Sunrise Cantik di Bagan, Myanmar.

Jadi itinerary singkatnya kaya gini:

22 Feb : Jkt – KL – Yangon. Lalu sambung Bus ke Bagan

23 Feb : Bagan (lalu balik ke Yangon – overnight Bus)

24 Feb : Yangon

25 Feb : Yangon

26 Feb : Yangon – KL – JKT

So little time!

Flight Jakarta – KL sekitar jam 07.30. Tapi jam 4 udah jalan ke Bandara, Zzzz.. ini gegara parno karena tulisan di print out tiket harus check in jam 5. Eh tapi bener deh, subuh-subuh gitu aja antrian check in udah antri. Backpack terasa sangat berat kala itu, ya gimana engga? Pas ditimbang udah 8.2 kilo + bawa cemilannya dong, tebak coba.. MPEK-MPEK 17 bijik! Whahahaha.. ini irit apa niat kakaa? 😀 . Flight KL ke Yangon sekitar jam 14.30 waktu itu dan sampai di Yangon sekitar jam 5.

Suprisingly, Bandara Internasional Yangon walau kecil tapi bagus. Tidak seprimitif yang saya kira, malah menurut saya kondisinya lebih bagus dari bandara Soetta (menurut saya loh). Saya dan teman-temanpun langsung mencari taksi untuk ke terminal bus Aung Mingalar Bus Terminal. Harga taksi dari Bandara ke Terminal sebesar 6000 kyatt saja. Lebih murah dari budget *girang*. Sekilas, saya seperti merasa kembali ke jaman dulu. Taksi dengan mobil lama dan tampak butut tanpa AC. Kota yang gersang dan berdebu dihiasi oleh transportasi yang tampak jadul (bus-bus berpenampilan bus tahun 1970an). Sejauh mata memandang para lelaki semuanya mengenakan sarung dan gadis – gadis ber-Tanaka (Bedak dingin). Saat itu, saya masih gak percaya. Saya memilih setuju pergi ke Myanmar. Sebuah negeri yang tidak populer.

Yangon International Airport

30 menit kemudian, saya sampai di Aung Mingalar Terminal. Langsung menuju tempat bus Shwe Mandalar Express untuk menuju Bagan. Sebelumnya, saya sudah booking via facebook. Thank God, reservasi mudah dan harga pun di bawah budget yang sudah ditentukan yaitu sebesar 15.000 kyatt saja untuk harga menuju Bagan dari Yangon. Busnya bagus! Dan *perlu dicatat* super dinginn kalo malem. Saya nyesel, ninggalin kaos kaki di ransel T_T, dinginnya angin dari AC bus itu kejaam sekalihh. Jadi, siapkan jacket, kaos kaki, shawl (buat nutup muka) kalo pas kena angin dari AC, karena akan di bus itu selama 10 jam. Jeng!  Bus pun berangkat pukul 19.30 dengan pemberhentian sekali pada jam 11 malam untuk makan + sikat gigi (yang diwarnai oleh sebuah insiden yang akan saya ceritakan di postingan terpisah :P) dan sampai di Bagan pukul 05.00 (paling telat pukul 05.30). Saya sempet deg-degan waktu itu, ini keburu gak ya dapet sunrise 😥

Kurang jadul apa coba ini bus? 😀

shwe mandalar

Tapi bus ke Bagan bagus deh. Shwe Mandalar Express (Citra’s pic)

Sampai pemberhentian terakhir di Bagan, sudah banyak mas-mas menunggu. Ya mas-mas siapa lagi kalau bukan mas-mas pengemudi horse cart. Waktu turun dari bus berasa artis papan penggilesan disambut sama kerumunan mas-mas paparazzi. Semuanya ngomong bahsa Burma yang kurang lebih artinya “mau nyewa kuda kaak? Untuk keliling-keliling Bagan? Kita kasi harga murah kak, di nego aja” . Saya dan teman-teman serasa butuh privasi dari paparazi2 itu untuk berfikir. Sambil teman saya, Citra, diserang paparazzi, saya pun minggir sambil booking tiket bus untuk pulang nanti malam. Horse cart pun akhirnya deal diharga 30.000 kyatt. Yak! Akhirnya kali ini diluar budget T_T . Tapi ya, apa boleh dikata, mau nyari kemana lagi horse cart di pagi-pagi buta dengan temperature sekitar 21 derajat celcius? Dan kabarnya February termasuk peak season.

Our cute horse cart. Bisa males-malesan disini sambil nikmatin semilir angin (+debu) ^ ^

Deg-degan pas mau liat sunrise, karena takut tidak seindah yang dibayangkan. Karena takut kalau ternyata gambar-gambar sunrise Bagan yang saya lihat hanyalah sotosop biasa. Horse cart pun menuju temple Shwesandaw, tempat melihat sunrise dari level temple paling atas. Saya pun mendaki temple dengan tanjakan yang curam. Matahari belum muncul saat saya dan teman-teman sudah mencapai puncak temple, para forografer sudah berkumpul dengan tele masing-masing. Saya sudah siap dengan camera pocket dan dengan level keahlian nol wkwkwkw *jambak-jambak rambut sendiri* . Teman saya pun sudah siap dengan camera pocket dan smart phone touchscreen masing-masing *lirik bb, inget iphone yang lagi di rumah sakit 😥 * . Lalu, perlahan sunrise muncul… . Dan buat saya bengong. Dan merinding.

4

Waiting the sun to shine

Early goldish. I wanna have this view, like forever 😛

???????????????????????????????

And the sun start to shine.

11

Surreal. Such a beautiful Sunrise in Bagan, Myanmar.

“oh, where am I right know?” *gadis mellow yang lebay* Dan sampai matahari cukup tinggi menyelesaikan ‘pertunjukannya’ saya masih enggan ‘move on’ dari tempat itu. “Feel surreal” kalau kata teman saya. Indeed 🙂

15

Hamparan stupa-stupa dan temple-temple

Setelah itu, saya dan teman-teman melanjutkan temple hopping. Bagan itu ya, bener-bener perawan wisata banget. Seakan diabaikan menjadi destinasi wisata dibandingkan tetangga-tetangganya, Padahal, saya terheran-heran waktu ke Bagan. Ada ribuan temple/stupa tersebar yang konon kabarnya sekitar 2000 buah stupa! Potongan-potongan temple-temple itu, baik utuh maupun tidak, terletak berdekatan satu sama lain. Saya jadi tertarik dengan sejarah kota Bagan selepas saya mengunjunginya. Uniknya, patung Reclining Buddha ada banyak disini dan terletak di dalam-dalam kuil di tempat-tempat yang tidak disangka. Misal, kita memasuki temple, lalu ada lorong kecil, ternyata didalamnya terdapat Reclining Buddha besar memanjang. Ini saya temukan di beberapa temple yang saya kunjungi. Niat amat ya buatnya? 😀 . I can tell that Bagan (of course) is much bigger than Angkor Wat. Kotanya antik. Pohon-pohonnya fotogenic. Temple-temple nya unik. Saya dari tercengang sampe bosan, sampe tercengang lagi sampe sekarang kangen Bagan *ihiiikk #postholidaysyndrom

Ini sebagian hasil temple hopping. Saking banyaknya, saya gak inget nama-namanya. Yang jelas, Bagan ini kota fotogenic buat foto-foto. Iuuhh where’s my photografer pribadiii? 😀

20

Panas!

21

Sepedahan?

Reclining Buddha yang nyelip-nyelip gini, ada banyak di Bagan.

27

Our Silhouette. 🙂

Gerbang menuju pernikahan. Heh!! 😀

44

Temple Hopping di Bagan,

Ini temple apa ya namanya waktu itu..

48

one of my fav scenes in Bagan

54

Standing Still.

55

Take a look at the tree. Feels like winter 😛

57

Pacar mana pacar?

Antique Bagan

bb 1

Dusty (Bagan, Myanmar)

Menemukan temple ini saat sudah capek. Tapi sayang kalau gak difoto 🙂

???????????????????????????????

The famous one in Bagan. The Shwezigon.

69

Finally, The sunset.

bb 2 edit

Sunset at Shwezigon

Sunset pun tiba, saya dan teman-teman kembali ke tempat bus tadi pagi sambil mandi ala kadarnya (sebenernya, lap-lap aja hiks.. ) . Saya melewatkan sunset, karena Bus akan meninggalkan Bagan pukul 19.00 dan tempat untuk melihat sunset ternyata cukup jauh.  Sebelum pulang, saya sempat mencoba makanan Myanmar waktu sarapan. Saya mencoba Myanmar tea yang.. lezattt! Dan Mohinga, makanan khas Myanmar yang menjadi salah satu favorit saya. Sayang Cuma nyoba sekali. Kalau rindu Pho Vietnam, tinggal ke mall terdekat di Jakarta, gimana kalau lagi rindu Mohinga? 😦

Harus nyoba Tea Myanmar nyaaa! sebenernya mirip teh tarik, tapi menurut saya ini lebih lezatos!

Mohinga. A must-try food in Myanmar.
Miss Mohinga, I miss you!
Terbuat dari mie beras, yang dimasak sangat lembek dan kuahnya dicampur kuning telur. Rasanya seperti soto.

Oh iya, jangan lupa cobain gorengan ala Myanmar, rasanya mirip banget sama makanan kita. Sekian cerita saya tentang Bagan. Sampai saat ini, gak nyesel memutuskan untuk mengunjungi Bagan. Kalau ditawarin ke sana lagi? Mau! demi melihat Sunset 🙂

Summary Info:

Taksi (Yangon Airport to Aung Mingalar Station) : 6,000 Kyat

Bus to Bagan: 15.000 Kyat

Horse Cart: 30.000 Kyat

Bus to Yangon: 13.000 Kyat

Taksi (Aung Mingalar to Motherland Inn 2) : 8.000 Kyat

Advertisements
Categories: Myanmar | Tags: , | Leave a comment

Post navigation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Jalan Sendiri ke Jepang

Sekali-sekali jalan gak pakai Tour - freedom adventures

tindak tanduk arsitek

Indri Juwono's thinking words. Architecture is not just building, it's about rural, urban, and herself. Universe.

Anila Tavisha

Ambivert creature who loves to postpone her stories

dininulis

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Ahmad & HR.Thabrani)

alfsukatmo.wordpress.com/

A place where my soul rest

Wee Line

There's always an open door for them who wanna try

Esti Murdiastuti

Melihat dunia, merenung, intropeksi maka engkau akan menemukan Tuhan-mu

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Penyukajalanjalan

Jelajahi dunia selagi bisa

santistory

.:santiari sanctuary:.

%d bloggers like this: