Jakarta

Pelukis Konte di Kota Tua

Tak banyak yang tahu tentang Pelukis serbuk konte.

Disini, di Kota Tua, Seniman Konte bersaing menjajakan karyanya.

 

Asap-asap mengepul dari bibir Bapak setengah baya itu. Tangannya sibuk menari-nari di atas kertas manila sambil sesekali mengepulkan asap rokok. Bapak itu tidak bergeming ketika saya dan teman saya datang sewaktu melihat-lihat lukisan. Kerut di dahi seakan menambah keseriusan yang terpancar di raut wajahnya. Dia adalah Pak Soben, seorang pelukis jalanan yang sehari-hari menjual karya di Kota Tua.

DSCN1459 edit

Pelukis Konte

 

Rasa penasaran terus menggelayut di benak saya. Akankah menjual karya cukup menghidupi kehidupan sehari-harinya? Sudah sejak tahun 2004 ketika Pak Soben mulai menjual karyanya di daerah Kota Tua. Sebelumnya, Pak Soben sudah mulai berjualan di daerah Pasarbaru. “Sekarang di Pasar Baru banyak pesaing neng, jadi jarang ada order juga” ucap Pak Soben sambil menyapu kuas di atas kertas manila. Sejak saat itu, Pak Soben mulai mencari cara bagaimana caranya agar bisa bertahan dan menghidupi istri dan kedua anaknya. Setelah pindah menjajakan karyanya ke Kota Tua, Pak Soben mulai memikirkan inovasi lain agar karya lukisannya tetap laku. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk belajar melukis dengan serbuk Konte.

Serbuk Konte adalah serbuk warna yang bisa dipakai untuk melukis, dengan serbuk konte bisa menambah gradasi warna yang membuat lukisan sangat mirip dengan obyek aslinya. Harganya pun tidak mahal, dengan empat puluh ribu rupiah saja, sudah bisa mendapatkan satu tube serbuk untuk satu warna. Hal ini cukup menguntungkan bagi Pak Soben, karena satu lukisan tanpa frame dengan ukuran 20R yang dijual seharga tiga ratus lima puluh ribu rupiah untuk satu orang dalam lukisan, sedangkan untuk dua orang dijual seharga tujuh ratus ribu rupiah. Jika sedang ramai pesanan, Pak Soben bisa menjual dua buah lukisan dalam satu minggu. Jika sedang sepi, satu lukisan dalam rentang waktu dua minggupun Pak Soben sudah bersyukur. “Yah, beginilah neng. Disyukuri aja masih ada yang beli walau sedikit, tetapi ada saja yang memesan lukisan melalui whatsapp” seraya Pak Soben sambil tersenyum. Wah, ternyata gini-gini Pak Soben melek teknologi. Jika pembeli berniat memesan, tidak usah lagi repot-repot datang ke Kota Tua, bisa lewat whatsapp dan lukisan akan dikirim ke rumah.

DSCN1466 edit

gradasi yang tajam hasil dari serbuk konte

 

Lima belas menit sudah saya berbincang dengan Pak Soben yang ramah. Saya pun pamit kepada Pak Soben sambil bertukar nomor telefon. Sambil berlalu, terlintas di benak saya, bahwa Pak Soben sudah memberikan pelajaran berharga buat saya, bahwa kita harus terus berusaha dan jangan menyerah. Sesulit apapun dalam mencari nafkah, pasti ada jalan bagi mereka yang berusaha.

 

 

———–

Tulisan ini dibuat sewaktu mengikuti latihan pada Workshop Travel Writing & Photography dengan pembicara Teguh Sudarisman (Pengarang Buku Travel Writer Diaries). Pada workshop ini, peserta diminta untuk belajar meliput dan menuangkan hasil liputan dalam bentuk artikel dengan isi 3-4 paragraph. Peserta juga diminta menunjukkan hasil karya fotonya. Untuung saja, pada pembagian tugas dengan teman, disepakati saya yang nulis. Karena gak bisa motret banget :p

Workshopnya tentu saja berharga bagi saya yang awam menulis. Sebelumnya, menulis bagi saya adalah cara sharing dengan tata bahasa sehari-hari dan seadanya banget. Tidak terstruktur, tidak fokus dan kemana-mana. Setelah ikut workshop ini, paling tidak tau tata cara dan trik jadi travel writer yang sukses menampilkan karyanya di media massa *kok kaya iklan klinik tong fang ya

Rasa tidak pede masih ada dan teguh bertengger. Tapi, mudah-mudahan dengan ikutan ini, jadi lebih pede lagi nunjukin hasil tulisan ke teman-teman. Semangaaat!

 

Foto-fotonya hasil karya dari teman saya sewaktu workshop, Mbak Septimar .

Categories: Jakarta | Tags: | 4 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.

Jalan Sendiri ke Jepang

Sekali-sekali jalan gak pakai Tour - freedom adventures

tindak tanduk arsitek

Indri Juwono's thinking words. Architecture is not just building, it's about rural, urban, and herself. Universe.

Anila Tavisha

Ambivert creature who loves to postpone her stories

dininulis

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Ahmad & HR.Thabrani)

alfsukatmo.wordpress.com/

A place where my soul rest

Wee Line

There's always an open door for them who wanna try

Esti Murdiastuti

Melihat dunia, merenung, intropeksi maka engkau akan menemukan Tuhan-mu

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Penyukajalanjalan

Jelajahi dunia selagi bisa

santistory

.:santiari sanctuary:.