Monthly Archives: December 2013

Shwedagon : Pagoda yang Kemilau

Maafkan atas kemalasan tiada tara menulis lanjutan catper Myanmar. Huuhuhu.. Jadi keburu lupa deh. Ternyata jadi penulis yang konsisten itu susah-susah gampang, gampang-gampang susah ya *nelen pil gibolan

Ya baiklah, berikut sisa-sisa cerita foto yang saya punya untuk Shwedagon Pagoda. Waktu itu, untuk menuju Shwedagon, saya dan teman-teman memutuskan untuk berjalan kaki saja dari Kandawgyi, karena kuncup Shwedagon sudah terlihat dari area Kandawgyi, maka saya dan teman-teman berasumsi, jarak keduanya tidaklah jauh. Berbekal tanpa peta dan keyakinan akan sampai ke Shwedagon sebelum sunset, saya pun jalan dengan semangat taun 90an (kala saya masih muda belia). Ternyata.. ternyata lumayeennn jauh deh booook kalau jalan. Rrrr.. waktu itu sempat melewati komplek perumahan yang membuat saya merasakan seperti komplek di rumah mbah hehe, suasananya gak beda jauh dengan Jakarta. Mungkin sekitar 20 menit (pakai nyasar dan tanya sana-sini), saya pun sampai di Shwedagon.

Mengejar sunset

Mengejar sunset

Shwedagon Gate

Shwedagon Gate

Penjual souvenir di dalam pintu masuk Pagoda

Penjual souvenir di dalam pintu masuk Pagoda

Ramai!

Ramai!

Salah satu bangunan kecil yang banyak terdapat di area Shwedagon

Berdoa

Berdoa

Sunset sudah mulai menyambut kedatangan saya di Shwedagon. Dan saya tertegun. Memang sungguh berkilau, besar dan ramainya puunn.. ramai banget! Ternyata semua yang datang mempunyai pikiran yang sama, ingin melihat kilau Shwedagon di malam hari. Banyak turis-turis bule sudah siap dengan kamera masing-masing.

Saya mencoba mengelilingin Shwedagon meski tidak sampai habis (karena ramai dan sudah keburu capek), in the end, saya dan teman-teman hanya duduk termangu di depan bangunan Shwedagon, menikmati sunset bertemu malam, sambil melihat penduduk lokal khusyuk berdoa.

Lilin-lilin kecil sudah berbaris di semenanjung bangunan utama. Sayang sekali keadaan sangat ramai, sehingga lilin-lilin tersebut seakan berdiri sia-sia. Namun, keramaian tak mengurangi kekhusyukan dari doa-doa yang dipanjatkan oleh penduduk lokal. Beberapa tetap khusyuk dan bersujud ditengah keramaian, ditengah-tengah turis yang sibuk mengambil gambar, ditengah-tengah turis yang sibuk bergaya.

Berebut kekhusyukan

Berebut kekhusyukan

Pray

Pray

Reclining Budha

I say a little prayer

candles

The famous  Shwedagon at night

The famous Shwedagon at night

shining light

shining light

Glow in the dark

Glow in the dark

Maafkan kami, turis-turis yang mementingkan foto berupa kenang-kenangan 😦 semoga kekhusyukan doa-doa para pemanjat doa tidak akan pernah hilang sekalipun keramaian menghantui Shwedagon di tahun-tahun mendatang.

Advertisements
Categories: Myanmar | Tags: | Leave a comment

Create a free website or blog at WordPress.com.

Jalan Sendiri ke Jepang

Sekali-sekali jalan gak pakai Tour - freedom adventures

tindak tanduk arsitek

Indri Juwono's thinking words. Architecture is not just building, it's about rural, urban, and herself. Universe.

Anila Tavisha

Ambivert creature who loves to postpone her stories

dininulis

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Ahmad & HR.Thabrani)

alfsukatmo.wordpress.com/

A place where my soul rest

Wee Line

There's always an open door for them who wanna try

Esti Murdiastuti

Melihat dunia, merenung, intropeksi maka engkau akan menemukan Tuhan-mu

The Science of Life

Traveling, Travel Photography, Postcrossing, Love Aceh and Indonesia so much, Culinary, and Living my Life

Penyukajalanjalan

Jelajahi dunia selagi bisa

santistory

.:santiari sanctuary:.