Jogja

Ratu Boko & Eksotisme Ulen Sentalu

Tahun baru kemarin, saya memilih untuk menghabiskan waktu ke Jogja. Tidak ada niat untuk kemana-mana, hanya ingin santai, kulineran dan tentunya belanja sampe gempor di Malioboro. Lagipula, dimana-mana cuaca sedang sering hujan. Sehingga membuat saya tambah males untuk kemana-mana karena cuaca yang sedang mewek terus. Alasan lain, kalau mau ke banyak tujuan juga akan membutuhkan sewa mobil = di tahun baru = mahal = macet. Jadi Becak dan trans jogja adalah pilihan paling ciamik.

Tapi kemudian, beberapa tempat muncul di benak saya, mengundang untuk didatangi. Bah! Bagaimana ini, niat gak pengen kemana-mana kok jadi ada-aja-yang-harus-didatengin? Saya jadi inget, di waktu yang berbarengan, ada temen nanya “neng, enaknya ke Bali kemana aja sih? Gak tau lagi harus kemana.” Saya pun bengong. Bukan bengong karena sama-sama gak tau, tapi bengong karena ‘kok bisaaa, ke Bali tapi gak tau mau kemana?’ kalo saya, pasti udah kebalikannya, waktu terbatas, tapi list yang mau didatengin pun bererot. Kejadian juga sama pas ke Jogja ini, niat gak kemana-mana, heeeeehh… jadi ada aja beberapa list. Gak bakat deh ya, jadi traveler go-show. Akhirnya, saya tetep fokus ke “Hujan. Jadi kuliner dan belanja adalah wisata yang terbaik dan gak ngerepotin” hehe.

Melihat Sendra Tari Ramayana pun kandas, karena setelah di cek, lagi diadain di Indoor karena faktor cuaca (antisipasi hujan), saya pikir-pikir, nanti ajalah pas outdoor dan purnama. Pilihan jatuh ke Candi Prambanan – Ratu Boko yang lokasinya masih berdekatan dan Museum Ulen Sentalu di Kaliurang. Karena keukeuh gak mau sewa mobil, jadinya sibuk cari-cari info transportasi untuk mencapai dua lokasi tersebut.

Candi Prambanan & Ratu Boko

Sebenarnya, Ratu Boko ini ciamik banget pas sunset. Tapi, mempertimbangkan perkiraan kalau sore takutnya hujan, jadi jam 8 pagi langsung menuju Prambanan. Jika naik kendaraan umum, Prambanan bisa dicapai dengan Trans Jogja dengan biaya 3000 rupiah saja, murceee dong?. Waktu itu saya naik dari Trans Jogja di daerah Barbasari, bilang ke Mba penjaga mau ke Prambanan. Dari daerah Barbasari ke Prambanan cuma 20 menit saja dan turun di Terminal Prambanan. Kalo dari Malioboro juga bisa banget, pokoknya tinggal konsultasi deh sama mba/mas penjaga trans jogja. Dari Halte Prambanan saya naik becak ke pintu masuknya, sebenernya deket sih.. tapi cuaca saat itu PANAS POL ngelebihin di pantai. Dan rumus saya turis lokal lebih males dari turis asing *memandang kagum bule-bule yang ada jalan kaki

Harga tiket masuk ada dua, saya pilih yang idr 45.000 termasuk paket ke Ratu Boko (free shuttle ke Ratu Boko). Setelah membeli tiket di pintu masuk, penjaga akan memberikan semacam kain sarung bermotif batik untuk dipakai setiap pengunjung yang masuk ke Prambanan. Katanya penjaganya “iya mbak, sekarang wajib dipakai, untuk melestarikan budaya batik”, sungguh niat yang mulia. Jadi gak tega ngelepasnya :P.  Prambanan siang itu… , rame. Yaiayalahya libur akhir tahun pan pada liburan se-RT sekampung halaman dong. Akhirnya saya masuk juga ke Prambanan.. horeee!! Norak yaa, soalnya dulu cuma ngambil fotonya dari jarak jauh. Terus gara-gara di Prambanan ini, sukses saya tambah item dan tangannya belang separo. Gara-gara aktivitas wajib potosyut, hahahaha *dikemplang berjamaah*.  Candi Prambanan ini terkenal dengan kisah Rara Jonggrang/Loro Jonggrang yang dibangun pada abad ke-9 Masehi dan termasuk situs warisan dunia UNESCO. Lalu, saya baru tahu kalau arti dari Rara Jonggrang adalah Dara (gadis) Langsing.

DSC_0005

Prambanan yang Elok 🙂

DSC_0099

Prambanan waktu cerah

Setelah muterin Prambanan saya langsung menuju ke Ratu Boko, mumpung cuaca masih terik banget. Saya menunggu shuttle yang masih terletak di dalam Prambanan. Karena waktu itu sedang ramai, naik shuttle nya harus ngambil nomer dulu, semacam antri di bank :D. Jarak Prambanan – Ratu Boko hanya 15 menitan atau sekitar 3km dari Prambanan. Pada akhir jalan menuju kesana, jalannya lumayan sempit dan berkelok-kelok. Gerbang / Gapura Ratu Boko itu cantik banget. Saya gemeess.. karena gak bisa foto ekslusif disana gegara ramainya pengunjung  dan beneran deh, harusss banget liat sunset di Ratu Boko. Udah kebayang suasana magisnya. Sayang banget saya gak kesampean liat sunset karena shuttle hanya sampai jam 3 sore, jadi memang kalau ke Boko harus sewa mobil. Mauuu kesini lagi liat sunset! Oh iya, biaya masuk untuk sunset Ratu Boko pun beda, sekitar idr 75.000. Istana Ratu Boko ini terletak di atas bukit, jadi jangan sampai melewatkan pemandangan kota Jogja dengan latar belakang Gunung Merapi dari sini ya!

DSC_0116

Ratu Boko dan para penampakan. Susah banget ambil gambar Ratu Boko tanpa penampakan. Karena saat itu lagi ramai 😛

DSC_0101

Ratu Boko sebelum hujan. Menduuung..

Eksotisme Ullen Sentalu

Saya tau Museum Ullen Sentalu ini dari temen, katanya sih bagus dan gak ngebosenin. Tapi yang jadi PR adalah menuju kesana, karena museum ini terletak di KM25 Jl. Kaliurang. Jeng jeng! Trans Jogja pun belum sampai sana. Berbekal info dari mbah gugel akhirnya dapet juga rute gembel nya. Saya start jam 10 pagi, jadi karena penginapan saya ada di Jl. Mangkubumi (dekat Malioboro), saya ke halte trans terdekat  menuju halte Kentungan (dari manapun naik trans nya, berhentinya di halte Kentungan ya). Dari kentungan saya naik angkot (serupa elf) seharga idr 9000 ke kaliurang. Perlu dicatat bagi yang rela bergembel-gembel: angkot ini satu-satunya transportasi ke Kaliurang atau yang menuju Ullen sentalu dan angkot balik dari Kaliurang ke Kentungan hanya tersedia sampai jam 3 sore. Ini penting bener buat dicatet ya wahai gembelers sekalian setanah air.. Karena saya baca-baca gak ada ojek, taksi pun jarang ada dan jarang ada yang mau karena jauh hehe..

Perjalanan elf butut itu memakan waktu 45 menit s/d sejam lah.. kalo kelewat butut kayanya lebih lama lagi deh. Dalam perjalanan saya kerjaannya merhatiin KM jalan aja, takut kelewat bablas.. Halte Kentungan di KM5, Ullen Sentalu di KM25, jadi ngitung mundur seperjalanan sambil tidur bangun.. KM6 .. KM10.. KM14… KM18.. semakin deket semakin deg-degan. Karena bekal informasinya dari gugel “turun di pertigaan hotel vogels”. Bah.. cemmana nama hotelnya! Karena takut bablas, saya bilang aja ke supir elf, “Pak nanti saya berhenti di KM25 pertigaan hotel Vogels mau ke Ullen Sentalu ya!” dan diliatin penumpang se-angkot dengan muka “oohh-mba-mba-ini-turis-lokal-toh” *maluuwh

Beruntung si Supir ramah dan sopan. Saya turun di pertigaan hotel vogels (yang beneran aja gak keliatan bacaan hotel vogels nya), lalu jalan kaki ke arah kiri. Sektiar 20M belok kiri dan disitulah pintu Museum Ullen berada. Disitu saya liat sudah ada beberapa mobil parkir. cuma satu yang ada di benak saya “Pulangnya nebeng dooong!” . Waktu menunjukan jam 11.30, udah niat pokoknya setelah masuk mau langsung makan dulu di Beukenhof, karena laper abis off road versi siput naik elf. Tapi yang bikin kaget adalah perkataan mba-mba penjaga Museum yang bilang “Silahkan Mba, masuknya nanti bareng-bareng dengan yang lain ya, dan wajib ikutin tour guide nya akan ada pengarahan selama 50 menit  ja.. ja.. jadi… kudu wajib harus ikutan tour bersama guide gitu kakaaak? Kakaknyaaa, saya laper inih! Kesini mau makan di resto Beukenhof sama foto-foto ajaaa!

 Tetapi, ternyata mengikuti tour bersama guide itu memang wajib, karena dengan begitu kita wajib mendengarkan sejarah museum ini dan sejarah kebudayaan jawa pastinya. Ah, lagi-lagi niat yang mulia. Akhirnya hati ini luruh dan dengan ikhlas mengikuti tour. Dan, hei! Tour nya tidak membosankan seperti yang saya kira, karena museum ini memang ciamik dan eksotis. Setiap sejarah dan budaya kerajaan dibuatkan ruangan sendiri-sendiri. Ruangan pertama yang saya masuki adalah Guwa Sela Griya yang terletak dibawah tanah yang terbuat dari batu. Lorong-lorong nya dibuat temaram dan pilar-pilarnya membuat kita merasa memasuki lorong waktu kembali ke masa lampau. Disini akan diceritakan sejarah kerajaan seperti Mangkunegaran dan Paku Alaman. Ruangan favorite saya adalah, Royal Room Ratu Emas. Baju-baju jawa yang dipakai sungguh elegan designnya. Dengan letaknya Museum ini yang berada di atas bukit, membuat museum ini adem dan dingin. Suka banget! Tapi sayang, beberapa bagian terbaik dari museum saya gak dapet fotonya, karena foto-foto di museum ini dilarang. Iya, dilarang. Pas saya tanya kenapa? Guide menjawab, untuk melindungi hak cipta empunya museum. Saya hanya diperbolehkan berfoto-foto di beberapa tempat (di luar bangunan museum).

Dengan mendengarkan Guide, saya jadi tau perbedaan corak batik jogja dan solo. Masing-masing corak mempunyai nama dan arti. Masing-masing corak mempunyai waktu tersendiri kapan harus dipakai. Ada beberapa corak, hanya diperuntukkan untuk kerajaan dan tidak boleh dipakai oleh orang biasa. Pun saya jadi tahu sejarah kerajaan kerajaan jawa dan putri-putrinya yang terkenal dan intelektual. Guide bilang, “kalau bukan kita yang melestarikan kebudayaan Indonesia, siapa lagi? Dan untuk melestarikan kita harus tahu dulu sejarahnya”

DSC_0272

Ullen Sentalu (gak bisa sepuasnya foto-foto)

DSC_0285

Di salah satu bagian Ullen Sentalu

DSC_0289

Pintu Keluar Ullen Sentalu

DSC_0290

Jalan ke Beukenhof.

DSC_0292

kebetulan ketemu mbak ini lagi di Ullen. Hihih.. eksis mbak nya

DSC_0303

Mbaknya pasti seneng, ini motret pake lensa apa ya? kakinya jadi keliatan ramping deh mbak..

DSC_0309

Bangunan putih itu adalah restaurant Beukenhof 🙂

DSC_0310

Teduh 🙂

DSC_0326

View from Beukenhof . Suka!

DSC_0340

Selagi menunggu makanan datang.

DSC_0355

Interior Beukenhof

DSC_0358

Classic interior

DSC_0362

Jadul ya?

DSC_0364

Lunch, anyone?

Bener juga ya? Yuk ke Ullen Sentalu, gak akan bosen!

Advertisements
Categories: Jogja | Tags: | 2 Comments

Blog at WordPress.com.

Jalan Sendiri ke Jepang

Sekali-sekali jalan gak pakai Tour - freedom adventures

tindak tanduk arsitek

Indri Juwono's thinking words. Architecture is not just building, it's about rural, urban, and herself. Universe.

Anila Tavisha

Ambivert creature who loves to postpone her stories

dininulis

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Ahmad & HR.Thabrani)

alfsukatmo.wordpress.com/

A place where my soul rest

Wee Line

There's always an open door for them who wanna try

Esti Murdiastuti

Melihat dunia, merenung, intropeksi maka engkau akan menemukan Tuhan-mu

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Penyukajalanjalan

Jelajahi dunia selagi bisa

santistory

.:santiari sanctuary:.