Menuju Kita ke Phuket!

Yaay! Akhirnya ada kesempatan untuk melihat kota Phuket. Dari dulu penasaran banget karena ada yang bilang bagus banget dan ada yang bilang biasa aja lah. Tetapi kalau saya sih, seperti biasa, kemana aja deh yang penting jalan-jalan, nemuin hal-hal baru melihat hal hal yang mungkin di tempat yang biasanya kita tinggal kita tidak akan menemukan pengalaman seperti kalau kita jalan-jalan #tsaahh #nyilem . Lagipula, biasanya bagus atau tidaknya itu tergantung selera dan pendapat masing-masing kan?

Big Buddha dan Sunset di Promp Thep Cape

Hari pertama, saya mencoba menginap di sekitar Kata, dimana hampir kebanyakan turis akan menginap di daerah Patong. Penasaran juga di Kata, konon sih ini versi sepi nya Phuket, mungkin kalo Bali, bagaikan Seminyak atau Nusa Dua. Jadi gak ada salahnya mencoba menginap di sekitar Kata. Daan, dua malam terakhir tentu saja akan di Patong dooong, save the best for last :D. Karena waktu itu sampai Airport di Phuket sudah jam 20.00 waktu setempat, saya langsung cuss dengan public transportation (mini van). Biaya lumayan murah, sekitar 200 baht saja per orang dan diantar sampai hotel. Tapi, karena public transportation, ya lumayan lama nunggu kuota penuh, sekitar setengah jam baru jalan, ditambah lagi harus (dipaksa) mampir ke travel agent untuk ditawarin berbagai macam island tour, mata udah keburu merem melek karena ngantuk.

Di perjalanan, saya sambil melihat-lihat area Kata malam hari. Ternyata bener yah, lumayan sepi dan waktu itu untuk menemukan keramaian di Kata, saya harus berjalan kaki lumayan jauh untuk menuju pusat club. Memang ada sih keramaian, tetapi cuma sedikit, mungkin karena saat itu sudah mencapai pukul 23.00 waktu setempat. Toko-toko souvenir, bikini dan baju-baju pun mulai tutup, padahal tangan gatel banget udah mau megang-megang bikini :p. Karena mata sudah terlalu mengantuk untuk sekedar mencicipi kopi atau makan malam di Club/Cafe, akhirnya saya hanya beli buah-buahan, air mineral, cemilan di 7/11, kebab dan tak lupa Banana Pancake yang akhirnya menjadi cemilan favorit saya selama di Phuket. Mentang-mentang Cuma 60 baht untuk banana pancake chocolate, saya selalu beli ini setiap hari di Phuket. Rasanya enak, pisang yang dibalut kulit martabak dan bisa dibuat dengan berbagai macam varian rasa. Paling endess kalo pakai nutella.. Halo lemak! T_T. Malam ini dan besok saya menginap di Rico’s Hotel, kamar jadul tapi yang penting bersih dan besar dengan tipe cottage dengan pemandangan kamar dekat depan swimming pool.

IMG_9359

cemilan wajib coba di Phuket ^ ^

Pagi hari sebelum berpetualang di sekitar Kata, saya menyewa motor di depan penginapan untuk satu hari dengan harga 400 baht. Sebenarnya harga standar untuk motor standar adalah sekitar 200 baht/hari, tetapi karena motor yang saya sewa jarang beredar di Jakarta dan modelnya saya suka, maka tak apalah sewa sedikit mahal :D.

IMG_9020

Penampakan motor sewaan dan.. Wow, mbaknya keling!

Matahari pagi itu cerah, seakan menyemangati saya memulai perjalanan di Kata. Langit biru ceria menemani saya sepanjang hari itu. Tujuan pertama saya adalah Big Buddha yang terletak di atas bukit. Semenjak mulai traveling, inilah pengalaman pertama saya jalan-jalan keliling-keliling naik motor. Ah, seru sekali! Pemandangan indah tidak lagi terhalangi kaca mobil, udara segar langsung menyapa tubuh tanpa perantara.Terpaan angin membuat saya lebih bersemangat menikmati perjalanan. Sesekali sinar matahari menusuk-nusuk kulit walaupun sudah memakai pelindung kepala dan jacket. Tetapi perjalanan menuju Big Buddha saat itu sungguh sejuk. Mendekati Big Buddha yang ada di atas bukit, cuaca malah cenderung agak dingin. Karena letaknya di ketinggian, dari kejauhan Bid Buddha sesekali terlihat. Dia seakan menyapa dengan agungnya.

