Monthly Archives: April 2013

Yangon: Kota Pagoda Emas

Botataung Pagoda

Di Yangon ada beberapa Pagoda emas yang mirip-mirip bentuknya, alasan ini juga yang membuat saya dan teman-teman memutuskan untuk mendatangi beberapa saja. Dari hostel untuk mencapai Botataung saya berjalan kaki, karena menurut informasi dari petugas Hostel Motherland Inn 2, Botataung sangat dekat dengan hotel, bisa dicapai dengan 10 menit saja. Matahari waktu itu terik bukan main, dan membuat saya menjadi turis yang malas (malas jalan kaki, malas kemana-mana, malas keringetan :D). Jarak tempuh 10 menit pun terasa seperti setengah jam, gatel rasanya pengen naik taksi-taksi itu meski butut-butut sekalipun.

Pucuk emas pagoda pun mulai terlihat. Saya mempercepat langkah kaki menuju pintu masuk Pagoda Botataung. Di depan area pintu masuk pagoda, terdapat banyak orang berjualan, mirip seperti pasar. Waktu itu, saya sadar sih, kalau harus membeli tiket masuk, tapi ceritanya lagi belagak o’on aja langsung masuk dengan muka lempeng dengan bernyali pd-bajaj. Soalnya dari kemarin saya dan teman-teman disangka penduduk local :D. Apa daya, keberuntungan belum berpihak. Tiba-tiba yang jaga loket manggil-manggil tandanya kita harus bayar tiket masuk *sigh . Tiket masuk bisa dibayar pakai USD atau kyat, yah around $2. Biasanya, mereka dengan bablasnya meng-kurs kan $1 = 1.000 kyatt. Padahal mungkin cuma 850kyatt atau 900 kyatt paling mahal. Oh iya, perlu dicatat, bahwa setiap memasuki pagoda baik di Bagan maupun di Yangon, mengharuskan kita melepas sandal. Jadi kebayang dong gimana dekilnya kaki saya waktu di Bagan? Dan gak usah repot-repot cuci kaki karena pasti akan kotor lagi.

???????????????????????????????

Mari masuk, bayar tiket dulu ya πŸ˜›

82

Goldish

???????????????????????????????

Silau juga ya do’a di tempat gini..

???????????????????????????????

Melempar uang ke dalam ruangan tempat Hair relic Buddha

???????????????????????????????

Melempar uang

Botataung Pagoda ini sangat terkenal karena disini terdapat hair relic dari Buddha. Sewaktu memasuki Pagoda emas ini, semua terlihat shining. Warna emas mendominasi dekorasi dan hiasan-hiasan yang ada dalam Pagoda. Terlebih ketika memasuki bangunan utama dimana teredapat hair relic Buddha, yang menurut saya lebih mirip seperti sangkar emas yang mewah (karena ruangannya yang kecil). Orang-orang berlomba melemparkan uang ke dalam ruangan sempit yang berwarna emas, tempat rambut Buddha bersemayam. Orang-orang dengan khusyuk nya berdoa di depan hair relic tersebut. Saya dan teman pun tak luput dari khidmatnya kegiatan berdoa tersebut. Karena ada seorang ibu menyuruh saya (sambil memberikan melati dan menaruhnya di ujung tangan saya) juga ikut berdoa. Mungkin karena disangka orang local (lagi) ? Saya pun dan teman pura-pura berdoa, sambil ngintip-ngintip rambut Buddha, penasaran eperti apa rambut Buddha itu. Ternyata ya seperti rambut. *ya menurut ngana mbaa? . Kemudian saya takjub melihat orang-orang girang yang ketika melempar uang, uang tersebut jatuh ke piring di area yang paling dekat dengan hair relic Buddha. Mungkin ini layaknya seperti umat islam yang berhasil mencium hajar aswad ketika menunaikan haji. Dalam Botataung Pagoda ini terdapat beberapa bagian. Saya sempet ngadem di salah satu bangunan yang di dalamnya terdapat orang-orang yang sedang menyembah di depan patung Buddha yang besar. Samar-samar terdengar dari pengeras suara, gumaman-gumaman orang yang doa. Angin semilir membuat saya ngantuk.

???????????????????????????????

Waktu disini, tempatnya teduh, kaya masjid πŸ™‚

79

Do’a di bawah terik

Satu yang saya salut, sepanas apapun hari itu, seterik-teriknya matahari, orang-orang tetap khusyuk berdoa di halaman Botataung Pagoda (tanpa atap, bukan di dalam bangunan). Mereka duduk, menatap Pagoda dengan khidmat, menelungkupkan tangan di depan muka kemudian dengan mata terpejam mereka menitikkan air mata dan bersujud.

Bogyoke Market

Belanjaaaa!! Ini yang paling saya tunggu-tunggu banget. Setelah capek tidur di bus selama 10 jam x 2 dan temple hopping dengan debu-debu intan, saya ngarep banget kalau belanja di Bogyoke bakal menghibur. Waktu itu dengan hebohnya nuker pundi-pundi U$ ke kyat, karena ainul yakin, pasti bakal belanja printilan seenak jidat. Dengan langkah riang, saya menuju Bogyoke market yang terletak di tengah perkotaan. Sepesisir market sudah berjejer pedagang kaki lima yang ramai menawarkan dagangannya. Mulai dari mug dengan gambar tokoh-tokoh terkenal, kaos-kaos, topi (yang saya beli juga :p) sampai cemilan warga Yangon.

???????????????????????????????

Bogyoke. kurang heboh :/

86

Kebanyakan accessories wanita : giok and gold

Bogyoke market ini ternyata gak luas-luas amat dan gak seheboh yang saya harapkan. Barang-barangnya si masih lucu di Vietnam atau Cambodia. Kebanyakan menjual imitasi giok dan batu-batu berharga lainnya. Model-model baju? Jangan ditanya! Sungguh bermodel jadul. Pokoknya ala emak-emak dan mbak-mbak you-know-what-i-mean. Nah! Sekarang saya tau kenapa gadis-gadis yang saya lihat di video klip sewaktu perjalanan ke Bagan berdandan norce! Lha wong yang dijual di pasarnya aja kaya bgonoh.. -_-

Niat belanja barbarian pun gagal. Dengan semangat penasaran dan keukeuh harus belanja banyak, saya dan teman-teman pun coba-lagi-award mengitari kembali pasar tersebut dan berakhir dengan (tetap) tidak mendapat barang-barang lucu. Sebagai pelampiasan, saya membeli benda wajib kalau traveling yaitu tempelan kulkas, kaos dan gelang-gelang imitasi giok yang lumayan lucu-lucu buat oleh-oleh. Eh tapi, menurut saya, koleksi accessories nya lumayan lah. Malah saya dapat beberapa komponen accessories yang gak ada di Jakarta. Eh tapi, ini kembali ke selera ya..

Kemudian, inilah bagian yang paling menarik di Bogyoke Market. Ada satu area d luar gedung, tepatnya di tengah-tengah antara bangunan gedung pertama dan kedua, terdapat jejeran orang-orang yang duduk di kursi-kursi seperti dengklek (kursi pendek semata kaki). Jumlahnya sangat banyak. Tadinya saya pikir, mereka sekedar duduk-duduk saya sambil menikmati Myanmar Tea, mengunyah sirih dan bermain kartu. Ternyata setelah saya perhatikan, mereka (seperti) bertransaksi perhiasan semacam batu giok. Saya sempat dibuat keheranan dengan aktivitas mereka, karena mereka bertransaksi batu perhiasan layaknya membanggakan anak. Batu itu digosok-gosok, diperlihatkan ke temannya dengan bangga, lalu mereka tertawa dan ngobrol ngalor ngidul. Pernah liat ibu-ibu arisan lalu saling berjualan? Nah seperti itu. Uniknya, sekelompok orang-orang ini semuanya adalah lelaki! πŸ˜€ , pada beberapa kelompok malah tidak bertransaksi, hanya saling pamer perhiasan masing-masing, sambil menggosok-gosok batu perhiasan tersebut. Aneh!

???????????????????????????????

transaksi perhiasan

Kejadian lucu lainnya, saat itu saya dan dua orang teman saya yang lain berasa seperti artis. Gimana enggak, kami adalah satu-satu nya (well, mungkin setelah kami, ada dua orang bule yang ikut duduk-duduk) turis yang bergabung di kerumunan warga lokal menikmati datangnya sore. Karena Yangon masih gagap pariwisata, mereka masih memandang aneh turis. Aneh dalam segi positif lho ya. Seperti antusias memerhatikan kita dengan jeli dari atas sampai bawah. Menatap lama kita dan kemudian seperti berfikir keras. Sempet sih kita takut, tapi ah, mereka toh sangat ramah. Mereka hanya penasaran dan belum terbiasa dengan turis-turis mancanegara. Mungkin mereka fikir, perawakan saya dan teman-teman yang seperti warga local tetapi tidak berdandan selayaknya warga Yangon.

Kejadian ini, bener-bener pengalaman yang gak pernah akan pernah saya lupakan πŸ™‚ .

Sule Pagoda

Niatnya sih masuk. Tapi badan gak bisa dibohongin. Cape dan (agak) bosen liat yang emas-emas. Ditambah lagi, hari terakhir saya masih harus ke Shwedagon yang terkenal. Bakalan lebih besar dan lebih shining pastinya. Akhirnya, setelah melihat Sule dari kejauhan, saya dan teman-teman cuma bisa saling menatap. Tandanya kami sehati. Bosan kalau sampai harus masuk ke dalam. Beruntung satu teman saya, Citra, harus ke gereja di dekat Sule pagoda. Jadilah sambil nunggu Citra selesai, saya dan Gina santai-santai ala anak ilang dan menikmati sore dengan duduk-duduk di depan taman Mahabandola dan foto-foto sekitar city hall. Gak lupa saya beli jagung dan memakannya ala orang Myanmar. Setelah bosan duduk-duduk, saya berjalan-jalan di sekitar Sule Pagoda sembari foto-foto gedung – gedung sekitar. Senja pun mulai menampakkan keceriaannya membuka malam. Walaupun tidak masuk ke dalam Sule Pagoda, saya senang karena dari luar pun bisa melihat Sule berhiasi senja. Ah.. selamat sore Yangon.

???????????????????????????????

Konon bernama City Hall nya Yangon

???????????????????????????????

Sudut kota dan merpati

???????????????????????????????

Mahabandola Park.

???????????????????????????????

Jingga senja mulai mengintip (view Sule Pagoda from Mahabandola Park)

???????????????????????????????

Senja dan Sule Pagoda.

Malam pun datang. Saya dan teman-teman sudah kehabisan tenaga layaknya manula yang berpergian berbulan-bulan. Akhirnya kami putuskan untuk menuju tempat makan halal (india) referensi lonely planet. Dan tak terasa, tinggal besok atau tinggal sehari lagi waktu yang tersisa di Yangon. Sembari tepar, kami pun mempersiapkan tenaga demi bisa keliling kota dengan circular train besok.

Categories: Myanmar | Tags: | 4 Comments

Blog at WordPress.com.

Jalan Sendiri ke Jepang

Sekali-sekali jalan gak pakai Tour - freedom adventures

tindak tanduk arsitek

Indri Juwono's thinking words. Architecture is not just building, it's about rural, urban, and herself. Universe.

Anila Tavisha

Ambivert creature who loves to postpone her stories

dininulis

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Ahmad & HR.Thabrani)

alfsukatmo.wordpress.com/

A place where my soul rest

Wee Line

There's always an open door for them who wanna try

Esti Murdiastuti

Melihat dunia, merenung, intropeksi maka engkau akan menemukan Tuhan-mu

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Penyukajalanjalan

Jelajahi dunia selagi bisa

santistory

.:santiari sanctuary:.