Jakarta, makan jagung rebus misalnya, pasti dengan menggerogoti jagung langsung dari mulut ke potongan jagung (atau satu jagung yang utuh). Tetapi tidak di Myanmar, mereka memakan jagung dengan nyopotin butiran-butiran jagung satu-satu baru dimasukin ke mulut. Yasalam inang.. sampe subuh baru abis itu jagung. Saya akhirnya ikutan nyoba, awalnya gemes karena rempong dan lama banget prosesnya. Tapi lama-lama saya menemukan keasyikan sendiri sampai tau-tau tangan saya keriput *literally* karena mrintilin si jagung rebus.

Advertisements
Categories: Myanmar | Tags: | 2 Comments

Sunrise Cantik di Bagan, Myanmar.

Jadi itinerary singkatnya kaya gini:

22 Feb : Jkt – KL – Yangon. Lalu sambung Bus ke Bagan

23 Feb : Bagan (lalu balik ke Yangon – overnight Bus)

24 Feb : Yangon

25 Feb : Yangon

26 Feb : Yangon – KL – JKT

So little time!

Flight Jakarta – KL sekitar jam 07.30. Tapi jam 4 udah jalan ke Bandara, Zzzz.. ini gegara parno karena tulisan di print out tiket harus check in jam 5. Eh tapi bener deh, subuh-subuh gitu aja antrian check in udah antri. Backpack terasa sangat berat kala itu, ya gimana engga? Pas ditimbang udah 8.2 kilo + bawa cemilannya dong, tebak coba.. MPEK-MPEK 17 bijik! Whahahaha.. ini irit apa niat kakaa? 😀 . Flight KL ke Yangon sekitar jam 14.30 waktu itu dan sampai di Yangon sekitar jam 5.

Suprisingly, Bandara Internasional Yangon walau kecil tapi bagus. Tidak seprimitif yang saya kira, malah menurut saya kondisinya lebih bagus dari bandara Soetta (menurut saya loh). Saya dan teman-temanpun langsung mencari taksi untuk ke terminal bus Aung Mingalar Bus Terminal. Harga taksi dari Bandara ke Terminal sebesar 6000 kyatt saja. Lebih murah dari budget *girang*. Sekilas, saya seperti merasa kembali ke jaman dulu. Taksi dengan mobil lama dan tampak butut tanpa AC. Kota yang gersang dan berdebu dihiasi oleh transportasi yang tampak jadul (bus-bus berpenampilan bus tahun 1970an). Sejauh mata memandang para lelaki semuanya mengenakan sarung dan gadis – gadis ber-Tanaka (Bedak dingin). Saat itu, saya masih gak percaya. Saya memilih setuju pergi ke Myanmar. Sebuah negeri yang tidak populer.

Yangon International Airport

30 menit kemudian, saya sampai di Aung Mingalar Terminal. Langsung menuju tempat bus Shwe Mandalar Express untuk menuju Bagan. Sebelumnya, saya sudah booking via facebook. Thank God, reservasi mudah dan harga pun di bawah budget yang sudah ditentukan yaitu sebesar 15.000 kyatt saja untuk harga menuju Bagan dari Yangon. Busnya bagus! Dan *perlu dicatat* super dinginn kalo malem. Saya nyesel, ninggalin kaos kaki di ransel T_T, dinginnya angin dari AC bus itu kejaam sekalihh. Jadi, siapkan jacket, kaos kaki, shawl (buat nutup muka) kalo pas kena angin dari AC, karena akan di bus itu selama 10 jam. Jeng!  Bus pun berangkat pukul 19.30 dengan pemberhentian sekali pada jam 11 malam untuk makan + sikat gigi (yang diwarnai oleh sebuah insiden yang akan saya ceritakan di postingan terpisah :P) dan sampai di Bagan pukul 05.00 (paling telat pukul 05.30). Saya sempet deg-degan waktu itu, ini keburu gak ya dapet sunrise 😥

Kurang jadul apa coba ini bus? 😀

shwe mandalar

Tapi bus ke Bagan bagus deh. Shwe Mandalar Express (Citra’s pic)

Sampai pemberhentian terakhir di Bagan, sudah banyak mas-mas menunggu. Ya mas-mas siapa lagi kalau bukan mas-mas pengemudi horse cart. Waktu turun dari bus berasa artis papan penggilesan disambut sama kerumunan mas-mas paparazzi. Semuanya ngomong bahsa Burma yang kurang lebih artinya “mau nyewa kuda kaak? Untuk keliling-keliling Bagan? Kita kasi harga murah kak, di nego aja” . Saya dan teman-teman serasa butuh privasi dari paparazi2 itu untuk berfikir. Sambil teman saya, Citra, diserang paparazzi, saya pun minggir sambil booking tiket bus untuk pulang nanti malam. Horse cart pun akhirnya deal diharga 30.000 kyatt. Yak! Akhirnya kali ini diluar budget T_T . Tapi ya, apa boleh dikata, mau nyari kemana lagi horse cart di pagi-pagi buta dengan temperature sekitar 21 derajat celcius? Dan kabarnya February termasuk peak season.

Our cute horse cart. Bisa males-malesan disini sambil nikmatin semilir angin (+debu) ^ ^

Deg-degan pas mau liat sunrise, karena takut tidak seindah yang dibayangkan. Karena takut kalau ternyata gambar-gambar sunrise Bagan yang saya lihat hanyalah sotosop biasa. Horse cart pun menuju temple Shwesandaw, tempat melihat sunrise dari level temple paling atas. Saya pun mendaki temple dengan tanjakan yang curam. Matahari belum muncul saat saya dan teman-teman sudah mencapai puncak temple, para forografer sudah berkumpul dengan tele masing-masing. Saya sudah siap dengan camera pocket dan dengan level keahlian nol wkwkwkw *jambak-jambak rambut sendiri* . Teman saya pun sudah siap dengan camera pocket dan smart phone touchscreen masing-masing *lirik bb, inget iphone yang lagi di rumah sakit 😥 * . Lalu, perlahan sunrise muncul… . Dan buat saya bengong. Dan merinding.

4

Waiting the sun to shine

Early goldish. I wanna have this view, like forever 😛

???????????????????????????????

And the sun start to shine.

11

Surreal. Such a beautiful Sunrise in Bagan, Myanmar.

“oh, where am I right know?” *gadis mellow yang lebay* Dan sampai matahari cukup tinggi menyelesaikan ‘pertunjukannya’ saya masih enggan ‘move on’ dari tempat itu. “Feel surreal” kalau kata teman saya. Indeed 🙂

15

Hamparan stupa-stupa dan temple-temple

Setelah itu, saya dan teman-teman melanjutkan temple hopping. Bagan itu ya, bener-bener perawan wisata banget. Seakan diabaikan menjadi destinasi wisata dibandingkan tetangga-tetangganya, Padahal, saya terheran-heran waktu ke Bagan. Ada ribuan temple/stupa tersebar yang konon kabarnya sekitar 2000 buah stupa! Potongan-potongan temple-temple itu, baik utuh maupun tidak, terletak berdekatan satu sama lain. Saya jadi tertarik dengan sejarah kota Bagan selepas saya mengunjunginya. Uniknya, patung Reclining Buddha ada banyak disini dan terletak di dalam-dalam kuil di tempat-tempat yang tidak disangka. Misal, kita memasuki temple, lalu ada lorong kecil, ternyata didalamnya terdapat Reclining Buddha besar memanjang. Ini saya temukan di beberapa temple yang saya kunjungi. Niat amat ya buatnya? 😀 . I can tell that Bagan (of course) is much bigger than Angkor Wat. Kotanya antik. Pohon-pohonnya fotogenic. Temple-temple nya unik. Saya dari tercengang sampe bosan, sampe tercengang lagi sampe sekarang kangen Bagan *ihiiikk #postholidaysyndrom

Ini sebagian hasil temple hopping. Saking banyaknya, saya gak inget nama-namanya. Yang jelas, Bagan ini kota fotogenic buat foto-foto. Iuuhh where’s my photografer pribadiii? 😀

20

Panas!

21

Sepedahan?

Reclining Buddha yang nyelip-nyelip gini, ada banyak di Bagan.

27

Our Silhouette. 🙂

Gerbang menuju pernikahan. Heh!! 😀

44

Temple Hopping di Bagan,

Ini temple apa ya namanya waktu itu..

48

one of my fav scenes in Bagan

54

Standing Still.

55

Take a look at the tree. Feels like winter 😛

57

Pacar mana pacar?

Antique Bagan

bb 1

Dusty (Bagan, Myanmar)

Menemukan temple ini saat sudah capek. Tapi sayang kalau gak difoto 🙂

???????????????????????????????

The famous one in Bagan. The Shwezigon.

69

Finally, The sunset.

bb 2 edit

Sunset at Shwezigon

Sunset pun tiba, saya dan teman-teman kembali ke tempat bus tadi pagi sambil mandi ala kadarnya (sebenernya, lap-lap aja hiks.. ) . Saya melewatkan sunset, karena Bus akan meninggalkan Bagan pukul 19.00 dan tempat untuk melihat sunset ternyata cukup jauh.  Sebelum pulang, saya sempat mencoba makanan Myanmar waktu sarapan. Saya mencoba Myanmar tea yang.. lezattt! Dan Mohinga, makanan khas Myanmar yang menjadi salah satu favorit saya. Sayang Cuma nyoba sekali. Kalau rindu Pho Vietnam, tinggal ke mall terdekat di Jakarta, gimana kalau lagi rindu Mohinga? 😦

Harus nyoba Tea Myanmar nyaaa! sebenernya mirip teh tarik, tapi menurut saya ini lebih lezatos!

Mohinga. A must-try food in Myanmar.
Miss Mohinga, I miss you!
Terbuat dari mie beras, yang dimasak sangat lembek dan kuahnya dicampur kuning telur. Rasanya seperti soto.

Oh iya, jangan lupa cobain gorengan ala Myanmar, rasanya mirip banget sama makanan kita. Sekian cerita saya tentang Bagan. Sampai saat ini, gak nyesel memutuskan untuk mengunjungi Bagan. Kalau ditawarin ke sana lagi? Mau! demi melihat Sunset 🙂

Summary Info:

Taksi (Yangon Airport to Aung Mingalar Station) : 6,000 Kyat

Bus to Bagan: 15.000 Kyat

Horse Cart: 30.000 Kyat

Bus to Yangon: 13.000 Kyat

Taksi (Aung Mingalar to Motherland Inn 2) : 8.000 Kyat

Categories: Myanmar | Tags: , | Leave a comment

Myanmar : Persiapan Rempong

Myanmar. Gak kebayang kalau saya beneran ke Negara ini. Dua tahun lalu, saya sempet kirim foto ke pacar, foto sunrise di Kota Bagan yang penuh dengan balon udara yang siap terbang. Responnya “Bagus ya, tapi Myanmar daerah konflik” . Akhirnya saya lupakan niat ke Negara ini. Sampai akhirnya, tahun ini (secara tidak terencana) terealisasi. I’m going to Myanmar! Yah nasip pelancong yang dompetnya baru mampu ke Negara-negara tetangga di Asia 🙂

Dan inilah rangkuman beberapa respon yang saya terima:

“Myanmar? Emang ada apa disana neng?” – seorang teman traveling

“Myanmar 5 hari? Apa gak kelamaan? Emang apa yang diliat?” – pacar

“Myanmar itu Laos kan nak?” – Mommy (yang juga gatel traveling tapi disorientasi gini)

“Myanmar? Aku mau ikutt!” – Teman kantor (yang mure kaya saya, kemana aja hayok)

“Myanmar mba? Sumpah aneh banget!”  — Junior di kantor.

Tapi yah, saya ini sungguh mure. Kemana aja hayok. Bagi saya traveling ya melihat dunia, sebuah mahakarya Sang Pencipta yang tidak saya kotak-kotakkan ke dalam Negara tertentu. Myanmar toh juga termasuk ke dalam dunia ciptaanNya yang terdapat spot-spot cantik, sekalipun destinasi ini aneh bagi sebagian orang dan tidak sepopuler negara-negara tetangga di Asia Tenggara. Selagi dompet lagi mempersiapkan untuk ke destinasi populer nun jauh di Eropa sana (yang entah kapan), apabila ada kesempatan ke ‘tetangga’ yang affordable, kenapa engga? So here it is. Saya dan dua orang teman wanita saya nekat, tanpa persiapan itinerary yang matang dan dengan budget ngepas pas pas banget! (ini warning deh: JANGAN PERGI DI TANGGAL TUA) hahaha

Balada Mata Uang

Saya sudah cerita sedikit ya, bagaimana persiapan yang rempong sebelum pergi ke Myanmar. Gimana gak rempong, ditengah tanggal sekarat belum gajian, di Myanmar ini hanya terima USD untuk ditukar ke mata uang kyat (mata uang lokal). Sebagian harga tiket masuk tujuan wisata pun ada yang memakai USD begitu juga dengan pembayaran hotel yang hanya nerima USD. Budget hotel + transport + makan dll pun bengkak, menjadi 2jt selama lima hari. Pffttt… kayanya di Beijing aja lima hari gak sampe segitu, hiks.. sebagai tambahan informasi, sewaktu kesana 1 kyat = 12 rupiah.

Gimana deh Booking hotelnya iniii?

Persiapan rempong kedua adalah kehebohan reservasi budget hostel di Kota Bagan yang mayoritas belum bisa booking via online/ internet. Bahkan via tlp pun gak ada yang angkat atau gak nyambung. Hadeeeeh… beruntung di Yangon, saya menginap di Motherland Inn 2 dan hotel tersebut sangat mudah proses reservasi nya. Sedangkan di Bagan, saya dan teman-teman cuma bisa pasrah dan berakhir dengan reservasi hotel yang (lumayan) mahal via Agoda.

Mr.Signal, i need you!

Rempong selanjutnya adalah ketika saya tahu disana beneran tidak bisa sms alias provider cellular di Indonesia tidak kerjasama dengan provider cellular di Myanmar. Kebayang gak gimana pusingnya ngabarin orang-orang rumah dan *ehem* pacar? Dan keadaaan ini diselamatkan dengan wifi (yang sangat jarang) dan internet di hostel yang perjamnya bayar 1000 kyatt. Inipun lambat macam siput. Duh, biasanya di hostel wifi gratis or di Vietnam malah internet via pc pun free.. inaang!

Visa Myanmar, d’oh!

Kerempongan lain adalah apply visa. Asia tenggara kok make apply visa segala? yes, mari ktia tanyakan pada rumput yang bergoyang. Ya begitulah adanya, walhasil saya dan teman bolak balik ke embassy Myanmar untuk apply visa. (saya sebut bolak-balik, karena ada insiden embassy tutup due to Union Day. Dan waktu itu saya gak ngecek, main dateng aja deh -_- ).  Syarat visa sih gampang, foto 4 x 6 (bawa cadangan aja yang 3 x 4), background tidak diharuskan warna tertentu. Isi form apply visa (bisa diisi di embassy). Sebelum itu, perhatikan apa warna biji mata anda (karena ditanya lho di form, hahahaha *ini ngikik2 waktu apply) dan tentukan warna kulit anda (karena juga ditanya di form *ngikik lagi* ) . Lalu, siapkan uang 200ribu yes, buat biaya visa. Jangan lupa surat keterangan kerja dari kantor. Kalo saya, karena anaknya parnoan, saya lampirkan bookingan tiket + hotel (duile mba, ini Myanmar deh bukan yurop :p) . Visa akan jadi 2 s/d 3 hari kerja. Gampang kok! bolak – balik nya aja yang jadi PR si 🙂

Belajar Backpack *literally

Last but not least, perjalanan kali ini adalah pertama kali saya menggunakan backpack 33 liter ala backpacker. Biasa bawa koper, kali ini backpack :D. Udah kebayang kerempongannya dari sewaktu packing. Let me tell you, saya ini orangnya letoy, lha sekarang backpack bagaimana ini caranya mamak? Dengan tidak ada pengalaman packing di backpack 33 liter, segala baju saya gulung-gulung dan masukin berdasarkan kriteria LIFO or last in first out. Wkwkwkwk sotoy!  Dengan kondisi tiket tanpa bagasi, pas check in, tas 33 liter ini udah 8.2 kg aja dong beratnya! Lhaa apakabar oleh-oleh nanti? Mau ditaro dimana neng? T_T , Belom lagi, baru sampe bandara, pundak udah pegel hiks.. manja banget deh ni wanita (yang kala itu lagi) pms 😦 . Lalu, baru tau dari temen kalau cara packing saya itu salah. Harusnya yang ringan ditaruh dibawah dan benda-benda yang lebih berat ditaruh di atas (area pundak). Roger that!

ransel

Ransel minjem temen. 33 Liter , yang warna orange. 😀

Categories: Myanmar, Visa Application | Tags: | 8 Comments

Blog at WordPress.com.

Jalan Sendiri ke Jepang

Sekali-sekali jalan gak pakai Tour - freedom adventures

tindak tanduk arsitek

Indri Juwono's thinking words. Architecture is not just building, it's about rural, urban, and herself. Universe.

Anila Tavisha

Ambivert creature who loves to postpone her stories

dininulis

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Ahmad & HR.Thabrani)

alfsukatmo.wordpress.com/

A place where my soul rest

Wee Line

There's always an open door for them who wanna try

Esti Murdiastuti

Melihat dunia, merenung, intropeksi maka engkau akan menemukan Tuhan-mu

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Penyukajalanjalan

Jelajahi dunia selagi bisa

santistory

.:santiari sanctuary:.