Empat puluh lima menit telah terlewati, akhirnya saya sampai di Big Budhha. Tidak ada tiket masuk yang harus dibayar, hanya seperti biasa, wanita yang memakai pakaian minim diharuskan menutupi bajunya yang kekurangan bahan. 😀 *make sarung buang hot pants.

Ternyata Big Buddha masih dalam proses renovasi, namun tentu saja tidak menghalangi saya untuk foto-foto ^ ^. Kali ini pun perdana saya menggunakan Tongsis alias tongkat narsis di iPhone saya supaya bisa foto-foto ala #selfie sukaesih hihihi, seru deh. Gara-gara tongsis ini pun saya diliatin sama bule-bule, malah di kemudian tempat ada penduduk setempat yang nanya “itu apa” dan “beli dimana”. Indonesia gaul pisan! Mereka gak tau aja Tongsis sedang merajalela di Jakarta :D.

DSC_0003

Big Buddha di Phuket

DSC_0016

Bagian favorite saya di Big Buddha, sebagai wanita melankolis romantis, adalah (tentu saja) Lonceng Cinta! Kalau Paris dan Seoul punya Gembok Cinta, Phuket ternyata punya Lonceng Cinta. Tentu saja bagi saya maknanya lebih cihuy dan universal. Di depan area Big Buddha terdapat taman kecil yang didalamnya ada pepohonan yang rindang, berakar kokoh dan ranting pohon yang membentuk seperti gapura Selamat Datang. Disitulah terdapat banyak sekali Lonceng-lonceng Cinta digantung. Menurut saya, maknanya lebih universal, karena tidak hanya khusus untuk pasangan-pasangan yang mengikrarkan cinta supaya abadi *ciee maklum si mbak kebanyakan nonton drama 😀 . Di Lonceng-long ini, saya banyak melihat quotes-quotes tentang hidup yang dituliskan pada lonceng-lonceng tersebut. Lonceng bisa dibeli di sana dan hasil penjualannya akan disumbangkan untuk pengembangan pembangunan Big Buddha. Jadi itung-itung beramal kan? Hehe.. saya pun membeli satu lonceng yang paling kecil seharga 200 baht (kalo gak salah). Saya menuliskan nama dan tanggal berkunjung dan saya gantungkan pada akar yang menurut saya besar dan kokoh. Ah lucu sekali! Mungkin kalau kesana lagi, saya ingin lihat, apakah lonceng saya masih ada atau tidak :p. Ketika sedang mengambil foto lonceng, angin semilir menyapu taman. Seketika bunyi ratusan lonceng-lonceng bergemirincing riuh menari-nari. Kilatan-kilatan lonceng hasil pantulan sinar matahari seakan membuatnya lebih ramai. This is my first favorite moment in Phuket. Buat saya sih romantis *menatap nanar ke langit 😀

DSC_0013

Lonceng-lonceng

Lonceng-lonceng yang digantung di pohon

Lonceng-lonceng yang digantung di pohon

Setelah Big Buddha saya tidak ada rencana tujuan yang pasti. Hanya sekedar menelusuri pantai Rawai, Karon dan bermalas-malasan di Kata sambil menunggu sunset di Promp Thep Cape. Dalam perjalanan, saya menemukan spot cantik luar biasa. Ah entahlah tempat tempat di atas bukit ini namanya apa. Lalu saya memutuskan berhenti untuk sekedar minum es kelapa muda sambil melihat Phuket dari ketinggian. Saat itu saya bergumam, “Thank you God, this is such a heaven at that moment”. Langit biru cantik. Hamparan laut luas. Rumput kehijauan yang bergoyang. Dan Es kelapa Muda. Tak salah kalau tempat ini terbilang cantik, terbukti dengan adanya pasangan yang sedang sibuk photoshoot untuk pre-wedding.

DSC_0158

Beautiful spot 🙂

DSC_0159

Cerah Ceria

Es kelapa muda + Pantai

Es kelapa muda + Pantai

Saya melanjutkan menyusuri Kata dari Rawai Beach, Yanui Beach, Kata Noi, Kata Beach hingga Karon Beach. Sepanjang perjalanan, subhanallah bagus bangett pemandangannya. Naik turun bukit dengan pemandangan sebelah sisi adalah hamparan pantai. Tadinya mau share video disini, tapi apadaya yang ketangkep kebanyakan muka saya, rambut saya, muka saya, punggung saya.. #narsisdetected. Jadi, semoga saja teman-teman bisa mengunjungi Phuket dan melihat keindahan seperti yang saya lihat hehe. Akhirnya pilihan jatuh kepada Kata Noi beach sebagai tempat saya bersantai ria sampai sunset tiba. Suasana pantai tidak begitu ramai, karena memang bukan pantai yang terlalu komersil. Saya pun menyewa kursi pantai seharga 100 baht/kursi. Leyeh-leyeh time saat itu ditemani oleh ice cream cone yang melengkapi kemalasan saya beranjak dari kursi sambil melihat pemandangan bule-bule wanita topless menghadap kursi pantai birunya langit dan pantai.

IMG_9060

Relaxing

Hari pun beranjak tua, saatnya mengejar sunset! Favorite saya dalam setiap perjalanan. Saya pun menuju lokasi sunset point, Promp Thep Cape. Saat itu lokasi sudah mulai ramai. Saya pun menyempatkan diri membeli barang yang selalu saya beli kalau sedang berpergian, yaitu topi!. Coba ya, dikurang-kurangin lah itu beli topinya, bikin ribet pas bawa pulang. *percakapan dengan diri sendiri* abisan sih murah bangets ya, topi lebar gak sampai 70 ribuan.

Seperti biasa, sunset selalu cantik bagi saya. Tak kurang suatu apapun. Tak pernah gagal membahagiakan hati. Ini maaf yah kalau catper kali ini agak melankolis *ditulis kala sedang pms level 2.5 😀 *

IMG_9075

my favorite!

Saya memutuskan pulang setelah sunset digantikan malam. Bagaikan traveler yang gak mau rugi waktu, setelah istirahat dari hotel pun jalan-jalan tetep dilanjutin ke pasar malam. Pasar malam yang saya kunjungi adalah Pasar malam di area Karon. Saya lupa namanya, tapi sepertinya itulah satu-satunya pasar malam di area terbuka di daerah Karon. Pada gapura selamat datang, bertuliskan pengumuman tanggal pelaksanaan Loy Krathong (Festival pelepasan lampion). Ah, sayang sekali, festival dilaksanakan pada malam hari di tanggal saya pulang ke Jakarta. Padahal, melihat Loy Krathong adalah salah satu bucket list destination saya. Tapi ya sudahlah, lain kali pasti kesampaian. Seperti teori Paulo Coelho yang selalu saya yakini, jika kita menginginkan sesuatu dengan sungguh-sungguh, alam semesta akan berkonspirasi mewujudkanya 🙂

Gak sempet liat festival Loy Krathong :(

Gak sempet liat festival Loy Krathong 😦

jajanan pasar

jajanan pasar

Suasana pasar malam ramai! Berbagai macam makanan kaki lima yang bentuknya unik-unik ada disana, seperti telur mata sapi ukuran mini. Sayang, saya gak jadi nyoba, karena lidah Indonesia ini keburu ngiler makanan melayu, nasi + gulai kambing. Yummy! Kebetulan yang jual orang Malaysia, jadi dijamin halal yah. Setelah makan dan perut membuncit, saya pun pulang dan molor. Gak sabar buat besok, Island Hopping to Phi Phi!

Advertisements
Categories: Thailand | Tags: | 3 Comments

Post navigation

3 thoughts on “Menuju Kita ke Phuket!

  1. Mine

    Smngttt bgt aku cmmntn blogny ka..hehe
    Juni inshallah dpt trip lg n ke phuket..jd baca ini makin mnggebu bgt ni,,pngn cpt2 kesana..🙌✈️🌍 makasiii makasii..terus berkarya y ka..hehe #lebayceritanya

    • Waah seruu ya Juni mau kesana, semoga pas cuaca cerah ceria seperti pas aku kesana, semoga lancar ya perjalanannya. Berkarya sharing insha allah akan terus dilakukan selama masih bisa jalan2 🙂 makasih udah mampiir ^^

  2. Evian

    Wuih asyik…rncana saya Mei 2016 mau eksplor Phuket..gak susah kan kak jalan-jalannya untuk menemukan pantai-pantai indah di Phuket dengan motor…? Mungkin bisa kasih tips ke saya…thx salam kenal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Jalan Sendiri ke Jepang

Sekali-sekali jalan gak pakai Tour - freedom adventures

tindak tanduk arsitek

Indri Juwono's thinking words. Architecture is not just building, it's about rural, urban, and herself. Universe.

Anila Tavisha

Ambivert creature who loves to postpone her stories

dininulis

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Ahmad & HR.Thabrani)

alfsukatmo.wordpress.com/

A place where my soul rest

Wee Line

There's always an open door for them who wanna try

Esti Murdiastuti

Melihat dunia, merenung, intropeksi maka engkau akan menemukan Tuhan-mu

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Penyukajalanjalan

Jelajahi dunia selagi bisa

santistory

.:santiari sanctuary:.

%d bloggers like this: