Japan

Mencoba Onsen di Osaka, Siapa Takut?

Ini cerita ketinggalan hehe. Mau cerita dikit pengalaman Onsen-an di Jepang. Udah pada tau dong Onsen itu apa? Jujur saja, saya baru tau onsen itu apa pas baca di salah satu bukunya Trinity Traveler.  Waktu baca ceritanya, agak-agak bergidik sih..

Gak kebayang aja mandi/berendem bareng, naked pula! Walaupun sama-sama wanita, tapi kan risih ya.. jangankan berendem bareng, diperiksa dokter cewe di bagian-bagian tertentu aja itu kayaknya gimana gitu..

Tapi saya pikir lagi, tentu saja ini bakalan jadi pengalaman dan cerita yang tak akan terlupakan. Jadi saya putuskan akan mencoba Onsen di Jepang. Hihihi..

Beruntung banget, di Hotel tempat saya menginap (Dormy Inn Shinsaibashi) ternyata selain memberikan Udon gratis untuk sarapan dan makan malam, juga punya Onsen. Tentu saja gratis untuk tamu yang menginap di hotel ini. Malam pertama di Osaka, rasanya masih gak ada nyali buat nyobain Onsen. Masih gak rela gitu.. dan waktu itu juga yang kepikiran cuma satu: tidur.

Malam-malam berikutnya, nyali lama-lama terkumpul dan akhirnya membuahkan tekad bulat untuk mencoba Onsen. Waktu itu sudah jam 11 malam. Rasanya kaki mau copot dan sakit-sakit karena belum terbiasa memakai sepatu Ski, belum lagi sisa-sisa jalan kaki sampai gempor karena keliling-keliling di shopping area. Hampir saja saya batalkan niat untuk mencoba Onsen karena saya pikir, istirahat dan tidur lebih baik. Ah, tapi kapan lagi?

 Akhirnya saya melangkah gontai ke lantai atas. Tempat Onsen wanita dan laki-laki (tentu saja) dipisah. Suasana sunyi. Tidak ada orang berlalu lalang sama sekali. Hanya ada satu laki-laki berkimono di ruang tunggu di depan lift sedang membaca koran. Mukanya merah seperti kepiting rebus. Pasti dia habis Onsen-an. Karena kulit orang Jepang putih, maka berendam di air panas mungkin bisa memerahkan kulitnya.

Dia menangkap gerak-gerik saya sebagai turis yang kikuk. Mondar-mandir galau gak jelas di depan tempat onsen wanita. Deg-degan ceritanya, macam first date sama gebetan :D. Berbagai macam pikiran mulai berkeliaran di kepala saya, haduh, ini teh serius harus kudu naked?, terus kalau diliatin cewe-cewe jepang gimana? Terus terus, selama berendem itu ngapain? Sambil ngobrol? Sambil kikir-kikir kuku? Atau pura-pura cuek? Err..

Untuk masuk ruang Onsen, masing-masing tamu harus meminta pin di receptionist untuk masuk ke ruang onsen. Pin yang diterima antara wanita dan pria berbeda-beda. Jadi jika tidak memasukkan pin, pintu untuk masuk ke ruang onsen tidak akan terbuka. Kebayang dong, kalau pintu gak dikunci atau tidak pakai pin.. lagi asik-asik berendem, tiba-tiba tamu pria salah masuk. Zoong!!

 Setelah masuk ke ruang Onsen, jantung berdegup kencang. Hahaha.. ini serius, nyalinya mulai lari-larian entah kemana. Tapii.. ternyata..pas masuk ke ruangan lebih dalam lagi, ruangan KOSONG! Yihaaaaa!!!!

Ruangan Onsen cukup besar, terdiri dari, ruang ganti baju dan ada beberapa locker untuk menyimpan baju. Oh iya, saat ke ruang onsen ini, dari kamar saya sudah pakai baju ganti yang disediakan hotel dan bawa handuk. Di ruang ganti juga ada wastafel dan berbagai macam perlatan dandan, seperti bedak tabur, bedak badan, deodorant, lotion, sisir, hair dryer, parfume, dll. Ruangan lain adalah tempat berendam dan tempat mandi yang dijadikan satu. Letaknya saling berhadap-hadapan. Tempat mandinya jangan harap bilik berpintu. Cuma di sekat-sekat / dibatasi sekat kayu yang tingginya sepundak saya. Disitu ada dengklek (tempat duduk kecil, setinggi betis), sabun cair dan shampoo. Masing-masing bilik ada shower dan ember dari kayu untuk menampung air. Mandinya gimana? Ya telanjang ya sodara-sodara.. dan duduk di dengklek itu. Yasalam..

 Saya masih belum rela melepaskan pakaian dan naked di ruang itu, meskipun saat itu sedang tidak ada orang. Saya membaca beberapa peraturan di ruangan itu. Salah satunya adalah tidak boleh mengambil foto. Makanya.. tidak ada sama sekali foto ruang atau suasana onsen di tulisan ini hehehe.. lagian saya tidak membawa kamera maupun hp saat itu. Peraturan lainnya adalah, pengunjung diwajibkan mandi terlebih dahulu sebelum berendam, sehingga di saat berendam, badan dalam keadaan bersih. Kemudian, pengunjung bertato dilarang berendam. Lalu, setelah mandi, pengunjung baru diperbolehkan berendam dan tidak boleh sehelai pakaianpun menempel di badan saat berendam alias.. Naked ya. Wajib itu! Huhuhu.. Katanya sih, kalau pakai pakaian kan takut pakaiannya kotor atau ada kuman atau ada debu (info yang saya baca ya).

 Lagi asik membaca peraturan, tiba-tiba terdengar pintu terbuka dan datanglah seorang pengunjung mbak-mbak kantoran. Nyali ini yang tadinya lari-larian, tambah kabur-kaburan.. gimana dong inih? Kabur aja apaa?

Tapi saya kemudian sok-sok ganti baju dan saya ganti dengan handuk dililit-lilit tapi adegan slow motion. Maksudnya, biar si mbak duluan aja gitu..

Mbak itu pun buka baju dengan sangat cepat, disimpan di locker, kemudian dia telenji sambil jalan santai ala pragawati ke tempat mandi. Whaaatt?  Terus si mbak cuma nenteng handuk kecil (yang suka dibawa orang buat lari atau naik sepeda itu lho) yang kemudian handuk kecil itu ditaro di sekat bilik.  Sementara ini saya masih handukan dililit-lilit di badan, handuknya besar pula, handuk buat mandi.. dududu.. saltum sopan inih!

Kenapa harus telenji dari kamar ganti? Kenapa gak telenjinya di tempat pas mau mandi ajaaa? Glek!

Saya tetep keukeuh masih pake handuk dan lari-lari kecil ke tempat mandi, sempet ngelewatin si mbak yang lagi mandi di bilik pertama, karena kan ga ada pintunya ya.., jadi semacam tengok-lah-ke-arah-saya-yang-lagi-mandi-tidak papa kok, terus saya nengok lah.. hihi.. si mbak lagi mandi ngadep tembok dan duduk di dengklek sambil keramas. Ooo.. cara mandinya gitu. Ya terus saya ikutin deh, dengan terpaksa lepas handuk segede gaban yang bikin saltum sekaligus penyelamat saya dan duduk manis ala kembang desa malu-malu mandi di kali.

 Terus si mbak berjalan telenji ala catwalk ke tempat berendam.. hadudu.. bergidik bulu kuduk kuh, karena tampaknya saya harus melakukan hal yang sama. Masa mau mandi sampe keriput? Tapi harus banget ya telenji jalannya, kenapa ga ditutupin handuk dulu terus pas mau berendam baru dilepas handuknya? Kenapaa hai kenapaa?

 Beberapa menit kemudian saya menyusul si mbak T_T, lari-lari kecil masuk ke tempat berendam dan handuk saya letakkan di pinggir termpat berendam. Pas masuk.. aahh.. enaaak sedap nikmat! Air panasnya kaya mijat-mijat badan dan kaki yang pegel-pegel. Saya ngintip si mbak, ternyata dia duduk manis sambil memejamkan mata. Saya pun lantas menikmati menit-menit saya pas berendam ini. Saya lupakan ke-kikuk-an saya berendam bareng-bareng si mbak. Mata saya pejamkan dan kepala saya sandarkan di pinggiran tempat berendam dibuat seperti bebatuan di pinggir kali. Rasanya pengen tidur, rasa letih jadi seakan hilang pas berendam.

Setelah selesai, biasanya pengunjung hotel menikmati udon gratis di hotel ini. Pas banget kan, habis berendam air panas, makan makanan panas yang nikmat. Sayang sekali, waktu itu mata sudah susah di buka. Saya pun langsung tidur pulas banget malam itu.

 Hayo, pada berani mencoba? ^__^

Advertisements
Categories: Japan | Tags: , | 10 Comments

Jalan-Jalan Seseruan di Kyoto yang Antik – Part II (Yasaka Shrine, Geisha di Gion, Fushimi Inari, Belanja di Shin Kyogoku Shopping Arcade)

Nyambung dari cerita sebelumnya di Kyoto nih yaa..

Sumpah ya. Ini perjalanan udah hampir setauun, tapi masih aja ngutang nulis catpernya T_T , maafkan saya pemirsa. Semoga niat baik sharing pengalaman dan info masih diterima oleh pemirsa setanah air, hihihi

Jadi pada hari jalan-jalan di Kyoto, setelah dari Kinkakuji si Temple Emas, saya langsung melanjutkan perjalanan ke daerah Gion (Geisha District). Saat itu hari sudah mulai sore dan matahari sudah mulai malu-malu, tenaga saya pun sudah mulai habis. Oh iya, sebelumnya, sewaktu menyusun itinerary, disepakati oleh saya dan teman-teman, bahwasannya Gion akan dikunjungi pada sore hari. Kabarnya, waktu terbaik untuk mengunjungi Gion adalah memang sore hari menjelang maghrib. Kenapa? karena pada sore hari itulah, Geisha-Geisha mulai keluar untuk mempersembahkan pertunjukannya. Geisha itu apa? bagi yang belum tahu, silahkan intip disini atau gambar-gambar ini mungkin bisa mengingatkan kamu, kalau sudah pernah nonton filmnya.

Gion District ini bisa dicapai dengan bus maupun dengan train. Kalau dari Kyoto Station bisa naik bus nomor 100 atau 206 dan turun di Gion, mungkin sekitar 30 menit. Kalau dengan kereta bisa turun di Gion Shijo Station dengan Keihan Line atau di Kawaramachi dengan Hankyu Line. Saya waktu itu karena memakai Hankyu, jadi berhenti di Kawaramachi. Sewaktu turun kereta, seperti biasa kan yaa.. nyasar all the time, tapi temen-temen saya yang cowo pada demen nanya ke cicik-cicik japan yang lewat dan kebetulan saat itu lagi berkimono. Mereka baik-baik sekali deh, mau menjawab pertanyaan kita ini-itu-ina-inu tentang arah jalan. Sewaktu teman saya bilang “.. we want to go to Gion District, to see Geisha..”, mereka langsung saling tertawa dengan temannya. Mungkin mereka tertawa, karena kami turis-turis (dan kebetulan yang nanya cowo-cowo dengan mata berbinar) yang ngotot sekali ingin melihat Geisha :p

Yasaka Shrine

(Kuil dengan Lampion-lampion)

Berbekal info dari cicik-cicik japan yang belia, saya dan teman-teman melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.  Dalam perjalanan mencari Gion ini saya melewati Shirakawa area yang cantik, yang dihiasi oleh canal-canal kecil. Ini pasti jadi salah satu view favorit juga deh di Gion kalau lagi cherry blossom, karena di pinggir-pinggir canal dihiasi pohon-pohon dengan daun yang menjuntai. Selain melewati Shirakawa area ini, saya juga tidak sengaja melewati Yasaka Shrine, padahal tadinya saya mau skip aja ke tempat ini. Tetapi karena kelewatan, ya udah deh sekalian. Yasaka Shrine kala itu cantik dan penuh lampion bertengger pada dalam bangunannya. Lampion-lampion yang bertengger itu kabarnya tertulis nama-nama dari pebisnis lokal sebagai imbalan atas donasi yang sudah mereka berikan.  Ternyata, orang-orang di Kyoto lebih senang menyebutnya dengan Gion Shrine. Yasaka Shrine sendiri terdiri dari beberapa bangunan, yang tentu saja saya cuma masuk di depan-depannya aja T_T.

DSC_1508

Origami maybe?

DSC_1506

Yasaka Shrine (jalan menuju Yasaka)

DSC_1504

Yasaka Shrine

DSC_0526

Lantern di Yasaka Shrine

DSC_0525

lantern

Karena hari sudah semakin gelap, saya memutuskan untuk tidak terlalu lama di Yasaka Shrine dan langsung ke Gion, takutnya malah udah gak bisa ketemu Geisha. Sebenernya, tidak terlalu berharap sih bisa melihat Geisha, kecuali mau bayar sangat mahal untuk nonton pertunjukkannya. Karena memang kabarnya susah dan untung-untungan. Mereka kalau mau pergi ke tempat show, secara diam-diam, kadang dilindungi oleh penjaga. Kalau dilihat di foto, view di Gion ini sungguh authentic, melihat fotonya saja saya teringat film Oshin *lagi-lagi angkatan tua banget , jadi tak apalah tak ketemu Geisha, yang penting bisa mengunjungi Gion.

Gion – Geisha District

(Bertemu dengan Geisha)

Akhirnya sampailah saya pada Gion District. Benar saja, di mata saya, Gion sangat authentic! Ah, ingin rasanya berlama-lama disini. Saat itu hari sudah gelap, kira-kira jam 6 atau sekitar jam 7 malam. Gerimis tipis membasahi Gion kala itu, walau demikian, pengunjung tetap ramai dan sibuk berfoto di beberapa tempat dan mungkin, sama seperti saya, sebagian pengunjung sedang harap-harap cemas menunggu Geisha yang lewat. Hanya lampu-lampu kecil dan lantern yang sibuk menghiasi Geisha district. Sehingga tempat tidak terlalu terang, malah cenderung remang-remang. Mungkin karena inilah, Geisha District jadi terlihat lebih syahdu :p

DSC_0587

Maaf, sebagai gambar pembuka, si Mbak mejeng dulu di Gion district ini :p

Di Geisha District ini banyak terdapat retaurant yang menyediakan makanan tradisional Jepang dan cara penyajiannya pun dengan bergaya Jepang. Salah satunya sebut saja Kaiseki, dimana cara penyajiannya disajikan sangat unik dan mengkombinasikan keseimbangan antara penyajian dari rasa, penampilan dari makanan dan warna makanan itu sendiri. Apakah saya mencobanya? sayang sekali tidak. huhuhu.. hanya bisa terdiam melihat harga pada menu-menu di restaurant, harganya tidak cocok untuk pelancong macam saya ni.. mungkin suatu saat nanti saya akan mencobanya. *can i get amiieen?

DSC_0538

cicik Japan berkimono di Gion District

DSC_0573

Geisha. Malu-malu.

Waktu sendang asyik foto-foto mempelajari sejarah Geisha, tiba-tiba para pengunjung membentuk kerumunan tersendiri. Saat itu juga saya curiga, ah apakah ini  ada Geisha yang lewat? dan berakhir kekecewaan karena ternyata itu cuma lagi shooting sinetron kejar tayang.. scene saat itu adalah seorang ibu memakai kimono sedang turun dari mobil dan dipayungi oleh pemuda-pemuda di bawah naungan gerimis gerimis syahdu..

DSC_2688

Geiko di tengah gerimis..

Di saat semua mata tertuju pada pembuatan film ini (kaya di indonesia juga yah ternyata, kalau ada shooting sinetron pada melipir nonton), lalu di sebuah gang sempit, lewatlah sosok yang familiar dengan kimono dan bermuka putih pekat bagai porcelen. Ah itu Geisha! Berjalan sendiri dengan cepat dan menunduk sambil sesekali menebarkan senyum kepada pengunjung yang sibuk memotret cepat ala paparazi. Saya pun menjadi tidak enak hati mau mengambil fotonya, karena kondisi saat itu ramai dan para pengunjung saling berebut. Kadang kita para turis, suka lupa sopan santun dan bagaimana berperilaku sepantasnya demi kepuasan kita sendiri. Akhirnya saya hanya bisa melongo memandangi Geisha yang berlalu dengan cepat dan hilang sampai masuk ke sebuah restaurant (biasanya Geisha ke restaurant ini untuk bertemu klien)..

DSC_0528

Geisha di Gion District. Masih muda dan cancik ya? Temen saya dapet foto ini, suka!

Beruntung, saat itu salah satu teman saya mendapatkan gambarnya karena dia memakai lensa tele, sehingga bisa mengambil gambar dari jauh. Hail to SLR yah hehe..

DSC_0584

Geisha di Gion. Boleh ngambil foto tapi.. let’s give some respect to them 🙂

DSC_0582

Geisha di Gion.

Setelah melihat Geisha yang menggemparkan pengunjung, di beberapa kali saya juga ketemu Geisha yang masih belia. Apakah ini yang disebut Geiko atau Maiko? Dari yang saya baca, Maiko sendiri adalah Geisha yang masih muda-muda dan masih belajar. Di masa sekarang, Geisha/Geiko/Maiko sering disalah artikan dengan prostitusi, padahal menurut referensi yang saya baca, hiburan yang diberikan Geisha sangat kental dengan tradisional art misalnya dengan menari dan menyanyi.

Setelah bertemu Geisha, jadi penasaran dan jadi pengen baca bukunya lagi. See? Traveling will vastly expand your knowledge *kibas ponih

Shin Kyogoku Shopping Arcade

(Pasar murah bikin kalap!)

Setelah dari Gion dengan hati puas dan bahagia, sekarang perut yang gak bahagia, karena lapernya udah sampe ubun-ubun. Mau nyicil makan, tapi rasanya niat hati sudah mantap ainul yaqien mau kasih space yang lebar buat makan sushi, terus waktu itu konspirasi hati antara mau cari makan sushi atau cari pasar murah buat belanja. Akhirnya diputuskan, cari tempat belanja dulu dengan harapan siapa tau bisa ketemu tempat makan sushi di perjalanan. Pencarian tempat belanja dan makan sushi pun di mulai..

Motto makan malam kali ini : Makan sushi (Kaiten) sampe mabok.

Motto belanja malam ini: harus dapet barang, apapun itu *hahaha

Akhirnya muter-muterlah sayaa di tengah gerimis tipis malu-malu tanya sana-sini sama penduduk setempat.  Tanya tentang restaurant sushi (kaiten) kok orang jepang malah bingung ya.. mungkin karena terlalu banyak ya mereka jadi bingung mau kasih tau yang mana. Ibarat ada turis ke Jakarta nanya mie ayam atau warteg.. eng.. dimana ya.. ya banyak pak.. tinggal pilih :D. Berbekal signal XL gratisan selama tiga hari di Jepang *bukan iklan*,  saya sambil browsing dan berkat mbah google, ketemulah info bahwa shopping district ada di daerah Shijo Dori, Sanjo-Dori dan Kawaramachi Dori. Langsung cuss ke tempat tujuan jalan kaki aja dari Gion. Kata penduduk lokal sih shopping district bisa dicapai dalam waktu..  “oh.. jalan itu cuma 10 menit saja dari sini, tinggal belok bla..bla..” seneng banget dong. 10 menit aja udah nyampe katanya! In fact.. errr.. saya jalan kaki aja 40 menitan. Lalu baru tersadar, lha iya lah orang Jepang bilang 10 menit dengan prediksi jalannya cepet kaya mereka. Kalau lelet ya gak jadi 10 menit T_T.

Shopping district udah terlihat dari kejauhan. Tapi ternyata saya ngelewatin restaurant yang menyajikan kaiten sushi (sushi yang disajikan pada belt conveyor) di jalan Ebisucho atau kalau di Jakarta macam sushi bar gitu ya.. . Dengan mata berbinar akhirnya bela-belain makan dulu biar perut happy baru belanja. Nama restaurant itu Musashi Sushi. Saya langsung cari tempat duduk di lantai atas, tepat sebelah conveyor belt deketan sama chef yang bikin sushi. Ya ampun.. this is heaven banget!  Sushinya (tentu saja) enakkkkk! Salmonnya fresh banget. Setiap piring sushi (isi 2 pcs) dihargai 115 yen sampai 130 yen, murce mursidaaaa banget yaa.. saya dan teman-teman habis 24 piring hahahaha. Chefnya pun happy banget liat muka saya dan temen-temen happy, sambil saling memberikan thumbs up kepada chef hehe..

IMG_0139

Awalnya cuma segini..

IMG_0140

nyam nyam..

IMG_0144

Laluu jadi sginii

IMG_0149

AAaaaa, mbaknya lupa diet.

Setelah perut kenyang langsung belanja belenji, shopping districtnya deket kok dari Musashi Sushi ini.. saya dan teman-teman langsung berpencar. Saya sibuk liat coat-coat yang ternyata masih mahal buat kantong saya, hiks. Tapi sesuai motto, harus ada yang dibeli 😀 . Jadinya ngeborong oleh-oleh aja mulai dari magnet, pinset-pinset lucu, gelas-gelas kecil, oleh-oleh cholocate, Tokyo Banana  KW2 (Osaka Banana, hahaha, harap maklum, jalan-jalan belum sampe Tokyo pemirsa) sampai barang wajib oleh-oleh yaitu Kit Kat Green tea (yang disini harganya lebih murah daripada di toko oleh-oleh di sekitar Namba/Shinsaibashi – Osaka). Saya coba beli cemilan pocky chocolate crush green tea! Yang ternyata rasanya… Masyaallah Allahuakbaaaar… ENAK BANGET!!! *gedeg2 kepala*  Ini barang siapa yang menciptakannya mudah-mudahan masuk sorga.

2372464_43154e44-1066-11e3-963d-70d13284bbc6

MAMAK INI ENAK BENER!

 pic from here

Oleh-oleh di jepang memang agak mahal kalau dibandingnya di negara-negara asia yang pernah saya kunjungi sebelumnya. Tapi di pasar ini lumayan lah.. Gemes juga liat Shiseido bertebaran di mini market sekelas Seven Eleven atau Alfamart kalau di Jakarta. Shiseido di Japan ibarat Maybelline di Jakarta kali ya.. banyak beneeer di mini market. Saking capenya belanja, saya ama temen-temen sempet istirahat ngupi-ngupi santai.. rasanya kurang banget waktunya pas belanja di tempat ini. Waktu itu udah jam 20.30 malam. Udah malem sih. Udah gempor pula. Tapi saya dan temen-temen masih pengen di Kyoto. Sementara harus balik ke Osaka. Gimana doong???

Akhirnya temen saya melihat itinerary dan bergumam.. “ini Fushimi inari belum sempet kita datengin ya”. Saya baru teringat, nah iya! Padahal tempatnya cantik ya di foto. Lalu saya bilang “iya sayang banget ya.. coba kalau sempet tadi siang sebelum tutup”. Lalu diperhatikan di itinerary, tertulis kalau tempatnya buka 24 hours. Saya dan teman-teman pun seakan sudah satu suara tanpa harus mengatakan kata-kata. Iya! Saya dan teman-teman akan ke Fushimi Inari. Malam-malam.

Ga ada fotonyaa shopping arcade ini.. sibuk belanjaa 😀

Fushimi Inari

(.. di malam hari ..)

 Saya dan teman-temanpun lantas memberi label pada diri sendiri dengan sebutan “turis-turis gila” karena nekat ke Fushimi Inari walaupun sudah hampir jam 9 malam. Apa yang bisa dilihat malam-malam gini? Sebenernya sih, ini untuk memuaskan rasa penasaran aja hehe.. masa udah ada di itinerary tapi gak jadi didatengi, apalagi buka 24 jam, apalagi belum mau pulang ke Osaka hehe..

Ke Fushimi Inari ini untungnya cukup gampang, tinggal berhenti di station Fushimi Inari dan dari situ jalan kaki. Katanyaaaa.. sih dekeet, tapi tetep ajaa, karena sudah malem dan masih gerimis tipis, kok kayanya gak nyampe-nyampe. Kira-kira jalan 15 menit dari station Fushimi Inari, baru sampe di lokasi.

Walau buka 24 jam, tapi saat itu sudah sepi.. banget. Yaiyalah kaaaak.. turis macam manaa yang dateng ke tempat gini malem-malem. Cuma sisa penjaga satu biji, saya dan teman-teman. Suasana saat itu gelap dengan lampu minim. Fushimi Inari ini terkenal dengan vermilion tori gates yang berwarna orange menyala dan jumlahnya ribuan. Nah, tori gates yang jumlahnya ribuan itu menuntun jalan ke.. hutan.. untuk mencapai Mount Inari. Sebagai penakut kelas kakap, saya udah gak nyaman banget foto-foto di Fushimi Inari malam itu, apalagi fotonya kan sendiri-sendiri yaa.. yang lain megangin flash. Takut ada penampakan di belakang. Sungguh.. 😥 apalagi di belakang tori gates yang banyak itu ya seperti pepohonan rindang, namanya juga jalan menuju hutan ya. Sayang banget, coba kalau siang-siang kesini, pasti cantik dan bisa explore tempat ini yang luaaas banget kalau dilihat dari petanya.

DSC_0629

coba deh liat, gelap giniii..

DSC_0617

Yang orange itu yang disebut Torii gates. Ada ribuan disini. Tapii.. udah malem, jadi gak banyak foto-foto. Ngeri-ngeri sedap foto malem-malem disini :p

ini niat hati mau share beberapa foto Fushimi Inari, ga taunya pas milih-milih, kok kebanyakan ada muka saya ama temen-temen.. jadi maaf yaa.. cuma ini aja deh fotonya :/

DSC_0633

Fushimi Inari di Kyoto

DSC_0635

Peta Fushimi Inari – Luaaas kaan

Saya hanya sebentar aja disini dan saya yang paling rewel minta udahan aja foto-fotonya. Serem hahaha.. cih! Udah penakut, manja pula kamu mbak.

Tapi kan, jadinya udah gak penasaran.. mungkin kalau ke Kyoto lagi pengen kesini lagi deh.. mungkin lho ya hehe. Akhirnya cuma setengah jam deh disana, langsung balik ke Osaka. Station juga sepiii.. banget.. untung ada Opa-opa Japan yang nemenin kita sampe Osaka. Ah Opa, baik sekali kamu ya 🙂

 

Ini catper JAPAN kelar jugaa pemirsaa! Semoga ada info-info yang membantu pembaca yang mau jalan-jalan ke Kyoto atau Osaka.

 

Happy Traveling!

Categories: Japan | Tags: , | 6 Comments

Jalan-Jalan Seseruan di Kyoto yang Antik – Part I (Togetsukyo Bridge, Bamboo Grooves & Kinkakuji)

Hari kedua di Japan, saya berencana untuk menghabiskan hari di Kyoto. Sebuah kota antik yang dulunya pernah menjadi Ibukota Jepang selama lebih dari 1,000 tahun. Konon, selama Kyoto menjabat sebagai Ibukota Jepang, Kyoto menjadi pusat seni dan budaya yang terbaik di masanya.

Apabila ingin ke Kyoto dari Tokyo, maka Kyto dapat dicapai dengan menggunakan Shinkansen selama kurang lebih tiga jam dan hanya sekitar satu jam dari Osaka. Atas pertimbangan waktu inilah, rasanya saya harus berkunjung ke Kyoto. Banyak temen-temen saya yang merekomendasikan kalau saya harus ke Kyoto dan menghabiskan lebih lama di Kyoto daripada di Tokyo (selera orang sih memang beda-beda yah).

DSC_0456

Kota Kyoto

Pagi itu tidak ada lagi salju tipis yang turun dari langit Osaka, hanya menyisakan udara dingin yang masih menusuk-nusuk pipi. Dengan mata zombie (karena kecapean jalan gempor semalaman di Shinsaibashi), saya langsung menuju ke Namba Station untuk membeli tiket ke Kyoto. Atas referensi dari mbak-mbak di information counter, saya dan teman-teman sepakat untuk menggunakan Hankyu Railway dari Osaka ke Kyoto. Dengan membeli Hankyu Tourist Past untuk satu hari seharga 700yen, tiket juga bisa digunakan untuk ke kota Kobe. Tapi saya dan teman-teman sepakat, hanya akan mengunjungi Kyoto saja supaya lebih berkualitas berada di satu tempat daripada sibuk mengejar kota ini-itu tapi jadi habis di jalan. Oh iya, selain itu saya juga beli tiket One Day Bus seharga 500 yen, buat jaga-jaga kalau ada tempat yang harus dijangkau dengan bus.

DSC_1369

Hankyu Railway, kereta vintage yang membawa saya menuju Kyoto

NMS_1363

Hankyu Train

Train Hankyu Railway ini bentuknya vintage banget. Jangan harap berbentuk seperti shinkansen dengan moncong lancip futuristik seperti moncong pesawat terbang. Malah lebih mirip seperti kereta batubara hehe.. tapi malah lucu lho buat foto-foto. Meskipun vintage ala-ala, bukan berarti jalannya super lelet.. tetep cepet kalau dibandingkan dengan kereta commuter line di Jakarta, tapi tentu saja tidak ada apa-apanya kalau sama shinkansen. Mengapa saya tidak memilih Shinkansen untuk berpergian di Japan? Menggunakan Shinkansen (dengan harga kurang lebih 3.5 juta untuk seminggu) memang akan lebih hemat, kalaauu kita jalan-jalan di Jepang selama kurang lebih seminggu dan akan mengunjungi banyak kota. Kalau saya, karena cuma dihitung tiga hari dan hanya dua atau tiga kota, saya rasa biaya perjalanan tidak sampai 3 juta, jadi beli tiket one day pass sudah cukup. Tetapi selalu ada hikmah di jalan yang kita pilih, di saat saya belum bisa mencoba Shinkansen yang terkenal dan harus naik kereta lain pada umumnya, mata saya malah bisa berlama-lama disuguhkan pemandangan cantik di sepanjang perjalanan.

 

Togetsukyo Bridge

(Jembatan yang Bikin Melankolis)

Tujuan pertama saya di Kyoto adalah Togetsukyo Bridge yang terletak di Arashiyama. Kebetulan di area Arashiyama terdapat beberapa lokasi yang dapat dikunjungi. Jadi sekali melangkah, bisa sekalian ke beberapa tempat, hemat waktu kaan. Hanya kurang lebih satu jam saya sampai di Arashiyama Station, dimana tempat pemberhentian terakhir dari Hankyu Railway (Arashiyama line). Kesan pertama kali ketika menginjakan kaki di Kyoto adalah Kyoto lebih tenang dan lebih bersahaja. Mungkin karena suasana stasiun Arashiyama yang tidak begitu ramai saat itu, malah cenderung sepi. Saya sempat berfoto-foto sebentar di depan Hankyu train yang vintage sebelum melanjutkan ke Togetsykyo Bridge dengan berjalan kaki.

1

Stasiun Hankyu Arashiyama – tempat pemberhentian Togetsukyo Bridge & Bamboo Grooves

DSC_0374

Sepanjang perjalanan menuju Togetsukyo Bridge

 Pemandangan saat berjalan kaki ke Togetsukyo Bridge itu sungguh menyenangkan deh! Langit biru seakan menjadi atap yang cantik tempat taman-taman kecil di area Togetsukyo Bridge bernaung. Pohon-pohon cherry yang sedang tak berdaun dan hanya menyisakan ranting-ranting kering pun terlihat indah dan membuat burung-burung di sana betah bertengger. Saya sudah membayangkan jika sedang spring season, pohon-pohon ini pasti akan menyuguhkan kita dengan pemandangan cherry blossoms yang spectacular. Di bawah Togetsukyo Bridge terdapat kali yang airnya tidak begitu deras. Di pinggiran kali terdapat banyak bangku-bangku tempat menikmati pemandangan sekitar Togetsukyo Bridge yang cantik sambil menyaksikan burung-burung bermain dan mencari makan di pinggir kali. Mata saya pun tertuju pada sepasang kakek dan nenek yang sedang duduk di pinggir kali tersebut sambil bercerita dan memakan snack. This is what we called romatic *wanita mellow :D. Enak sekali jika masa tua dihabiskan di tempat seperti ini dibandingkan di tempat gedung-gedung bertingkat dan polusi udara bersemayam.

DSC_2430

Togetsukyo Bridge – Sukses bikin melankolis ;D

DSC_1397

Pemandangan sekitar Togetsukyo Bridge – Peaceful.

DSC_2447

Pemandangan sekitar Togetsukyo Bridge – Walau kering tapi fotogenic.

DSC_1391

Baca peta dulu, biar gak nyasar ;p

DSC_0397

Suka banget sama pemandangan Togetsukyo Bridge ini!

DSC_0409

di Togetukyo Bridge

 Memang jembatan ini romantis? gak juga sih yaa.. namanya juga yang nulis langganan mellow, liat spot cantik dikit, dibilang romantis.. Sebenernya ini jembatan biasa yang dihiasi riverside park yang cantik dan pemandangan perumahan tradisional. Jadi membuat jembatan ini berkesan bersahaja aja.. Jembatan ini kayanya adalah icon yang paling terkenal di Arashiyama dan sudah pernah direkonstruksi tahun 1930.

DSC_2417

Pemandangan sekitar Togetsukyo Bridge – Kakek yang sedang memberi makan burung-burung

DSC_2437

Pemandangan Togetsukyo Bridge – one of my favorite view 🙂

DSC_1396

Pemandangan Togetsukyo Bridge – Rasanya pengen upload semua foto di sekitar Togetsukyo di blog, huhuhu..

DSC_1400

Pemandangan Togetsukyo Bridge – Dihiasi pegunungan

DSC_2533

Pemandangan di Togetsukyo Bridge – Membayangkan indahnya disini jika Autumn atau Spring 🙂

DSC_2467

Pemandangan Togetsukyo Bridge – Ditutup oleh mas-mas ini..

 Siapa menyangka saya bakalan secepat ini jatuh cinta sama Kyoto? Karena ternyata saya susah banget beranjak dari sini. Padahal masih ada beberapa destinasi yang harus di kejar hiks. Dengan langkah berat, akhirnya saya pun menyebrangi jembatan untuk menuju destinasi selanjutnya yaitu Bamboo Grooves.

 

Bamboo Grooves

(Tidak secantik di Photo)

 

Lokasi Bamboo Grooves bisa dicapai dengan jalan kaki kurang lebih 20 menit dari Togetsukyo Bridge. Nyatanya, waktu yang saya tempuh adalah lebih dari 20 menit. Karena sibuk mampir sana sini untuk sekedar melihat-lihat toko kecil dan berhenti lama di beberapa tempat karena mata saya kerap saja disuguhkan pemandangan-pemandangan yang membuat saya betah di kota ini. Toko-toko kecil di sepanjang jalan adalah berbentuk bangunan tradisional Jepang.

DSC_0413

Betah lama-lama disini!

DSC_2579

Toko yang jual souvenir Payung warna warni

Beberapa toko berlomba-lomba dihiasi payung-payung yang merekah warna-warni. Becak-becak khas Jepang berkeliaran sana-sini. Becak Jepang ini sukses menarik perhatian saya. Karena selain abang becaknya banyak yang ganteng *hihihi, becak jepang ini bukan di genjot dari belakang kayak naik sepeda, tapi ditarik dari depan. Aihh.. kebayang dong kalau yang narik ganteng bawaannya pengen ambil handuk terus bersihin keringetnya.

DSC_2583

Imut-imut gini kok kamu disuruh narik becak sih yo mas.. *gemesh

DSC_2556

Abang-abang becak

Selain itu, toko-toko makanan pun mempunyai bangku-bangku di area outdoor. Jadi pengunjung akan dimanjakan dengan pemandangan sekitar dengan udara yang sejuk. Sayang, saya tidak sempat mencoba duduk-duduk sambal ngemil di depan toko T_T karena takut gak keburu waktunya.

NMS_1413

Pengen duduk-duduk disinii, tapi gak keburu T_T

Jalan kaki yang lumayan ini jadi tidak terasa jauh sama sekali. Malah saya tidak keberatan mengulanginya lagi dan lagi dan lagi. Makanyaaa nih.. kalau ke Jepang lagi, saya niat mau menginap di Kyoto saja 🙂 .Oh iyaa.. saya juga nyobain matcha ice cream yang enaakk sampai merem melek. Bisa lah ini sepanci saya aja yang ngabisin atau repeat order 15 kali juga Beta ikhlas lahir batin!

IMG_0086

merem melek keenakan makan ice cream matcha!

DSC_1405

bangunan-bangunan lucu ini..

DSC_2561

Toko di sepanjang Arashiyama Area.

DSC_2571

Arashiyama – Kyoto

DSC_2572

little lady with boots

Sebenernya tempat macam Bamboo Grooves ini pasti banyak deh di Indonesia. Lha wong cuma ngeliatin pepohonan bamboo aja kok. Bedanya, seperti biasa, pemerintah di Negara lain agak kreatif dikit. Di belantara ribuan pohon bamboo, dibuatlah jalan di tengah yang membelah ribuan pohon-pohon bamboo itu, sehingga bisa dilalui orang untuk sekedar naik sepeda atau jalan santai. Saya membayangkan apabila malam tiba dan terjebak disini, pasti spooky. Tapi setelah saya google, kok malah cantik ya? Sepanjang jalanan/ walking path malah dihiasi lentern jadi malah remang-remang gimana gitu.

DSC_2598

Siapa yang mau gandengan tangan disiniii? 😀

Memang saya akui, tempatnya tak secantik di photo. Bisa jadi karena:

  • Di photo via google sudah di edit
  • Pada saat saya kesana, bamboo sedang tidak begitu rindang
  • Pada saat kesana, saya tidak menemukan spot yang seperti di photo, karena kan, walking pathnya panjaaang banget.
DSC_0422

Bamboo Grooves di Kyoto

 

DSC_0424

Bamboo Grooves – Adeeem dan sejuk

Walau demikian, tidak ada kekecewaan yang signifikan buat saya pada saat saya ke Bamboo Grooves. Bagi saya, tetap saja ini pengalaman yang.. yah boleh lah. Mungkin bagi pengunjung yang mempunyai banyak waktu, bisa dicoba bersepeda di walking path ini sampai titik ujung. Siapa tahu banyak spot-spot cantik di sepanjang perjalanan.

DSC_0432

Bamboo Grooves , Kyoto – Si Mbak kedinginan

DSC_1414

Jalan-jalan di Bamboo Grooves, Kyoto. Di foto-foto google, lebih baguus T_T

DSC_1419

Pemandangan Bamboo Grooves, Kyoto – Tempat asoy buat sepedahan

DSC_1422

pemandangan ini, perciss banget sama pemandangan di Sukabumi hahaha..

 

Pengen banget sih nyobain naik becak di walking path-nya bamboo grooves, kayanya sejuk-sejuk nikmeh semilir angin terus sekalian minta dianter ke Togetsukyo Bridge *dih, turis malas!*, tapi kemudian inget kalori ice cream yang harus dibakar dengan berjalan kaki :D, jadi ya akhirnya cuma bisa motret-motret becaknya aja.

 

Kinkakuji Temple – Golden Pavilion

(Temple Emas yang Bersahaja)

 

Setelah dari Bamboo Grooves, tujuan selanjutnya adalah ke Kinkakuji Temple. Lumayan agar ribet sih kesininya, karena dari station saya harus nyambung-nyambung lagi naik bus dua kali. Nyasar gak? Ya pastinya dong! Pake acara nanya dulu ke anak sekolahan yang lewat. Ihh.. unyu-unyu banget lah adek adek sekolahan ini, ngeliatin mereka bergerombol naik sepeda dengan seragam sekolahnya jadi berasa lagi nonton adorama japan hehe. Pas nunggu bus, ketemu sama orang Indonesia asal Bandung yang lagi sekolah (pertukaran) pelajar di Jepang. Langsung  cas cis cus sesundaan tararahu-tararahu sama temen-temen saya yang pada bisa ngomong sunda. Terus di rombongan mahasiswa Indonesia tersebut ada mahasiswa Jepang juga yang fasih banget ngomong bahasa Indonesia sehari-hari. Karena ngobrol-ngobrol sama mereka, jadi dapet info banyak tentang ini-itu di Jepang.

Di area Kinkakuji, ada beberapa toko yang menjual souvenir lucu-lucu. Tapi bagi saya, harganya masih terbilang mahal. Karena masih ngirit buat biaya Ski yang bakalan mahal, saya tahan nafsu belanja sampai ketemu pasar murah. Sebelum masuk ke Kinkakuji Temple, saya makan udon lagi di restaurant terdekat, tapi sayang, rasanya ternyata tidak seenak yang pertama. *kembali nelen ludah berkali-kali kalau ngetik Udon*, meski demikian, sang udon dan ocha panas berhasil menghangatkan badan saya ditengah dinginnya cuaca saat itu dan langit yang sedang mendung malu-malu.

DSC_0468

Gate masuk ke Kinkakuji Temple, Kyoto

 Walaupun mendung, pengunjung di Kinkakuji Temple ini cukup banyak, masuknya bayar 400 yen. Sebenernya niat mau sewa kimono juga sih terus foto-foto disini, tapi takut ribet dan kelamaan makenya jadi ciut deh. Akhirnya cuma bisa foto-foto aja dengan cicik cicik jepang yang lagi berkimono ria.

DSC_0509

Akhirnya cuma bisa foto-foto ama cicik berbaju Kimono di Kinkakuji Temple.

 Saya tertegun di depan Kinkakuji Temple. Kilaunya temple ini konon karena temple ini semuanya seluruhnya dilapisi lembaran emas tipis. Salju-salju masih tersisa di atap Kinkakuji dan di beberapa area pada tepi danau kecil tempat Kinkakuji berada. Dengan letaknya di atas danau kecil dan dikelilingi pepohonan dan area taman, membuat suasana di temple ini tenang dan damai. Memandang Kinkakuji, jadi membuat saya mengingat gambar di sebuah kartu pos, dimana temple ini tetap berkilau walaupun seluruh area tertutup oleh salju.

DSC_0518

Kinkakuji Temple, Kyoto – Temple emas yang bersahaja

DSC_1492

Kinkakuji Temple, Kyoto – Menyejukkan mata

DSC_1493

Kinkakuji Temple – Kyoto. Tidak bisa masuk ke dalamnya.

DSC_2635

Kinkakuji Temple, Kyoto – Reflection of Kinkakuji Temple

DSC_2663

Kinkakuji Temple, Kyoto – Sisa salju yang mengendap di atap Kinkakuji. Ranting pohonnya cantik yaa 😀

DSC_2650

Kinkakuji Temple di Kyoto – si Mbak mejeng lagi boleh dong yah.

 

Area Kinkakuji ini pun cukup luas, sayang saya tidak sempat explore semuanya, karena waktu itu mendung dan karena letaknya di danau yang banyak pepohonan, membuat area ini semakin dingin. Lagipula, di beberapa area taman, tanahnya sangat licin karena rembesan salju. Saat itu saya dan teman-teman sepakat, perjalanan dilanjutkan saja ke Gion/ Geishe district. Siapa tahu beruntung bisa ketemu Geisha beneran yang mau show ;).

*duh gak abis-abis ni catper japaaan, aaaaack. Ayo semangat nulisnyaa! #sabetdirisendiri

Categories: Japan | Tags: , | 2 Comments

Blog at WordPress.com.

Jalan Sendiri ke Jepang

Sekali-sekali jalan gak pakai Tour - freedom adventures

tindak tanduk arsitek

Indri Juwono's thinking words. Architecture is not just building, it's about rural, urban, and herself. Universe.

Anila Tavisha

Ambivert creature who loves to postpone her stories

dininulis

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Ahmad & HR.Thabrani)

alfsukatmo.wordpress.com/

A place where my soul rest

Wee Line

There's always an open door for them who wanna try

Esti Murdiastuti

Melihat dunia, merenung, intropeksi maka engkau akan menemukan Tuhan-mu

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Penyukajalanjalan

Jelajahi dunia selagi bisa

santistory

.:santiari sanctuary:.