Jalan-Jalan Seseruan di Kyoto yang Antik – Part I (Togetsukyo Bridge, Bamboo Grooves & Kinkakuji)

Hari kedua di Japan, saya berencana untuk menghabiskan hari di Kyoto. Sebuah kota antik yang dulunya pernah menjadi Ibukota Jepang selama lebih dari 1,000 tahun. Konon, selama Kyoto menjabat sebagai Ibukota Jepang, Kyoto menjadi pusat seni dan budaya yang terbaik di masanya.

Apabila ingin ke Kyoto dari Tokyo, maka Kyto dapat dicapai dengan menggunakan Shinkansen selama kurang lebih tiga jam dan hanya sekitar satu jam dari Osaka. Atas pertimbangan waktu inilah, rasanya saya harus berkunjung ke Kyoto. Banyak temen-temen saya yang merekomendasikan kalau saya harus ke Kyoto dan menghabiskan lebih lama di Kyoto daripada di Tokyo (selera orang sih memang beda-beda yah).

DSC_0456

Kota Kyoto

Pagi itu tidak ada lagi salju tipis yang turun dari langit Osaka, hanya menyisakan udara dingin yang masih menusuk-nusuk pipi. Dengan mata zombie (karena kecapean jalan gempor semalaman di Shinsaibashi), saya langsung menuju ke Namba Station untuk membeli tiket ke Kyoto. Atas referensi dari mbak-mbak di information counter, saya dan teman-teman sepakat untuk menggunakan Hankyu Railway dari Osaka ke Kyoto. Dengan membeli Hankyu Tourist Past untuk satu hari seharga 700yen, tiket juga bisa digunakan untuk ke kota Kobe. Tapi saya dan teman-teman sepakat, hanya akan mengunjungi Kyoto saja supaya lebih berkualitas berada di satu tempat daripada sibuk mengejar kota ini-itu tapi jadi habis di jalan. Oh iya, selain itu saya juga beli tiket One Day Bus seharga 500 yen, buat jaga-jaga kalau ada tempat yang harus dijangkau dengan bus.

DSC_1369

Hankyu Railway, kereta vintage yang membawa saya menuju Kyoto

NMS_1363

Hankyu Train

Train Hankyu Railway ini bentuknya vintage banget. Jangan harap berbentuk seperti shinkansen dengan moncong lancip futuristik seperti moncong pesawat terbang. Malah lebih mirip seperti kereta batubara hehe.. tapi malah lucu lho buat foto-foto. Meskipun vintage ala-ala, bukan berarti jalannya super lelet.. tetep cepet kalau dibandingkan dengan kereta commuter line di Jakarta, tapi tentu saja tidak ada apa-apanya kalau sama shinkansen. Mengapa saya tidak memilih Shinkansen untuk berpergian di Japan? Menggunakan Shinkansen (dengan harga kurang lebih 3.5 juta untuk seminggu) memang akan lebih hemat, kalaauu kita jalan-jalan di Jepang selama kurang lebih seminggu dan akan mengunjungi banyak kota. Kalau saya, karena cuma dihitung tiga hari dan hanya dua atau tiga kota, saya rasa biaya perjalanan tidak sampai 3 juta, jadi beli tiket one day pass sudah cukup. Tetapi selalu ada hikmah di jalan yang kita pilih, di saat saya belum bisa mencoba Shinkansen yang terkenal dan harus naik kereta lain pada umumnya, mata saya malah bisa berlama-lama disuguhkan pemandangan cantik di sepanjang perjalanan.

 

Togetsukyo Bridge

(Jembatan yang Bikin Melankolis)

Tujuan pertama saya di Kyoto adalah Togetsukyo Bridge yang terletak di Arashiyama. Kebetulan di area Arashiyama terdapat beberapa lokasi yang dapat dikunjungi. Jadi sekali melangkah, bisa sekalian ke beberapa tempat, hemat waktu kaan. Hanya kurang lebih satu jam saya sampai di Arashiyama Station, dimana tempat pemberhentian terakhir dari Hankyu Railway (Arashiyama line). Kesan pertama kali ketika menginjakan kaki di Kyoto adalah Kyoto lebih tenang dan lebih bersahaja. Mungkin karena suasana stasiun Arashiyama yang tidak begitu ramai saat itu, malah cenderung sepi. Saya sempat berfoto-foto sebentar di depan Hankyu train yang vintage sebelum melanjutkan ke Togetsykyo Bridge dengan berjalan kaki.

1

Stasiun Hankyu Arashiyama – tempat pemberhentian Togetsukyo Bridge & Bamboo Grooves

DSC_0374

Sepanjang perjalanan menuju Togetsukyo Bridge

 Pemandangan saat berjalan kaki ke Togetsukyo Bridge itu sungguh menyenangkan deh! Langit biru seakan menjadi atap yang cantik tempat taman-taman kecil di area Togetsukyo Bridge bernaung. Pohon-pohon cherry yang sedang tak berdaun dan hanya menyisakan ranting-ranting kering pun terlihat indah dan membuat burung-burung di sana betah bertengger. Saya sudah membayangkan jika sedang spring season, pohon-pohon ini pasti akan menyuguhkan kita dengan pemandangan cherry blossoms yang spectacular. Di bawah Togetsukyo Bridge terdapat kali yang airnya tidak begitu deras. Di pinggiran kali terdapat banyak bangku-bangku tempat menikmati pemandangan sekitar Togetsukyo Bridge yang cantik sambil menyaksikan burung-burung bermain dan mencari makan di pinggir kali. Mata saya pun tertuju pada sepasang kakek dan nenek yang sedang duduk di pinggir kali tersebut sambil bercerita dan memakan snack. This is what we called romatic *wanita mellow :D. Enak sekali jika masa tua dihabiskan di tempat seperti ini dibandingkan di tempat gedung-gedung bertingkat dan polusi udara bersemayam.

DSC_2430

Togetsukyo Bridge – Sukses bikin melankolis ;D

DSC_1397

Pemandangan sekitar Togetsukyo Bridge – Peaceful.

DSC_2447

Pemandangan sekitar Togetsukyo Bridge – Walau kering tapi fotogenic.

DSC_1391

Baca peta dulu, biar gak nyasar ;p

DSC_0397

Suka banget sama pemandangan Togetsukyo Bridge ini!

DSC_0409

di Togetukyo Bridge

 Memang jembatan ini romantis? gak juga sih yaa.. namanya juga yang nulis langganan mellow, liat spot cantik dikit, dibilang romantis.. Sebenernya ini jembatan biasa yang dihiasi riverside park yang cantik dan pemandangan perumahan tradisional. Jadi membuat jembatan ini berkesan bersahaja aja.. Jembatan ini kayanya adalah icon yang paling terkenal di Arashiyama dan sudah pernah direkonstruksi tahun 1930.

DSC_2417

Pemandangan sekitar Togetsukyo Bridge – Kakek yang sedang memberi makan burung-burung

DSC_2437

Pemandangan Togetsukyo Bridge – one of my favorite view 🙂

DSC_1396

Pemandangan Togetsukyo Bridge – Rasanya pengen upload semua foto di sekitar Togetsukyo di blog, huhuhu..

DSC_1400

Pemandangan Togetsukyo Bridge – Dihiasi pegunungan

DSC_2533

Pemandangan di Togetsukyo Bridge – Membayangkan indahnya disini jika Autumn atau Spring 🙂

DSC_2467

Pemandangan Togetsukyo Bridge – Ditutup oleh mas-mas ini..

 Siapa menyangka saya bakalan secepat ini jatuh cinta sama Kyoto? Karena ternyata saya susah banget beranjak dari sini. Padahal masih ada beberapa destinasi yang harus di kejar hiks. Dengan langkah berat, akhirnya saya pun menyebrangi jembatan untuk menuju destinasi selanjutnya yaitu Bamboo Grooves.

 

Bamboo Grooves

(Tidak secantik di Photo)

 

Lokasi Bamboo Grooves bisa dicapai dengan jalan kaki kurang lebih 20 menit dari Togetsukyo Bridge. Nyatanya, waktu yang saya tempuh adalah lebih dari 20 menit. Karena sibuk mampir sana sini untuk sekedar melihat-lihat toko kecil dan berhenti lama di beberapa tempat karena mata saya kerap saja disuguhkan pemandangan-pemandangan yang membuat saya betah di kota ini. Toko-toko kecil di sepanjang jalan adalah berbentuk bangunan tradisional Jepang.

DSC_0413

Betah lama-lama disini!

DSC_2579

Toko yang jual souvenir Payung warna warni

Beberapa toko berlomba-lomba dihiasi payung-payung yang merekah warna-warni. Becak-becak khas Jepang berkeliaran sana-sini. Becak Jepang ini sukses menarik perhatian saya. Karena selain abang becaknya banyak yang ganteng *hihihi, becak jepang ini bukan di genjot dari belakang kayak naik sepeda, tapi ditarik dari depan. Aihh.. kebayang dong kalau yang narik ganteng bawaannya pengen ambil handuk terus bersihin keringetnya.

