Yangon: Ramah dan Jadul

Ramah? Bagi saya iya. Iya banget. Mungkin karena masih kaget pariwisata, Yangon ini merasa antusias dengan turis. Bahkan orang-orang di hostel tidak sungkan-sungkan bertanya dan ngobrol-ngobrol lama, bertanya ini-itu tentang Negara asal turis, malah bersedia nemenin ngobrol sampe pagi. Eh? 😀 . Ada satu nih, mas-mas, doyan banget ngobrol deh, sampe saya suka pura-pura konsen makan supaya dia gak ngajak ngomong.. jahat ih mbaknyaaa :D.

???????????????????????????????

kalau malam hari, penuhh pada duduk-duduk

???????????????????????????????

Entah apa arti Mogok dalam bahasa burma. 😀

Saya dan teman-teman sampai di Yangon kembali (dari Bagan) pukul 05.30. Hari saat itu masih gelap dan (tentunya) dingin. Dengan tingkat kesadaran masih 50% dan mata belekan, saya turun Bus di terminal Aung Mingalar dan seperti biasa, saya dan teman-teman langsung dikerubuti pangeran-pangeran bersarung. Duh! Terulang lagi. Kali ini pangeran-pangerannya adalah pengemudi-pengemudi taksi. Dengan muka cengo karena baru bangun tidur dan dikerubuti, saya pun terlihat linglung. Pengen deh rasanya nyemprot make odol biar pada diem semua. Catatan buat temen-temen cewe yang mau melakukan perjalanan ke Yangon, khususnya terminal, jangan terlihat bingung ya. Paksain pasang muka lempeng dan tegas tapi jangan terlalu galak. Nah gimana deh tuh..

Berbekal feeling ala cenayang, akhirnya teman saya memutuskan untuk memilih salah satu pangeran untuk melamar. Loh. Untuk mengantar kami ke hostel Motherland Inn 2 maksudnya :D. Waktu itu deal harga dengan harga 8.000 kyat. Satu lagi yang perlu dicatat: Make sure, si pengemudi akan mengemudi taksi sendiri. Dan pastikan juga, gak akan ada orang yang naik di tengah jalan (seperti menaiki penumpang yang bertujuan sama). Tegaskan kepada mereka, kita maunya private taksi. Nah heran kan? Iyaa! Karena di Yangon, taksi itu bisa sharing kaya angkot gitu lhoo.. apalagi kalau cuma sendiri. hidiih ngeri banget, kalau pagi-pagi buta, ada yang naik ditengah jalan, bapak-bapak bersarung, lagi ngunyah sirih, pas ketawa giginya merah semua.. hiiih!

Dari sekilas cerita di atas, begitulah gambaran lelaki kebanyakan di Yangon. Sebagian besar masih memakai sarung, ke kantor atau kemanapun. Jadi ada yang atasnya kemeja, bawahnya sarung, sambil neteng koper. Lucu banget! Kalau di Jakarta, pake sarung kalau mau solat, abis sunat atau mau nge-ronda yes? Gak jarang juga masih pada ngunyah sirih dan sirih itu cemilan wajib disana, banyak banget yang jual sirih di pinggir jalan atau di kereta. Malah, sempet-sempetnya lho, pangeran bersarung supir taksi berhenti, buat beli cemilan sirih. Lucunya lagi, ini supir nyetel lagu kenceng-kenceng sambil asyik nyanyi kenceng juga 😀 .

Dari sekian banyak rencana mengunjungi ini itu di Yangon, akhirnya hanya beberapa yang saya datangi karena keterbatasan tenaga wanita-wanita turis yang malas dan keterbatasan waktu khususnya. Beneran deh, overnight bus itu, mempengaruhi stamina banget. Berasa capeek kaya udah traveling seminggu. Jadi setelah sampai di hostel, kami memutuskan santai-santai dulu lalu melanjutkan ke Botataung Pagoda dan Pasar Bogyoke. Sebenarnya saya berencana ke pasar pada hari terakhir (Senin), beruntung teman saya sempat nanya ke petugas hostel, ternyata setiap hari senin Bogyoke tutup.

Jadi Itinerary selama dua hari di Yangon cuma ini:

Minggu : Botataung Pagoda, Bogyoke Market, Sule Pagoda

Senin: Circular Train, Kandawgyi Lake, Shwezigon Pagoda

(un) fashionable

Jadi, waktu overnight bus ke Bagan, saya disuguhkan oleh karaoke-karaoke berbahasa Burma dengan lagu-lagu top 40. Aneh banget! Bayangin deh, lagu Lady Gaga yang Paparazi dinanyiin dengan bahasa Burma! Belum lagi dengan dandanan si artis yang aneh, dengan baju-baju ala rok penari balet, kerlap kerlip disekujur baju dan gaya joget yang bener-bener gagal. Inget joget ala trio libels taun 1980an? Nah! Mirip! Dan video-video klipnya pun kebanyakan bertipe jadul ala TVRI jaman dulu. Dengan teknologi alakadarnya, kebanyakan bercerita tentang perselingkuhan, dimana si cewek kepergok sang cowo (yang sembari bernyanyi), kemudian ada adegan tampar menampar dengan gerakan (very) slow motion. #eaaa banget gak sih? Cukup membuat saya dan teman-teman saya cekikikan di dalam bus sambil kedinginan 😀

Are you moslem?

Sebenernya agak males menulis topic sensitive ini. Tapi, Myanmar tidak habis-habisnya memberikan pengalaman yang unik buat saya. Myanmar adalah negeri yang mayoritas penduduknya memeluk agama Buddha dimana muslim adalah minoritas. Di tengah ramainya topic Rohingya di Myanmar, seharusnya saya takut datang ke Myanmar. Tetapi disana ternyata sangat-sangat aman. Saya sudah cerita ya? Kalau di Yangon semuanya ramah banget sama turis, bahkan ketika mengetahui saya dan satu teman saya adalah muslim. Saya jadi ingat ketika petugas hostel yang ramah, bertanya, “are you Buddhist?, lalu ketika saya jawab “no, we’re moslem”. Mereka kaget. Kaget sekali. Waduh saya udah deg-degan kenapa ini? Lalu mereka tersenyum dan menjawab “no, I’m just surprised”. Dan saya menimpali “and she’s Christian” *sambil menunjuk teman saya yang satu*. Mereka tambah kaget dan bertanya “is it ok?”. Loh saya bingung, dan teman saya pun bingung dan bertanya balik “why, is it oke? We’re doing fine” sambil keheranan juga. “ya ya ya it’s okay” kata mereka sambil tersenyum ramah dan malu. Entah apa yang sedang ternjadi di Myanmar dan bagaimana image muslim disana, yang jelas, dengan gagap pariwisata di Yangon, mereka masih terheran-heran melihat perbedaan yang jalan beriringan (baca: saya dan teman saya yang berbeda agama, pergi traveling bareng). Begitupun jika bertemu dengan supir taksi dan penjual yang sesama muslim, mereka surprised ketemu kita. Mungkin karena terlalu minoritas disana, mereka senang dan heran karena ada turis muslim ke negaranya. Sama supir taksi bahkan kita sempat dikasih discount hehe. Ya kita sih seneng-seneng aja *muka diskon*

Apapun yang terjadi sekarang di Yangon, tentang isu-isu ras atau apapun, Yangon sangat aman. Asal jangan ngomong politik kali ya..

Kebututan tiada tara

Butut, butut, butut. Itulah pandangan saya terhadap transportasi di Yangon. Kebanyakan taksi gak pake AC, doh! Panas mamak! à mba-mba manja, dapet salam dari kopaja. Taksi yang bagus sih ada, tapi.. ya jarang banget. Suasana jadul makin terasa ketika menaiki taksi butut dan supir dengan atasan seragam supir dan bawahannya.. err.. sarung. Lebih lucunya lagi, jadi hostel tempat kita menginap menyediakan free shuttle ke/dari airport. Shuttle tau doong? Kalau di Jakarta ya, semacam minibus atau setidaknya minivan gitu kan ya. Waktu itu sih, seneng banget karena gratisan. Hingga tiba di hari terakhir, pagi-pagi setelah sarapan, saya dan teman-teman menunggu untuk menaiki shuttle. Tibalah saat-saat si petugas hotel meminta kita naik ke shuttle bus, karena akan berangkat ke airport. Dan.. inilah shuttle busnya!

wp cit 1

Di dalam shuttle. Ngeeeng…! 😀
(From Citra’s Pic)

citra

Citra with the coolest Shuttle Bus. She looks so happy 😀
(From Citra;s Pic)

Hahahaha! Antik banget yaa! Saya sih seneng-seneng aja naiknya, bule-bule juga terlihat menikmati (sambil terheran-heran juga pastinya). Apalagi pas tanjakan, bus terlihat susah payah menanjak sampai-sampai ada bule yang memperagakan gerakan mendayung. Hahaha..      

wp

di salah satu sudut kota (yang terlihat jadul)

???????????????????????????????

Menemukan banyak gerombolan Merpati dimana-mana.

Melatih kesabaran dengan Jagung

Jagung? Iya jagung. Apa hubungannya jagung dengan melatih kesabaran? Gini, kalau saya atau kebanyakan orang Jakarta, makan jagung rebus misalnya, pasti dengan menggerogoti jagung langsung dari mulut ke potongan jagung (atau satu jagung yang utuh). Tetapi tidak di Myanmar, mereka memakan jagung dengan nyopotin butiran-butiran jagung satu-satu baru dimasukin ke mulut. Yasalam inang.. sampe subuh baru abis itu jagung. Saya akhirnya ikutan nyoba, awalnya gemes karena rempong dan lama banget prosesnya. Tapi lama-lama saya menemukan keasyikan sendiri sampai tau-tau tangan saya keriput *literally* karena mrintilin si jagung rebus.

Advertisements
Categories: Myanmar | Tags: | 2 Comments

Post navigation

2 thoughts on “Yangon: Ramah dan Jadul

  1. Thanks Mbak ulasannya. Lagi nyari artikel ttg Yangon.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Jalan Sendiri ke Jepang

Sekali-sekali jalan gak pakai Tour - freedom adventures

tindak tanduk arsitek

Indri Juwono's thinking words. Architecture is not just building, it's about rural, urban, and herself. Universe.

Anila Tavisha

Ambivert creature who loves to postpone her stories

dininulis

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Ahmad & HR.Thabrani)

alfsukatmo.wordpress.com/

A place where my soul rest

Wee Line

There's always an open door for them who wanna try

Esti Murdiastuti

Melihat dunia, merenung, intropeksi maka engkau akan menemukan Tuhan-mu

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Penyukajalanjalan

Jelajahi dunia selagi bisa

santistory

.:santiari sanctuary:.

%d bloggers like this: