2014 in review | Thank you visitors!

Dapet Annual Report dari WordPress untuk tahun 2014.

Thank you visitors!

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2014 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Sydney Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 34,000 times in 2014. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 13 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Categories: Uncategorized | Leave a comment

Pelukis Konte di Kota Tua

Tak banyak yang tahu tentang Pelukis serbuk konte.

Disini, di Kota Tua, Seniman Konte bersaing menjajakan karyanya.

 

Asap-asap mengepul dari bibir Bapak setengah baya itu. Tangannya sibuk menari-nari di atas kertas manila sambil sesekali mengepulkan asap rokok. Bapak itu tidak bergeming ketika saya dan teman saya datang sewaktu melihat-lihat lukisan. Kerut di dahi seakan menambah keseriusan yang terpancar di raut wajahnya. Dia adalah Pak Soben, seorang pelukis jalanan yang sehari-hari menjual karya di Kota Tua.

DSCN1459 edit

Pelukis Konte

 

Rasa penasaran terus menggelayut di benak saya. Akankah menjual karya cukup menghidupi kehidupan sehari-harinya? Sudah sejak tahun 2004 ketika Pak Soben mulai menjual karyanya di daerah Kota Tua. Sebelumnya, Pak Soben sudah mulai berjualan di daerah Pasarbaru. “Sekarang di Pasar Baru banyak pesaing neng, jadi jarang ada order juga” ucap Pak Soben sambil menyapu kuas di atas kertas manila. Sejak saat itu, Pak Soben mulai mencari cara bagaimana caranya agar bisa bertahan dan menghidupi istri dan kedua anaknya. Setelah pindah menjajakan karyanya ke Kota Tua, Pak Soben mulai memikirkan inovasi lain agar karya lukisannya tetap laku. Sampai akhirnya dia memutuskan untuk belajar melukis dengan serbuk Konte.

Serbuk Konte adalah serbuk warna yang bisa dipakai untuk melukis, dengan serbuk konte bisa menambah gradasi warna yang membuat lukisan sangat mirip dengan obyek aslinya. Harganya pun tidak mahal, dengan empat puluh ribu rupiah saja, sudah bisa mendapatkan satu tube serbuk untuk satu warna. Hal ini cukup menguntungkan bagi Pak Soben, karena satu lukisan tanpa frame dengan ukuran 20R yang dijual seharga tiga ratus lima puluh ribu rupiah untuk satu orang dalam lukisan, sedangkan untuk dua orang dijual seharga tujuh ratus ribu rupiah. Jika sedang ramai pesanan, Pak Soben bisa menjual dua buah lukisan dalam satu minggu. Jika sedang sepi, satu lukisan dalam rentang waktu dua minggupun Pak Soben sudah bersyukur. “Yah, beginilah neng. Disyukuri aja masih ada yang beli walau sedikit, tetapi ada saja yang memesan lukisan melalui whatsapp” seraya Pak Soben sambil tersenyum. Wah, ternyata gini-gini Pak Soben melek teknologi. Jika pembeli berniat memesan, tidak usah lagi repot-repot datang ke Kota Tua, bisa lewat whatsapp dan lukisan akan dikirim ke rumah.

DSCN1466 edit

gradasi yang tajam hasil dari serbuk konte

 

Lima belas menit sudah saya berbincang dengan Pak Soben yang ramah. Saya pun pamit kepada Pak Soben sambil bertukar nomor telefon. Sambil berlalu, terlintas di benak saya, bahwa Pak Soben sudah memberikan pelajaran berharga buat saya, bahwa kita harus terus berusaha dan jangan menyerah. Sesulit apapun dalam mencari nafkah, pasti ada jalan bagi mereka yang berusaha.

 

 

———–

Tulisan ini dibuat sewaktu mengikuti latihan pada Workshop Travel Writing & Photography dengan pembicara Teguh Sudarisman (Pengarang Buku Travel Writer Diaries). Pada workshop ini, peserta diminta untuk belajar meliput dan menuangkan hasil liputan dalam bentuk artikel dengan isi 3-4 paragraph. Peserta juga diminta menunjukkan hasil karya fotonya. Untuung saja, pada pembagian tugas dengan teman, disepakati saya yang nulis. Karena gak bisa motret banget :p

Workshopnya tentu saja berharga bagi saya yang awam menulis. Sebelumnya, menulis bagi saya adalah cara sharing dengan tata bahasa sehari-hari dan seadanya banget. Tidak terstruktur, tidak fokus dan kemana-mana. Setelah ikut workshop ini, paling tidak tau tata cara dan trik jadi travel writer yang sukses menampilkan karyanya di media massa *kok kaya iklan klinik tong fang ya

Rasa tidak pede masih ada dan teguh bertengger. Tapi, mudah-mudahan dengan ikutan ini, jadi lebih pede lagi nunjukin hasil tulisan ke teman-teman. Semangaaat!

 

Foto-fotonya hasil karya dari teman saya sewaktu workshop, Mbak Septimar .

Categories: Jakarta | Tags: | 4 Comments

Mencoba Onsen di Osaka, Siapa Takut?

Ini cerita ketinggalan hehe. Mau cerita dikit pengalaman Onsen-an di Jepang. Udah pada tau dong Onsen itu apa? Jujur saja, saya baru tau onsen itu apa pas baca di salah satu bukunya Trinity Traveler.  Waktu baca ceritanya, agak-agak bergidik sih..

Gak kebayang aja mandi/berendem bareng, naked pula! Walaupun sama-sama wanita, tapi kan risih ya.. jangankan berendem bareng, diperiksa dokter cewe di bagian-bagian tertentu aja itu kayaknya gimana gitu..

Tapi saya pikir lagi, tentu saja ini bakalan jadi pengalaman dan cerita yang tak akan terlupakan. Jadi saya putuskan akan mencoba Onsen di Jepang. Hihihi..

Beruntung banget, di Hotel tempat saya menginap (Dormy Inn Shinsaibashi) ternyata selain memberikan Udon gratis untuk sarapan dan makan malam, juga punya Onsen. Tentu saja gratis untuk tamu yang menginap di hotel ini. Malam pertama di Osaka, rasanya masih gak ada nyali buat nyobain Onsen. Masih gak rela gitu.. dan waktu itu juga yang kepikiran cuma satu: tidur.

Malam-malam berikutnya, nyali lama-lama terkumpul dan akhirnya membuahkan tekad bulat untuk mencoba Onsen. Waktu itu sudah jam 11 malam. Rasanya kaki mau copot dan sakit-sakit karena belum terbiasa memakai sepatu Ski, belum lagi sisa-sisa jalan kaki sampai gempor karena keliling-keliling di shopping area. Hampir saja saya batalkan niat untuk mencoba Onsen karena saya pikir, istirahat dan tidur lebih baik. Ah, tapi kapan lagi?

 Akhirnya saya melangkah gontai ke lantai atas. Tempat Onsen wanita dan laki-laki (tentu saja) dipisah. Suasana sunyi. Tidak ada orang berlalu lalang sama sekali. Hanya ada satu laki-laki berkimono di ruang tunggu di depan lift sedang membaca koran. Mukanya merah seperti kepiting rebus. Pasti dia habis Onsen-an. Karena kulit orang Jepang putih, maka berendam di air panas mungkin bisa memerahkan kulitnya.

Dia menangkap gerak-gerik saya sebagai turis yang kikuk. Mondar-mandir galau gak jelas di depan tempat onsen wanita. Deg-degan ceritanya, macam first date sama gebetan :D. Berbagai macam pikiran mulai berkeliaran di kepala saya, haduh, ini teh serius harus kudu naked?, terus kalau diliatin cewe-cewe jepang gimana? Terus terus, selama berendem itu ngapain? Sambil ngobrol? Sambil kikir-kikir kuku? Atau pura-pura cuek? Err..

Untuk masuk ruang Onsen, masing-masing tamu harus meminta pin di receptionist untuk masuk ke ruang onsen. Pin yang diterima antara wanita dan pria berbeda-beda. Jadi jika tidak memasukkan pin, pintu untuk masuk ke ruang onsen tidak akan terbuka. Kebayang dong, kalau pintu gak dikunci atau tidak pakai pin.. lagi asik-asik berendem, tiba-tiba tamu pria salah masuk. Zoong!!

 Setelah masuk ke ruang Onsen, jantung berdegup kencang. Hahaha.. ini serius, nyalinya mulai lari-larian entah kemana. Tapii.. ternyata..pas masuk ke ruangan lebih dalam lagi, ruangan KOSONG! Yihaaaaa!!!!

Ruangan Onsen cukup besar, terdiri dari, ruang ganti baju dan ada beberapa locker untuk menyimpan baju. Oh iya, saat ke ruang onsen ini, dari kamar saya sudah pakai baju ganti yang disediakan hotel dan bawa handuk. Di ruang ganti juga ada wastafel dan berbagai macam perlatan dandan, seperti bedak tabur, bedak badan, deodorant, lotion, sisir, hair dryer, parfume, dll. Ruangan lain adalah tempat berendam dan tempat mandi yang dijadikan satu. Letaknya saling berhadap-hadapan. Tempat mandinya jangan harap bilik berpintu. Cuma di sekat-sekat / dibatasi sekat kayu yang tingginya sepundak saya. Disitu ada dengklek (tempat duduk kecil, setinggi betis), sabun cair dan shampoo. Masing-masing bilik ada shower dan ember dari kayu untuk menampung air. Mandinya gimana? Ya telanjang ya sodara-sodara.. dan duduk di dengklek itu. Yasalam..

 Saya masih belum rela melepaskan pakaian dan naked di ruang itu, meskipun saat itu sedang tidak ada orang. Saya membaca beberapa peraturan di ruangan itu. Salah satunya adalah tidak boleh mengambil foto. Makanya.. tidak ada sama sekali foto ruang atau suasana onsen di tulisan ini hehehe.. lagian saya tidak membawa kamera maupun hp saat itu. Peraturan lainnya adalah, pengunjung diwajibkan mandi terlebih dahulu sebelum berendam, sehingga di saat berendam, badan dalam keadaan bersih. Kemudian, pengunjung bertato dilarang berendam. Lalu, setelah mandi, pengunjung baru diperbolehkan berendam dan tidak boleh sehelai pakaianpun menempel di badan saat berendam alias.. Naked ya. Wajib itu! Huhuhu.. Katanya sih, kalau pakai pakaian kan takut pakaiannya kotor atau ada kuman atau ada debu (info yang saya baca ya).

 Lagi asik membaca peraturan, tiba-tiba terdengar pintu terbuka dan datanglah seorang pengunjung mbak-mbak kantoran. Nyali ini yang tadinya lari-larian, tambah kabur-kaburan.. gimana dong inih? Kabur aja apaa?

Tapi saya kemudian sok-sok ganti baju dan saya ganti dengan handuk dililit-lilit tapi adegan slow motion. Maksudnya, biar si mbak duluan aja gitu..

Mbak itu pun buka baju dengan sangat cepat, disimpan di locker, kemudian dia telenji sambil jalan santai ala pragawati ke tempat mandi. Whaaatt?  Terus si mbak cuma nenteng handuk kecil (yang suka dibawa orang buat lari atau naik sepeda itu lho) yang kemudian handuk kecil itu ditaro di sekat bilik.  Sementara ini saya masih handukan dililit-lilit di badan, handuknya besar pula, handuk buat mandi.. dududu.. saltum sopan inih!

Kenapa harus telenji dari kamar ganti? Kenapa gak telenjinya di tempat pas mau mandi ajaaa? Glek!

Saya tetep keukeuh masih pake handuk dan lari-lari kecil ke tempat mandi, sempet ngelewatin si mbak yang lagi mandi di bilik pertama, karena kan ga ada pintunya ya.., jadi semacam tengok-lah-ke-arah-saya-yang-lagi-mandi-tidak papa kok, terus saya nengok lah.. hihi.. si mbak lagi mandi ngadep tembok dan duduk di dengklek sambil keramas. Ooo.. cara mandinya gitu. Ya terus saya ikutin deh, dengan terpaksa lepas handuk segede gaban yang bikin saltum sekaligus penyelamat saya dan duduk manis ala kembang desa malu-malu mandi di kali.

 Terus si mbak berjalan telenji ala catwalk ke tempat berendam.. hadudu.. bergidik bulu kuduk kuh, karena tampaknya saya harus melakukan hal yang sama. Masa mau mandi sampe keriput? Tapi harus banget ya telenji jalannya, kenapa ga ditutupin handuk dulu terus pas mau berendam baru dilepas handuknya? Kenapaa hai kenapaa?

 Beberapa menit kemudian saya menyusul si mbak T_T, lari-lari kecil masuk ke tempat berendam dan handuk saya letakkan di pinggir termpat berendam. Pas masuk.. aahh.. enaaak sedap nikmat! Air panasnya kaya mijat-mijat badan dan kaki yang pegel-pegel. Saya ngintip si mbak, ternyata dia duduk manis sambil memejamkan mata. Saya pun lantas menikmati menit-menit saya pas berendam ini. Saya lupakan ke-kikuk-an saya berendam bareng-bareng si mbak. Mata saya pejamkan dan kepala saya sandarkan di pinggiran tempat berendam dibuat seperti bebatuan di pinggir kali. Rasanya pengen tidur, rasa letih jadi seakan hilang pas berendam.

Setelah selesai, biasanya pengunjung hotel menikmati udon gratis di hotel ini. Pas banget kan, habis berendam air panas, makan makanan panas yang nikmat. Sayang sekali, waktu itu mata sudah susah di buka. Saya pun langsung tidur pulas banget malam itu.

 Hayo, pada berani mencoba? ^__^

Categories: Japan | Tags: , | 10 Comments

Create a free website or blog at WordPress.com.

Jalan Sendiri ke Jepang

Sekali-sekali jalan gak pakai Tour - freedom adventures

tindak tanduk arsitek

Indri Juwono's thinking words. Architecture is not just building, it's about rural, urban, and herself. Universe.

Anila Tavisha

Ambivert creature who loves to postpone her stories

dininulis

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Ahmad & HR.Thabrani)

alfsukatmo.wordpress.com/

A place where my soul rest

Wee Line

There's always an open door for them who wanna try

Esti Murdiastuti

Melihat dunia, merenung, intropeksi maka engkau akan menemukan Tuhan-mu

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Penyukajalanjalan

Jelajahi dunia selagi bisa

santistory

.:santiari sanctuary:.