DSC_2583

Imut-imut gini kok kamu disuruh narik becak sih yo mas.. *gemesh

DSC_2556

Abang-abang becak

Selain itu, toko-toko makanan pun mempunyai bangku-bangku di area outdoor. Jadi pengunjung akan dimanjakan dengan pemandangan sekitar dengan udara yang sejuk. Sayang, saya tidak sempat mencoba duduk-duduk sambal ngemil di depan toko T_T karena takut gak keburu waktunya.

NMS_1413

Pengen duduk-duduk disinii, tapi gak keburu T_T

Jalan kaki yang lumayan ini jadi tidak terasa jauh sama sekali. Malah saya tidak keberatan mengulanginya lagi dan lagi dan lagi. Makanyaaa nih.. kalau ke Jepang lagi, saya niat mau menginap di Kyoto saja 🙂 .Oh iyaa.. saya juga nyobain matcha ice cream yang enaakk sampai merem melek. Bisa lah ini sepanci saya aja yang ngabisin atau repeat order 15 kali juga Beta ikhlas lahir batin!

IMG_0086

merem melek keenakan makan ice cream matcha!

DSC_1405

bangunan-bangunan lucu ini..

DSC_2561

Toko di sepanjang Arashiyama Area.

DSC_2571

Arashiyama – Kyoto

DSC_2572

little lady with boots

Sebenernya tempat macam Bamboo Grooves ini pasti banyak deh di Indonesia. Lha wong cuma ngeliatin pepohonan bamboo aja kok. Bedanya, seperti biasa, pemerintah di Negara lain agak kreatif dikit. Di belantara ribuan pohon bamboo, dibuatlah jalan di tengah yang membelah ribuan pohon-pohon bamboo itu, sehingga bisa dilalui orang untuk sekedar naik sepeda atau jalan santai. Saya membayangkan apabila malam tiba dan terjebak disini, pasti spooky. Tapi setelah saya google, kok malah cantik ya? Sepanjang jalanan/ walking path malah dihiasi lentern jadi malah remang-remang gimana gitu.

DSC_2598

Siapa yang mau gandengan tangan disiniii? 😀

Memang saya akui, tempatnya tak secantik di photo. Bisa jadi karena:

  • Di photo via google sudah di edit
  • Pada saat saya kesana, bamboo sedang tidak begitu rindang
  • Pada saat kesana, saya tidak menemukan spot yang seperti di photo, karena kan, walking pathnya panjaaang banget.
DSC_0422

Bamboo Grooves di Kyoto

 

DSC_0424

Bamboo Grooves – Adeeem dan sejuk

Walau demikian, tidak ada kekecewaan yang signifikan buat saya pada saat saya ke Bamboo Grooves. Bagi saya, tetap saja ini pengalaman yang.. yah boleh lah. Mungkin bagi pengunjung yang mempunyai banyak waktu, bisa dicoba bersepeda di walking path ini sampai titik ujung. Siapa tahu banyak spot-spot cantik di sepanjang perjalanan.

DSC_0432

Bamboo Grooves , Kyoto – Si Mbak kedinginan

DSC_1414

Jalan-jalan di Bamboo Grooves, Kyoto. Di foto-foto google, lebih baguus T_T

DSC_1419

Pemandangan Bamboo Grooves, Kyoto – Tempat asoy buat sepedahan

DSC_1422

pemandangan ini, perciss banget sama pemandangan di Sukabumi hahaha..

 

Pengen banget sih nyobain naik becak di walking path-nya bamboo grooves, kayanya sejuk-sejuk nikmeh semilir angin terus sekalian minta dianter ke Togetsukyo Bridge *dih, turis malas!*, tapi kemudian inget kalori ice cream yang harus dibakar dengan berjalan kaki :D, jadi ya akhirnya cuma bisa motret-motret becaknya aja.

 

Kinkakuji Temple – Golden Pavilion

(Temple Emas yang Bersahaja)

 

Setelah dari Bamboo Grooves, tujuan selanjutnya adalah ke Kinkakuji Temple. Lumayan agar ribet sih kesininya, karena dari station saya harus nyambung-nyambung lagi naik bus dua kali. Nyasar gak? Ya pastinya dong! Pake acara nanya dulu ke anak sekolahan yang lewat. Ihh.. unyu-unyu banget lah adek adek sekolahan ini, ngeliatin mereka bergerombol naik sepeda dengan seragam sekolahnya jadi berasa lagi nonton adorama japan hehe. Pas nunggu bus, ketemu sama orang Indonesia asal Bandung yang lagi sekolah (pertukaran) pelajar di Jepang. Langsung  cas cis cus sesundaan tararahu-tararahu sama temen-temen saya yang pada bisa ngomong sunda. Terus di rombongan mahasiswa Indonesia tersebut ada mahasiswa Jepang juga yang fasih banget ngomong bahasa Indonesia sehari-hari. Karena ngobrol-ngobrol sama mereka, jadi dapet info banyak tentang ini-itu di Jepang.

Di area Kinkakuji, ada beberapa toko yang menjual souvenir lucu-lucu. Tapi bagi saya, harganya masih terbilang mahal. Karena masih ngirit buat biaya Ski yang bakalan mahal, saya tahan nafsu belanja sampai ketemu pasar murah. Sebelum masuk ke Kinkakuji Temple, saya makan udon lagi di restaurant terdekat, tapi sayang, rasanya ternyata tidak seenak yang pertama. *kembali nelen ludah berkali-kali kalau ngetik Udon*, meski demikian, sang udon dan ocha panas berhasil menghangatkan badan saya ditengah dinginnya cuaca saat itu dan langit yang sedang mendung malu-malu.

DSC_0468

Gate masuk ke Kinkakuji Temple, Kyoto

 Walaupun mendung, pengunjung di Kinkakuji Temple ini cukup banyak, masuknya bayar 400 yen. Sebenernya niat mau sewa kimono juga sih terus foto-foto disini, tapi takut ribet dan kelamaan makenya jadi ciut deh. Akhirnya cuma bisa foto-foto aja dengan cicik cicik jepang yang lagi berkimono ria.

DSC_0509

Akhirnya cuma bisa foto-foto ama cicik berbaju Kimono di Kinkakuji Temple.

 Saya tertegun di depan Kinkakuji Temple. Kilaunya temple ini konon karena temple ini semuanya seluruhnya dilapisi lembaran emas tipis. Salju-salju masih tersisa di atap Kinkakuji dan di beberapa area pada tepi danau kecil tempat Kinkakuji berada. Dengan letaknya di atas danau kecil dan dikelilingi pepohonan dan area taman, membuat suasana di temple ini tenang dan damai. Memandang Kinkakuji, jadi membuat saya mengingat gambar di sebuah kartu pos, dimana temple ini tetap berkilau walaupun seluruh area tertutup oleh salju.

DSC_0518

Kinkakuji Temple, Kyoto – Temple emas yang bersahaja

DSC_1492

Kinkakuji Temple, Kyoto – Menyejukkan mata

DSC_1493

Kinkakuji Temple – Kyoto. Tidak bisa masuk ke dalamnya.

DSC_2635

Kinkakuji Temple, Kyoto – Reflection of Kinkakuji Temple

DSC_2663

Kinkakuji Temple, Kyoto – Sisa salju yang mengendap di atap Kinkakuji. Ranting pohonnya cantik yaa 😀

DSC_2650

Kinkakuji Temple di Kyoto – si Mbak mejeng lagi boleh dong yah.

 

Area Kinkakuji ini pun cukup luas, sayang saya tidak sempat explore semuanya, karena waktu itu mendung dan karena letaknya di danau yang banyak pepohonan, membuat area ini semakin dingin. Lagipula, di beberapa area taman, tanahnya sangat licin karena rembesan salju. Saat itu saya dan teman-teman sepakat, perjalanan dilanjutkan saja ke Gion/ Geishe district. Siapa tahu beruntung bisa ketemu Geisha beneran yang mau show ;).

*duh gak abis-abis ni catper japaaan, aaaaack. Ayo semangat nulisnyaa! #sabetdirisendiri

Advertisements
Categories: Japan | Tags: , | 2 Comments

Post navigation

2 thoughts on “Jalan-Jalan Seseruan di Kyoto yang Antik – Part I (Togetsukyo Bridge, Bamboo Grooves & Kinkakuji)

  1. Intan

    Thank info nya, informatif banget 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Jalan Sendiri ke Jepang

Sekali-sekali jalan gak pakai Tour - freedom adventures

tindak tanduk arsitek

Indri Juwono's thinking words. Architecture is not just building, it's about rural, urban, and herself. Universe.

Anila Tavisha

Ambivert creature who loves to postpone her stories

dininulis

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Ahmad & HR.Thabrani)

alfsukatmo.wordpress.com/

A place where my soul rest

Wee Line

There's always an open door for them who wanna try

Esti Murdiastuti

Melihat dunia, merenung, intropeksi maka engkau akan menemukan Tuhan-mu

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Penyukajalanjalan

Jelajahi dunia selagi bisa

santistory

.:santiari sanctuary:.

%d bloggers like this: