Malang

A Glance of Bromo Trip

Cuplikan perjalanan ke Bromo untuk kedua kalinya awal Mei ini 🙂

Bromo tidak pernah membosankan. Selalu cantik. Selalu menawan.

Categories: Malang, Video | Tags: , | Leave a comment

B for Batu and Bakso

Waktu yang tersisa di Malang, saya sebagian saya habiskan untuk istirahat. Cape nya gak ilang-ilang basian dari mulai mendaki ke kawah sampai trekking ke Laguna. Kerjaan di mobil juga molor, sampe penginapan juga molor. Rencana tinggal rencana. Yang tadinya mau ke air terjun Coban Rondo, Coban Pelangi, Ranu Pane dan teman-temannya seakan menguap dengan ikhlasnya. Saya dan teman-teman memilih gak ngoyo dan santai aja. Akhirnya pilihan jatuh ke Batu dan sedikit kuliner bakso Malang. hihihi.. sampe dikatain sama temen yang orang Malang ‘Lhaa jauh-jauh ke Malang, makannya Bakso?’ 😀

Batu Night Spectacular

Gak sengaja kesini. Iseng aja nanya ama Bapak supir tentang wisata apa yang bisa kita datengin di Batu dengan waktu menunjukan jam 21.30 malam (akibat tepar). Menurut si Bapak, ke Batu Night Spectacular (BNS) aja yang tutupnya jam 12 malam. Okelah kita meluncur, dari pada molor terus :p

Memasuki wilayah Batu, udara nya dingin kaya di puncak karena letaknya di kaki Gunung Panderman. Sesekali saya melihat ke kiri jalan ada pemandangan kota Malang dari atas. Mirip pemandangan kota Bandung atau Puncak. Saya selalu suka pemandangan kota di malam hari di lihat dari atas. Kaya ngeliat ribuan kunang-kunang lagi ngerubutin kaki. Romantis aja gitu kayanya. Tipikal orang melankolis yang kebanyakan nonton film drama banget ya? 😛

Dari jauh sudah terlihat kemeriahan BNS dengan lampion warna-warni. BNS ternyata terbilang tempat wisata baru di Batu. Mirip-mirip night market untuk rekreasi keluarga tetapi lebih rapi menurut saya. Seperti Dufan super mini yang diletakkan di Puncak atau Bogor. Ada berbagai macam wahana dari yang memacu adrenalin sampe yang ecek-ecek buat anak kecil. Waktu itu suasana ramai dan grrrrr, dingin! Meski Pak Supir udah bilang bawa jacket, saya tetep aja saltum pake dress sepaha T_T dan sukses diliatin orang-orang *mendadak jadi artis lokal.

Tiket masuk waktu itu sekitar 12.500 atau 15.000 ya, untuk bermain wahana diharuskan bayar lagi rata-rata 10.000 s/d 15.000 di setiap wahana. Saya tidak expect BNS serapi ini, saya pikir ya, cuma night market biasa kaya di jakarta-jakarta yang suka beredar di lahan-lahan kosong. Ternyata ini lebih modern. Wahana yang pertama saya coba itu mirip mirip kaya Tornado di Dufan. Bedanya ini berbentuk piringan, jadi kita semua duduk melingkar trus nanti diputer-puter dan dibalik-balik kaya Tornado. Hhhh tadinya takut. But for the sake of adrenalin dan tantangan, ya udahlah yaa… pas duduk saya lebih khawatir sama rok. Ini gimana cara pas piringannya dibalik, kaki di atas semua, lha rok saya piyeee? pada dapet rejeki liatin cd sayah dong? :p tapi untungnya kejepit sama pengaman ^ ^ *gak jadi amal* . Sampe sekarang, dendam sama orang depan saya yang pas naik bareng, ngetawain muka saya sampe nangis sambil nunjuk-nujuk saya sama temennya. Situ okeeeehhh? iye gue takut plus dingin tauk!!

Deg-deg..

Wahana-wahana lain cukup banyak dan terlihat seru. Ada Rumah Hantu, Cinema 4D, Sepeda Udara Tinggi, Trampolin, Drag race, Night Market, Food Court dan Lampion Garden. Sayang saya kedinginan ditambah sudah jam 11 malem perut belum keisi makanan, jadi mau gak mau harus pindah ke area food court. Di Food Court juga banyak pilihan, waktu itu kebetulan pas diselingi dengan pertunjukkan air mancur.

Penyesalan saya paling besar disini adalah GAK MASUK KE LAMPION GARDEN. Hiks.. karena setelah makan, ternyata sudah tutup 😥 . Boleh lah kalo ke Malang lagi kesini, cuma pengen foto-foto di lampion hehe..

Bakso Bakso dan Bakso

Katanya kalo ke Malang, wajib hukumnya makan Bakso Presiden yang untungnya letaknya gak jauh dari penginapan. Konon ini tempat makan bakso yang tertua di Kota Malang. Letaknya ada di jalan Batanghari 5, tepat di depan rel kereta api. iya! bener-bener di samping rel kereta yang masih aktif, jadi agak-agak gimana gitu kalo kereta pas lewat hehe.

Jangan tanya saya baksonya enak apa engga. Soalnya menurut saya, rasa itu tentang selera. Saya bilang enak, belum tentu yang lain merasakan hal yang sama kan? Kebetulan saya tipe badak kalau dalam hal makanan. Hanya ada kamus enak dan enak banget. ihihih.. Yang jelas di Bakso President ini, banyak banget foto-foto artis ber-frame-frame.. segitu terkenalnya kah? sepertinya iya, karena Bakso President ini ada dari tahun 1977.. saya dan teman-teman sampe dua kali kesini.. doyan ama laper suka beda tipis gitu yaaa 😀 , pas kedua kali ketemu Surya Saputra ama istrinya *sari berita penting 😀

Bakso nya Murmer, bakso uratnya nampol, siomay basahnya favorite saya dan (buat saya) enak! Pasti kesini lagi kalo ke Malang ^ ^

Bakso lain yang saya coba adalah Bakso Bakar. Sayang lupa dimana alamatnya, karena ngandelin si Bapak Supir aja.. sempet di kasih info sama temen yang orang Malang, tapi karena ternyata Bakso Bakar banyak, yang mana aja deh dicoba.

Kaya gimana bakso bakar? ya bakso di bakar *udah mulai kehabisan kata-kata hahaha , beneran cuma bakso di bakar di tusuk sate gitu. Trus nanti pas mau pesen, ditawarin pilihan, mau biasa, sedang atau pedas. setelah bakso di bakar, disiram kuah-kuah semacam campuran bumbu kecap, sambal, rasanya asam pedas manis. Lalu dimakan dengan kuah bakso dalam mangkuk yang berbeda.

Rasa, yah enak sih.. tapi nothing special, mungkin karena sebelumnya saya udah pernah eksperimen bakar-bakar bakso di rumah 😀

Terbesit niat melancong dadakan ke Malang. Cuma sekedar ngadem di Batu, kuliner, ah ya.. utang nyoba Paralayang di Batu!

Categories: Malang | Tags: | Leave a comment

Laguna Segara Anakan

Tadinya, gak begitu terlalu kepengen ke Sempu. Memang sih, diliat dari foto-foto hasil mbah google bagus-bagus.. tapii baca catper orang juga bagus-bagus capeknya. Sebagai traveler agak manja, berpikir keras mau ke Sempu atau engga? Kalo banyak pantai bagus yang bisa di dapat dengan mudah, kenapa harus susah-susah? *termangu* Tapi, saya dan teman-teman sepakat untuk ke Sempu. Hari Sabtu itu pun cuaca cerah ceria sentosa. Langit memberikan warna biru terbaiknya. Ah, tetiba saya jadi gak sabar ke Sempu dan trekking ke Laguna Segara Anakan. You know, who can resist the combination of clear blue sky and beach?

Untuk menuju Pulau Sempu, saya harus mencapai pantai Sendang Biru yang jaraknya dari kota Malang kurang lebih 3 jam (dengan gaya supir si Bapak santai ala penganten jawa baru pulang resepsi hehe). Sukaaa banget pemandangan menuju ke Sendang Biru karena letaknya ada di belakang bukit, jadi saya harus melewati pegunungan terlebih dahulu. Perjalanan menuju Sendang Biru, sejuk!

Saya sampai di Sendang Biru pukul 10.00 siang. Wow, di luar rencana, rencananya jam 09.30 paling tidak, sudah harus nyebrang ke Sempu. Saya cuma bisa berdoa, semoga dilancarkan trekking nya dan bisa kembali dari hutan sebelum jam 4 sore, karena kalo lewat dari jam itu, konon gelap dan harus bawa senter, hiiiii… . Terlihat oh-kamu-lebay-sekali-ini-cuma-treking-sejam-bukan-treking-ke-semeru ya? 😀 *salim dgn seluruh anak gunung*

Pantai Sendang Biru

Yuk! Menuju Sempu

Sampai di Sendang Biru, sudah banyak perahu-perahu untuk menyebrang ke Sempu. Info yang saya pegang, PP ke Sempu IDR 100.000 dan harus lapor ke Perhutani dengan biaya sukarela sekitar IDR 25.000an + biara Guide seharga IDR 100.000 (kalau untuk yang baru pertama kali ke Sempu). Alih-alih nyari kantor Perhutani, saya malah nyamperin segerombolan muda-mudi yang roman-roman nya mau ke Sempu juga. Dan.. horeee! bener mereka mau ke Sempu dan ke Laguna Segara Anakan juga. Hasil dari merujuk dan merayu, akhirnya rombongan saya sebanyak 4 orang diperbolehkan join. Jadi, saya hanya bayar perahu IDR 50.000 PP sempu dan mengeliminasi biaya guide dan perhutani. Ternyata mereka sudah sering sekali trekking ke Segara Anakan untuk mancing, sekedar bakar-bakar ikan untuk makan siang, atau berkemah.

Mendarat di Sempu

Ditingggalkan untuk dijemput kembali 😛

Siap Trekking!! fufufufuh..

15 menit pertama, muke masih happih! 😀

Dari Sendang Biru menuju sempu hanya menghabiskan sekitar 15 menit. Saya mulai trekking jam 10.30. Penyiksaan pun di mulai. 15 menit pertama terasa mudah, karena masih biasa aja medan nya. Lalu 45 menit kemudian sungguh penyiksaan T_T . Ini baru hutan rada berbukit looh, bukan gunung, gimana yang pada naik gunung yaaa? Medan trekking ke Laguna Segara Anakan ini, kadang datar, kadang naik-naik dengan selingan manjat akar-akar pohon atau masuk ke kolong akar pohon yang besar-besar. Rombongan yang kami ikuti terlihat semangat sekali karena sudah terbiasa. Sesekali dari mereka berhenti sebentar untuk minum dan ada juga yang terlihat ngos-ngosan :p . Saya? Ngos-ngosan polll.. lengkap dengan keringet mengucur ala mba-mba spg car wash. Pilihannya jalan terus atau berhenti dan nyasar di tengah hutan tropis mini ini. Damn! -_-

10 menit terakhir bener-bener penyiksaan. Sandal saya putus. saya ngedumel kepada akar dan pohon. Lalu pohon itu pun sekaan berbicara ” lah kamu lagian mbak nya, trekking tuh pake sendal gunung dong bukan sendal pantai..” *ngikik. Sebenernya emang gak punya sendal gunung dan males beli karena takutnya kepake cuma jarang-jarang aja. Dengan keyakinan sendal yang saya pake akan putus saya sudah siap dengan sendal cadangan hehe.

Akhirnya Laguna Segara Anakan pun mulai terlihat sedikit demi sedikit. Warna turquoise nya mengintip dari balik-balik pohon. Semakin mendekati, jalur trekking semakin menyempit dan gak jelas. Jalan tinggal setapak dan mengandalkan pegangan dengan akar-akar pohon T_T. Di jalan yang setapak itu, sempet-sempetnya muda-mudi duduk-duduk sambil minum bir sambil menatap laguna. Ada juga yang duduk duduk di tengah batang pohon yang menjuntai ke bibir pantai. Jadi kalo jatuh ya langsung ke Laguna. Sungguh asyik untuk mereka yang bernyali besar.

Keliataan laguna nya!! yayyy

Bermalam mingguan dengan ber-camping ria

Dan, penyiksaan itu pun terbayar lunas! Sah! Sah! eh, ini bukan lagi akad nikah yaa #heyaahh

Heaven!

Malu-malu ceritanya mau nyilem..

Berendam ^ ^

Di satu sisi lainnya dari Laguna

Laguna di tengah hutan tropis yang akhirnya menampakkan dirinya. Landai nya jauuuh.. sampai ke tengah masih cetek. Di bibir pantai banyak muda-mudi yang berkemah. Lengkap dengan settingan bakar-bakar ikan. Ah pengen! Tapi nanti pup nya dimana? sampah makanannya buang nya dimana? Mandi dimanaa? Nanti ada binatang buas yang turun dari hutan gaa? *mulai melebar lebay nya.

Saya langsung makan siang dengan lahap di bawah pohon di bibir pantai. Sungguh nikmat luar biasa dengan pemandangan Laguna yang cantik yang airnya memantulkan kilauan sinar matahari. Ya karena ga biasa trekking, jadi berasa kaya abis trekking selama 10 jam non stop hehe.. makan juga jadi lahap kaya abis bawa becak keliling jogja. Selanjutnya tentu saja sesi foto di berbagai tempat dan berbagai gaya. Saya juga mencoba naik lagi ke atas untuk mendapatkan view pantai, ternyata Laguna Segara Anakan ini langsung berbatasan dengan Samudra Hindia sejauh mata memandang. Lengkap dengan deburan ombak yang menyapa karang dengan liarnya. Indah!

Buih Ombaknya

View yang memanjakan mata 🙂

Samudra

Meski surga dunia, kalo disuruh ke Segara Anakan lagi, agak mikir juga ya. Kecuali kalo nanti ada jasa gendong hahahahahh!

Categories: Malang | Tags: | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.

Jalan Sendiri ke Jepang

Sekali-sekali jalan gak pakai Tour - freedom adventures

tindak tanduk arsitek

Indri Juwono's thinking words. Architecture is not just building, it's about rural, urban, and herself. Universe.

Anila Tavisha

Ambivert creature who loves to postpone her stories

dininulis

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Ahmad & HR.Thabrani)

alfsukatmo.wordpress.com/

A place where my soul rest

Wee Line

There's always an open door for them who wanna try

Esti Murdiastuti

Melihat dunia, merenung, intropeksi maka engkau akan menemukan Tuhan-mu

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Penyukajalanjalan

Jelajahi dunia selagi bisa

santistory

.:santiari sanctuary:.