Visa Application

Buat E-Passport Yuk!

Tahun lalu ada berita gembira dari Kedubes Jepang. Katanya kalau ke Jepang bisa bebas visa bagi warga Negara Indonesia per September 2014. Bener gak sih? Ternyata bener lho! Tapi, syaratnya si pemegang passport harus punya e-passport. Dalam arti lain, passportnya udah bukan yang biasa, tapi sudah diganti menjadi e-passport.

 

Apa sih e-passport itu?

Sejujurnya sih, kalau secara fisik passport elektronik (e-passport) sama aja kaya passport biasa. Hanya saja di cover depan pojok kanan ada tanda seperti kamera, nah konon itu adalah chip yang ditanamkan di passport. Chipnya tidak terlihat alias menyatu dengan cover passport, jadi apabila sudah punya e-passport, si pemilik harus lebih hati-hati nih hehe. Mungkin karena chip ini, biaya pembuatan e-passport pun lebih mahal dari passport biasa, biaya pembuatan bisa 2x lipatnya. Berdasarkan peraturan pemerintah, biaya yang dikenakan adalah sebesar 655.000 rupiah. Dari info yang saya baca, di dalam chip yang tertanam di passport elektronik, terdapat data-data pemilik passport seperti nomor unik passport, NIK, nama lengkap, nama lengkap ibu kandung, foto, nationality, kebangsaan dan data-data penting lainnya.

 

Caranya buat e-passport gimana?

Gampang banget!  Waktu itu saya buat di Imigrasi Jakarta Selatan (Warung Buncit). Sebelumnya, saya sudah pernah tulis sih insiden pembuatan perpanjangan passport saya disini. Tapi, untuk lebih berurutan, saya tulis lagi step-stepnya ya :

 

 1. Googling, googling, googling!

Saya suka heran, di jaman yang canggih kaya gini, kok masih ada aja orang yang gak cari info dulu sebelum melakukan sesuatu (dalam  hal ini, membuat passport). Karena kemarin, pas di imigrasi, banyak banget orang-orang yang gak bisa lanjut proses karena salah bawa data, kurang data asli dll. Sayang banget kan? Udah jauh-jauh dateng, antri pula, pas sampe gak bisa proses. Wasting time.

Sebelum mulai kumpulin data, bisa baca-baca lagi disini:

http://www.imigrasi.go.id/

2. Siapkan data-data

Siapkan data-data yang dibutuhkan, jangan sampai ada yang ketinggalan yah.. penting untuk diingat, beberapa data yang dibutuhkan HARUS DIBAWA aslinya lho. Kemarin kasihan banget, ada ibu-ibu sama anaknya cuma bawa fotokopian aja, jadi mereka pulang lagi. Data-data yang harus di bawa bisa lihat disini .

Data-data yang dibutuhkan adalah :

  1. KTP yang masih berlaku (ASLI harus dibawa + Fotocopy di A4, tidak usah dipotong seukuran KTP)
  2. Kartu Keluarga (ASLI harus dibawa + fotokopi)
  3. Akta Kelahiran/ Akta Perkawinan/ Buku Nikah / Ijazah/ Surat Baptis (ASLI harus dibawa + fotokopi)
  4. Passpor lama – Jika sudah memiliki passport/ mau perpanjang / mau ganti ke e-passport (ASLI harus dibawa + fotokopi)

Semua data-data yang di atas, fotokopiannya harus diurutkan berdasarkan urutan tersebut ya. Jadi disana sudah rapi J. Untuk file asli letakkan di urutan paling depan, karena pas masuk akan diminta untuk diperlihatkan ke petugas, jadi nanti gak ribet nyari-nyari lagi.

 

3. Datang ke Imigrasi terdekat

Sampai tulisan ini dibuat, registrasi untuk pembuatan e-passport tidak bisa via online. Jadi harus datang langsung ke Imigrasi. Sayang banget ya? Padahal pembuatan passport online itu cukup membantu lho, karena kita isi data via online, jadi sudah tidak perlu lagi isi formulir pas datang ke imigrasi. Antrian di Imigrasinya pun lebih sedikit dan lebih pendek.

Karena di Imigrasi Jak-Sel salah satu favorit dan paling banyak peminat, jadi sebaiknya harus datang pagi. What I mean with ‘Pagi’ is datang subuh hehehe. Serius! Kenapa? Soalnya, kuota pembuatan perhari untuk aplikasi manual (non online) hanya dibatasi 150 aja.

Percaya gak percaya, waktu itu saya datang jam 5 subuh. Sudah sampai di Imigrasi, kirain udah paling pagi, ternyata udah ada antrian 6 biji! Yasalam, pada dateng jam berapa ya? Lalu saya iseng nanya ke Ibu-ibu yang baru datang jam 7, dia dapet No.51. Nah lho! Stresss :D.

Pas datang, langsung liat ke lobbynya, walaupun belum buka (untuk ambil nomor antrian), biasanya sudah ada antrian siluman alias antrian map-map yang dijejerin di lantai sesuai dengan waktu kedatangan. Jadi langsung aja taro map di antrian paling belakang, jadi nanti kalau ada yang datang lagi, map mereka akan antri di belakang map kita. Duileh, segitunya banget ya? :p , waktu itu, Map saya di urutan ketujuh hehe..

 

4. Ikuti step-step di Imigrasi

  • Setelah (terpaksa) sabar menunggu, sekitar jam 7, petugas imigrasi akan memberikan briefing di Lobby, jadi mereka memberikan kesempatan bagi pengunjung yang antri untuk bertanya. Briefing aja setengah jam..udah kaya mau upacara 17an. Tapi salut sih dengan imigrasi Jakarta selatan, yang begitu terstruktur dan lebih sistematis. Bayangin aja, mereka harus memberikan briefing setiap hari ke para pengunjung. Beda banget dengan kondisi 5 tahun yang lalu.
  • Jam 7.30, para antrian akan dipersilahkan ke lantai 2. Salutnya lagi, kala itu semua pengunjung tertib dan jalan sesuai dengan urutan antrian siluman yang udah ada dari subuh hehe.
  • Sampai di lantai dua, sebelum diperbolehkan ambil nomor dan duduk di ruang tunggu, semua pengunjung akan diminta untuk berbaris dan menyiapkan dokumen asli untuk diperlihatkan ke petugas. Jadi, sekiranya ada yang ga bawa, pasti disuruh pulang. Males kan? Udah dari Subuh, eh disuruh pulang. Supaya gak ribet, siapkan dokumen asli di urutan paling depan.
  • Kalau sudah memenuhi syarat, akan dikasih nomor dan formulir. Pas ambil nomor, jangan lupa bilang ke petugas “Mas/Mba, saya minta formnya yang buat E-PASSPORT ya”. Supaya gak ketuker. Pada dasarnya, form sama aja, tapi yang untuk e-passport akan dicap “e-passport” dengan tinta merah di lembar depan.
  • Isi formulir. Kalau gak yakin dengan cara pengisiannya, jangan buru-buru diisi sendiri. Karena, dari jam 7.30 sampai jam 8.00, petugas akan memberikan briefing cara isi formulir. Jadi nanti akan ada acara “isi formulir berjamaah” hehehe. Salut juga sama bagian ini, soalnya jadi meminimalisasi kesalahan pengisian dan lebih efisien (petugas tidak memberikan jawaban yang berulang-ulang)
  • Sesudah isi form, nunggu dipanggil deh.
  • Pas dipanggil, foto, sidik jari, wawancara basa-basi.
  • Enaknya, bisa langsung bayar lho, melalui atm atau teller terdekat, atau bisa debit juga. Untuk e-passport, biayanya Rp.655.000,-
  • Enaknya kalau dapat nomor kecil, jam 9 atau 9.30 sudah bisa selesai, karena prosesnya cepet, antrinya yang lama. Mau gak antri lama? Googling aja, imigrasi mana yang agak sepi hehe.
  • Tinggal ambil passport deh. Untuk e-passport jadinya 3-5 hari kerja. Pengambilan passport setelah jam 12 siang. Jadi total datang ke imigrasi Cuma 2x.

Gampang banget kan 🙂

 

Terus beneran bebas visa gak ke jepang kalau udah e-passport?

BENERAAAN! Yaay.. jadi bisa bebas visa selama 3 tahun (per kedatangan diberikan durasi 15 hari).

Syaratnya cuma : jangan lupa register dulu di Japan Embassy sebelum pergi ke Jepang. Registrasi ini cuma sekali kok, jadi kalau udah ada sticker bebas visa, bulan depan mau ke Jepang lagi, gak usah register lagi, layaknya kita pergi ke Singapore atau ke Malaysia.

 

Registernya gimana?

Ini juga gampang, bisa baca disini

  1. Isi formulir yang bisa download disini
  2. Dateng jam 9 ke Japan Embassy di Thamrin (untuk wilayah Jakarta) dengan membawa e-passpor yang asli
  3. Ambil nomor
  4. Nunggu dipanggil
  5. Pas dipanggil, serahkan e-passport asli dan formulir yang sudah diisi
  6. Besok udah bisa diambil dengan sticker bebas visa yang mejeng di halaman e-passport.
  7. pengambilan setelah jam 12 siang. Tapi datang agak awal ya, biar cepet selesai, waktu itu saya datang jam 2, dapat nomor 251 T_T

Saya pun kemarin sumringah pas dari Embassy, H-3 mau ke Japan, sticker bebas visa udah mejeng di halaman e-passport.

Hello Again, Japan!!

Advertisements
Categories: Rambling thoughts, Visa Application | Tags: , , | 4 Comments

Bagaimana Mendapatkan Visa Jepang?

Aha!

Visa Jepang adalah visa pertama saya yang (lumayan) membuat deg-degan. Dulu waktu apply visa China gampang-gampang aja (gak usah pakai data macam-macam), apalagi apply visa Myanmar yang cuma negara ASEAN dan kayanya cuma formalitas aja. Visa Jepang ini agak bikin grogi, gara-gara waktu itu baca di blog ada yang visa Jepangnya ditolak.. huhuhu. Tapi saya selalu beli tiket dulu, mikirin visanya belakangan hihihi.. harus pede jaya dulu baru cemas kemudian 😀

Sebenarnya persyaratan visa jepang itu mudah dan sudah sangat jelas diinformasikan oleh pihak kedubes disini, persyaratannya adalah sebagai berikut:

Pembuatan Visa:

  • Permohonan Visa tidak bisa diterima, apabila seluruh persyaratan tidak dipenuhi / tidak lengkap.
  • Setelah permohonan diperiksa, apabila diperlukan dokumen lain sebagai tambahan, akan diminta kemudian. Kedubes Jepang sangat fair, biasanya mereka tidak serta merta menolak aplikasi visa kita. Apabila ada kekurangan dokumen, mereka akan menghubungi kita untuk klarifikasi dan meminta kita untuk melengkapinya. Ini sungguh fair buat saya, daripada pada saat ngambil passport, tiba-tiba visa ditolak karena gak jelas sebabnya.
  • Permohonan visa hanya akan diproses di Konsulat yang sesuai dengan wilayah yurisdiksi masing-masing. (klik di sini untuk melihat wilayah yurisdiksi) . Salah satu teman yang ikut ke Jepang sama saya adalah domisili papua, ternyata dia harus apply di Makasar. Jadi buat temen-temen yang tidak di jadebotabek, harap perhatikan wilaya yuridiksi untuk proses visanya yah..
  • Proses pembuatan visa : minimal 4 (empat) hari kerja

Jam Kerja untuk pengajuan Visa:

  • Pengajuan aplikasi visa, setiap hari kerja jam 08.30 s/d 12.00
  • Pengambilan visa, setiap hari kerja jam 13.30 s/d 15.00

Dokumen yang dibutuhkan untuk Visa Jepang:

  1. Paspor. expired min 6 bulan sebelum keberangkatan
  1. Formulir permohonan visa [download (PDF)] dan Pasfoto terbaru (ukuran 4,5 X 4,5 cm, diambil 6 bulan terakhir dan tanpa latar, bukan hasil editing, dan jelas/tidak buram)
  1. Foto kopi KTP
  1. Fotokopi Kartu Mahasiswa atau Surat Keterangan Belajar (hanya bila masih mahasiswa)

Tips:

Untuk No.4 saya ganti dengan Surat Keterangan Bekerja dari kantor, yang menerangkan bahwa saya karyawan di kantor X, dan akan melakukan perjalanan liburan ke Jepang. Sebenarnya tidak ada diharuskan melampirkan surat keterangan bekerja sih, tetapi tidak ada salahnya juga kan? Demi meyakinkan pihak kedubes :p

Kurang lebih contoh surat keterangan kerja untuk apply visa, seperti ini:

Dear Sir/Madam, 

We hereby certify that the named person as below:

Name                    : Oneng

Passport No.    : XXX

Is currently being employed by our company since June 2004 as xxxx with earning monthly salary IDR xxxx. The said employee will be going to Japan for holiday start from xxxx until xxxx.

All necessary expenses to be incurred during the trip will be borne by herself. We do guarantee that she will return to Indonesia and she will not seek any permanent job in your company.

It will be highly appreciate if you could grant the necessary visa for the above employee to enter your country.

Thank you in advance for your kind attention and good cooperation. 

Sincerely Yours,
xxxx

 

______________
xxxx

  1. Bukti pemesanan tiket (dokumen yang dapat membuktikan tanggal masuk-keluar Jepang). Disini saya juga melampirkan bukti pemesanan hotel di Agoda.
  1. Jadwal Perjalanan download (DOC) (semua kegiatan sejak masuk hingga keluar Jepang)

Tips:

Buatlah itinerary seringkas/simple mungkin yang disesuaikan dengan jumlah tabungan. Terutama jika tabungan pas-pasan, jangan buat itinerary yang tidak masuk akal. Memang min. jumlah tabungan tidak disebutkan dalam persyaratan visa, tetapi berpengaruh terhadap keputusan persetujuan visa.

Misalnya, untuk ke kurun waktu 7 hari di Jepang, tapi tabungan cuma 10 juta. Jangan buat itinerary dari Osaka – Tokyo – Nara – Kyoto – Yokohama. Pasti kedubes mikir, lha wong tabungan cuma 10 juta tapi mau ke ke banyak destinasi, sementara tiket shinkansen Osaka – Tokyo (return) saja bisa sekitar 3 juta. Belum lagi tiket-tiket masuk destinasi dan biaya makan + hotel, walaupun mungkin sebenarnya cukup-cukup saja.

Jadi gimana?

Jadi ya buat aja itinerary yang simple. Misalnya disekitar Kansai Area (Osaka – Kyoto) atau sekitar Tokyo dan masukkan saja beberapa list destinasi yang biaya masukknya free.

  1. Fotokopi dokumen yang bisa menunjukkan hubungan dengan pemohon, seperti kartu keluarga, akta lahir, dlsb. (Bila pemohon lebih dari satu). Disini saya inisiatif aja melampirkan akte kelahiran dan kartu keluarga :p
  1. Dokumen yang berkenaan dengan biaya perjalanan: Bila pihak Pemohon yang bertanggungjawab atas biaya * Fotokopi bukti keuangan, seperti rekening Koran atau buku tabungan 3 bulan terakhir (bila penanggung jawab biaya bukan pemohon seperti ayah/ibu, maka harus melampirkan dokumen yang dapat membuktikan hubungan dengan penanggung jawab biaya).

Tips:

Kedubes Japan memang tidak memberikan info min. jumlah tabungan, tetapi dari beberapa referensi yang saya baca, bisa juga disimulasikan seperti ini:

Misalnya contoh untuk 5 hari di Jepang ya

  • Biaya hidup di Jepang 1 hari : IDR1.000.000 x 5 hari : IDR 5,000,000
  • Tiket standar Jakarta – Jepang – Jakarta : IDR5,000,000 (contoh)
  • Biaya tak terduga : IDR2.000.000

Sehingga Total biaya IDR12.000.000, untuk lebih aman, minimal saldo IDR15.000.000

Tapi sekali lagi, ini hanya simulasi yah..saya baca-baca , saldo 10juta jg ada yang di approve, karena itinerary simple dan dokumen persyaratan lengkap.

Prosesnya juga nggak njelimet kok:

Dateng ke Kedubes yang di Thamrin (untuk wil Jakarta) –> ambil nomer antiran, nunggu dipangggil –>serahin dokumen –> dikasih tanda terima dan diminta dateng 4 atau 5 hari lagi (ditentuin tanggalnya ama pihak kedubes), dan bayarnya pas visa udah jadi (kalau ditolak, gak usah bayar, yeaayy!)

Gampang kan? dan Visa Japan pun sudah ditangan! Can’t wait ^ ^

Buat yang baru mau apply, semangat yaaa!

Categories: Japan, Visa Application | 7 Comments

Myanmar : Persiapan Rempong

Myanmar. Gak kebayang kalau saya beneran ke Negara ini. Dua tahun lalu, saya sempet kirim foto ke pacar, foto sunrise di Kota Bagan yang penuh dengan balon udara yang siap terbang. Responnya “Bagus ya, tapi Myanmar daerah konflik” . Akhirnya saya lupakan niat ke Negara ini. Sampai akhirnya, tahun ini (secara tidak terencana) terealisasi. I’m going to Myanmar! Yah nasip pelancong yang dompetnya baru mampu ke Negara-negara tetangga di Asia 🙂

Dan inilah rangkuman beberapa respon yang saya terima:

“Myanmar? Emang ada apa disana neng?” – seorang teman traveling

“Myanmar 5 hari? Apa gak kelamaan? Emang apa yang diliat?” – pacar

“Myanmar itu Laos kan nak?” – Mommy (yang juga gatel traveling tapi disorientasi gini)

“Myanmar? Aku mau ikutt!” – Teman kantor (yang mure kaya saya, kemana aja hayok)

“Myanmar mba? Sumpah aneh banget!”  — Junior di kantor.

Tapi yah, saya ini sungguh mure. Kemana aja hayok. Bagi saya traveling ya melihat dunia, sebuah mahakarya Sang Pencipta yang tidak saya kotak-kotakkan ke dalam Negara tertentu. Myanmar toh juga termasuk ke dalam dunia ciptaanNya yang terdapat spot-spot cantik, sekalipun destinasi ini aneh bagi sebagian orang dan tidak sepopuler negara-negara tetangga di Asia Tenggara. Selagi dompet lagi mempersiapkan untuk ke destinasi populer nun jauh di Eropa sana (yang entah kapan), apabila ada kesempatan ke ‘tetangga’ yang affordable, kenapa engga? So here it is. Saya dan dua orang teman wanita saya nekat, tanpa persiapan itinerary yang matang dan dengan budget ngepas pas pas banget! (ini warning deh: JANGAN PERGI DI TANGGAL TUA) hahaha

Balada Mata Uang

Saya sudah cerita sedikit ya, bagaimana persiapan yang rempong sebelum pergi ke Myanmar. Gimana gak rempong, ditengah tanggal sekarat belum gajian, di Myanmar ini hanya terima USD untuk ditukar ke mata uang kyat (mata uang lokal). Sebagian harga tiket masuk tujuan wisata pun ada yang memakai USD begitu juga dengan pembayaran hotel yang hanya nerima USD. Budget hotel + transport + makan dll pun bengkak, menjadi 2jt selama lima hari. Pffttt… kayanya di Beijing aja lima hari gak sampe segitu, hiks.. sebagai tambahan informasi, sewaktu kesana 1 kyat = 12 rupiah.

Gimana deh Booking hotelnya iniii?

Persiapan rempong kedua adalah kehebohan reservasi budget hostel di Kota Bagan yang mayoritas belum bisa booking via online/ internet. Bahkan via tlp pun gak ada yang angkat atau gak nyambung. Hadeeeeh… beruntung di Yangon, saya menginap di Motherland Inn 2 dan hotel tersebut sangat mudah proses reservasi nya. Sedangkan di Bagan, saya dan teman-teman cuma bisa pasrah dan berakhir dengan reservasi hotel yang (lumayan) mahal via Agoda.

Mr.Signal, i need you!

Rempong selanjutnya adalah ketika saya tahu disana beneran tidak bisa sms alias provider cellular di Indonesia tidak kerjasama dengan provider cellular di Myanmar. Kebayang gak gimana pusingnya ngabarin orang-orang rumah dan *ehem* pacar? Dan keadaaan ini diselamatkan dengan wifi (yang sangat jarang) dan internet di hostel yang perjamnya bayar 1000 kyatt. Inipun lambat macam siput. Duh, biasanya di hostel wifi gratis or di Vietnam malah internet via pc pun free.. inaang!

Visa Myanmar, d’oh!

Kerempongan lain adalah apply visa. Asia tenggara kok make apply visa segala? yes, mari ktia tanyakan pada rumput yang bergoyang. Ya begitulah adanya, walhasil saya dan teman bolak balik ke embassy Myanmar untuk apply visa. (saya sebut bolak-balik, karena ada insiden embassy tutup due to Union Day. Dan waktu itu saya gak ngecek, main dateng aja deh -_- ).  Syarat visa sih gampang, foto 4 x 6 (bawa cadangan aja yang 3 x 4), background tidak diharuskan warna tertentu. Isi form apply visa (bisa diisi di embassy). Sebelum itu, perhatikan apa warna biji mata anda (karena ditanya lho di form, hahahaha *ini ngikik2 waktu apply) dan tentukan warna kulit anda (karena juga ditanya di form *ngikik lagi* ) . Lalu, siapkan uang 200ribu yes, buat biaya visa. Jangan lupa surat keterangan kerja dari kantor. Kalo saya, karena anaknya parnoan, saya lampirkan bookingan tiket + hotel (duile mba, ini Myanmar deh bukan yurop :p) . Visa akan jadi 2 s/d 3 hari kerja. Gampang kok! bolak – balik nya aja yang jadi PR si 🙂

Belajar Backpack *literally

Last but not least, perjalanan kali ini adalah pertama kali saya menggunakan backpack 33 liter ala backpacker. Biasa bawa koper, kali ini backpack :D. Udah kebayang kerempongannya dari sewaktu packing. Let me tell you, saya ini orangnya letoy, lha sekarang backpack bagaimana ini caranya mamak? Dengan tidak ada pengalaman packing di backpack 33 liter, segala baju saya gulung-gulung dan masukin berdasarkan kriteria LIFO or last in first out. Wkwkwkwk sotoy!  Dengan kondisi tiket tanpa bagasi, pas check in, tas 33 liter ini udah 8.2 kg aja dong beratnya! Lhaa apakabar oleh-oleh nanti? Mau ditaro dimana neng? T_T , Belom lagi, baru sampe bandara, pundak udah pegel hiks.. manja banget deh ni wanita (yang kala itu lagi) pms 😦 . Lalu, baru tau dari temen kalau cara packing saya itu salah. Harusnya yang ringan ditaruh dibawah dan benda-benda yang lebih berat ditaruh di atas (area pundak). Roger that!

ransel

Ransel minjem temen. 33 Liter , yang warna orange. 😀

Categories: Myanmar, Visa Application | Tags: | 8 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.

Jalan Sendiri ke Jepang

Sekali-sekali jalan gak pakai Tour - freedom adventures

tindak tanduk arsitek

Indri Juwono's thinking words. Architecture is not just building, it's about rural, urban, and herself. Universe.

Anila Tavisha

Ambivert creature who loves to postpone her stories

dininulis

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Ahmad & HR.Thabrani)

alfsukatmo.wordpress.com/

A place where my soul rest

Wee Line

There's always an open door for them who wanna try

Esti Murdiastuti

Melihat dunia, merenung, intropeksi maka engkau akan menemukan Tuhan-mu

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Penyukajalanjalan

Jelajahi dunia selagi bisa

santistory

.:santiari sanctuary:.